iMusic – Menyambut tahun ke-29 sejak terbentuknya di tahun 1994, BASE JAM merilis karya terbaru berjudul, Cinta Tak Berubah. Dalam menjalani kehidupan bermusik sekian tahun, termasuk didalamnya beberapa perubahan komposisi personil, ada satu semangat yang dirasa tidak pernah berubah. BASE JAM akan selalu menjadi ‘rumah’ bagi siapapun. Para personil, tim produksi termasuk para Base Jam Friends.
Para personil BASE JAM saat ini, yaitu Alvin dan Sigit pada vokal, Aris dan Oni pada gitar, Sita pada bass dan Alsa pada drum, ingin mempersembahkan karya original ciptaan Alvin dan aransemen oleh semua personil, dibantu vocal director Dody Isnaini pada proses rekaman berjudul CINTA TAK BERUBAH untuk dinikmati dan diresapi oleh para Base Jam Friends yang sudah setia hadir sejak awal.
Juga menyampaikan pesan bahwa diluar semua perubahan yang terlihat, cinta BASE JAM terhadap musik dan pendengarnya akan selalu hadir, akan selalu tercipta dan dijaga. Oleh karena itu, judul lagu yang dirilis tanggal 15 Januari 2023 – tepat di tahun ke-29 Base Jam terbentuk – sangatlah menggambarkan hal itu. Cinta Tak Berubah.
“Dari sejak semula, kusudah cintaimu. Ku ingin kamu tak sekedar temanku”.
“Potongan lirik ini bisa berarti dalam konteks romantis yaitu cinta pada pandangan pertama kepada calon pasangan. Namun kami juga ingin mengartikannya sebagai sejak semula pendengar base jam tidak hanya pendengar, namun teman dekat, teman terbaik dan teman setia yang terus mendukung kami hingga kami bisa berjalan menuju 30tahun”, ujar Aris.
Pesan lebih luas yang ingin disampaikan melalui lagu CINTA TAK BERUBAH ini adalah tema cinta yang sering kita dengar di sekeliling kita. Bahwa kadang cinta itu tidak harus memiliki. Kadang cinta itu tidak terlihat, tidak terasa bahkan tidak sempat terucapkan. Sehingga semua rasa cinta itu hanya menjadi kenangan di dalam diri sendiri.
“Dan sampai detik ini, kutetap cintaimu, meskipun kamu tak pernah tahu”.
“Lirik ini mengalir begitu saja. Apakah ada cerita nyata di kehidupan saya atau tidak ketika saya menciptakan lagu ini, itu tidak terlalu penting. yang penting adalah, kami sering mendengar pengalaman teman-teman disekitar kita bahwa cerita cinta mereka tidak selalu berakhir bahagia”, ujar Alvin sebagai pencipta lagu dan lirik.
Dengan pesan yang ada, aransemen musik yang dihadirkan pun dimaksudkan untuk membantu menyampaikan rasa cinta yang tidak berbalas. Bahkan kata pertama di lagu ini hadir sendiri – tanpa diiringi alat musik.
“Ketika kami membaca liriknya, mendengar aransemen dasar lagu ini, kami sudah membayangkan kemana arah aransemen lengkapnya. Diawali dengan nuansa syahdu dan kemudian diakhiri dengan nuansa penuh cinta, optimisme bahwa bahkan ketika cinta tidak berakhir bahagia, kita sudah beruntung bisa merasakan rasa cinta yang besar terhadap seseorang”, ujar Alsa dan Oni.
“Besar harapan kami single CINTA TAK BERUBAH ini akan mengawali tahun 2023 dan perjalanan menuju 30tahun BASE JAM dengan awal yang baik, optimis dan membuka perkenalan dengan para pendengar baru BASE JAM, BASE JAM FRIENDS yang baru kami akan temui di tahun ini”, tutup Sigit.
Single baru BASE JAM, CINTA TAK BERUBAH sudah dapat dinikmati semua Digital Music Platform dan video liriknya dapat ditonton di kanal Youtube BaseJam Official. (FE)
iMusic.id – Lama menjalani karirnya dengan tampil dan rilis single demi single setelah album ketiga, Beeswax kembali dengan sebuah album yang merangkum perjalanan panjang mereka melalui album penuh self titled Beeswax. Trio emotif yang terdiri dari Bagas Yudhiswa (vokal/gitar), Putra Vibrananda (vokal/bass), dan R. Yanuar Ade Laksono (drum) ini menghadirkan sebuah rilisan yang tidak sekadar nostalgia, melainkan juga refleksi mendalam atas evolusi musikal dan personal mereka yang hadir pada 10 April 2026.
Sebagai salah satu pionir dalam skena midwest emo di Indonesia, khususnya Jawa Timur, Beeswax telah menempuh perjalanan panjang yang kini memasuki tahun ke-12. Di mana usia 12 tahun ini sebuah proses yang tidak singkat dan dipenuhi dinamika, tantangan, serta berbagai pembaruan hingga membentuk reputasi mereka hari ini.
Berawal sebagai proyek one-man band pada 2014, Beeswax kemudian berkembang menjadi kuartet di album kedua sampai album ketiga sebelum menjadi trio seperti sekarang, dengan identitas musikal yang sejak awal kuat dipengaruhi gelombang Midwest emo era 90-an dan emo revival global di era 2010an. Melalui album Beeswax ini, Beeswax tidak hanya menghadirkan karya terbaru, tetapi juga merayakan sekaligus mensyukuri perjalanan tersebut sebagai penanda penting atas evolusi musikal dan personal mereka yang kini hadir dengan kedewasaan baru.
Album self-titled ini menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini. Beeswax meninjau kembali dua rilisan awal mereka yaitu EP First Step dan LP Growing Up Late yang ditulis saat mereka masih berada di usia 20-an. Kini, 16 lagu dalam album ini diaransemen ulang untuk merepresentasikan perkembangan selera, pengalaman, dan kedalaman emosional yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
“Album Beeswax ini kami hadirkan untuk mengingatkan kembali pada kami terutama kenapa dan bagaimana Beeswax lahir, di mana nggak terasa kami sudah berjalan 12 tahun,” ujar Bagas.
Rangkaian perilisan dimulai dengan single “The Bridge Of The Emptyness” pada Februari 2026, diikuti oleh “Take Me Home” pada Maret 2026 yang dirilis bertepatan dengan perayaan Idulfitri. Puncaknya, Beeswax merilis fokus track “The Most Pathetic One On Planet” pada 10 April 2026 bersamaan dengan peluncuran album secara keseluruhan.
Di lagu “The Most Pathetic One On Planet” Beeswax menghadirkan kolaborasi spesial bersama Alditsa Decca Nugraha alias Dochi Sadega, sosok yang dikenal luas melalui Pee Wee Gaskins. Kolaborasi ini lahir dari hubungan panjang yang telah terjalin serta kesamaan ketertarikan terhadap musik emo/Midwest emo. Bagi Beeswax, Dochi merupakan figur yang rendah hati dan memiliki kedekatan emosional dengan genre yang mereka usung, sehingga kehadirannya terasa organik dalam lagu ini.
Proses rekaman album berlangsung selama 3 bulan, menjadi ruang eksplorasi ulang terhadap materi lama dengan perspektif yang lebih jujur dan matang. Proses produksi sepenuhnya dikerjakan secara mandiri oleh para personel. Bagas Yudhiswa Putera, Putra Vibrananda Abrianto, dan Yanuar Ade Laksono terlibat sebagai penulis, komposer, sekaligus produser dan arranger. Bagas juga menangani proses mixing dan mastering. Proses rekaman drum dan vokal dilakukan di Studio Pelikan dan Rotary, Surabaya. Untuk perekaman backing vocal berlangsung di Creatorix Studio, Malang. Proyek ini didukung juga oleh tim di balik layar seperti dari sisi visual dan kreatif, Iqbal Febrian P dan Novita Widia Rahayu (kreatif), Juniansyah Magesta Putra dan Imam Uzed Alifi (artwork), serta Ahyas Budi (fotografer).
“Kami menghabiskan total waktu selama 3 bulan untuk produksi album ini. Tentu saja ada dinamika di dalamnya seperti kendala jarak dan waktu. Untuk mengatasinya kami kerjakan dengan prinsip alon-alon asal kelakon,” tutur Yanuar Beeswax menyampaikan harapan sederhana namun tulus untuk langkah mereka ke depan: tidak muluk-muluk soal rencana besar, entah itu tur atau rilisan single baru, yang terpenting adalah dukungan dan doa agar mereka bisa terus berjalan, berkarya, dan menjaga perjalanan ini tetap hidup.
iMusic.id – Band pop punk asal Solo, Jateng, NRTG baru saja merilis single debutnya yang di beri judul “Kita Lawan Dunia”. Membawa semangat positif, trio pop punk ini mengusung lirik yang mengajak seluruh pendengarnya untuk tetap bersemangat menghadapi berbagai kendala di dunia ini.
NRTG terbentuk di Solo, Jateng, pada Desember 2022 silam. Beranggotakan Arsyad Mohamed (vokal dan gitar), Rony Firdaus (bass), dan Rofy (drum), Band ini semakin membuktikan bahwa genre pop punk masih berkibar di Jawa Tengah dan masih mempunyai basis massa yang lumayan banyak.
NRTG dibentuk oleh sekelompok pemuda yang memiliki minat yang sama dalam bermusik, khususnya pada genre pop punk. Sejak awal pembentukannya, band ini mulai mengembangkan karya dengan pendekatan sederhana yang terinspirasi dari pengalaman sehari-hari.
Single “Kita Lawan Dunia” sebenarnya sudah dirilis sejak Februari 2026, namun di April 2026 ini, NRTG baru membagikan presskit nya ke kalangan media. Di rilisnya single “Kita Lawan Dunia” ini adalah sebagai langkah awal dalam memperkenalkan karya mereka kepada para pecinta musik Pop Punk secara nasional.
Lewat karya perdananya ini NRTG berusaha mengusung genre pop punk dengan karakter musik yang menonjolkan energi, melodi sederhana, serta lirik yang dekat dengan kehidupan anak muda.
iMusic.id – Band alt-rock asal Texas, Culture Wars, resmi merilis album debut mereka yang sangat dinantikan bertajuk “Don’t Speak”, melalui AWAL, pada 10 April 2026 kemarin. Album ini menandai tonggak penting bagi perjalanan karir musik mereka sekaligus menjadi angin segar di dunia musik saat ini mengingat begitu banyak pencapaian yang telah mereka raih di tahun sebelumnya.
Sebelumnya Culture Wars sempat menempatkan lagu “It Hurts” di 20 besar tangga lagu radio alternatif US, meraih lebih dari 66 juta streaming global dan menjadi band pembuka di konser musisi-musisi ternama, mulai dari Maroon 5, Keane, Wallows, dan LANY.
“Don’t Speak” adalah karya yang benar-benar jujur dari Culture Wars, bukan hanya dari segi lirik saja, namun lagu-lagunya, seperti “Typical Ways, Lies, Bittersweat” ataupun “In The Morning” mencerminkan sisi musikalitas mereka yang baik.
Culture Wars mampu membentuk narasi yang utuh bagaimana mereka menghadapi masa lalu, ketidakpastian, proses pertumbuhan yang terasa lambat dan kemudian menjadikan semua itu menjadi suatu identitas yang khas mampu menampilkan kematangan secara emosional dan bermusik para personilnya, serta tentu saja menunjukkan kreativitas tanpa batas.
Reaksi positif banyak didapat band yang beranggotakan Alex Dugan (vokal), David Grayson (drum), Dillon Randolph (bass), Caleb Contreras (gitar), dan Josh Stirm (gitar) ini. Terbukti baru – baru ini, Culture Wars masuk dalam seri Fast Forward dari Apple Music dan Shazam, yang menampilkan para artis pendatang baru paling menarik yang membentuk masa depan musik.
Torehan ini tentunya semakin mengukuhkan merekasebagai sebuah band yang telah sepenuhnya menemukan kekuatannya sendiri. Kekuatan yang terlihat dari penjualan tiket tur mereka yang akan digelar sepanjang tahun 2026, mulai dari Amerika Utara dan Inggris/Eropa guna mempromosikan album debut mereka “Don’t Speak”.
Dengan audiens internasional yang berkembang pesat, reputasi sebagai penampil live yang enerjik dan memukau, album “Don’t Speak”jadi momentum tepat Culture Wars untuk menghadirkan karya debut yang sangat mengesankan, memikat, dan dirancang untuk bertahan lama serta tentunya jadi babak terbesar mereka ke panggung-panggung di seluruh dunia.
Mudah – mudahan selesai tur mereka di US dan Eropa, Culture Wars bisa mampir di Indonesia.