iMusic – The Intro(vert) akan menjadi lagu pertama dari EP Teza Sumendra yang akan datang berjudul ‘Midnight Notion’. Lagu tersebut rencananya akan menjadi lagu pertama dari seluruh tracklist (maka dari itu, The Intro) sekaligus menceritakan pengalaman Teza menghindari rutinitas hidup yang datang berulang kali, seperti layaknya orang-orang melihat seorang introvert. The Intro(vert) juga hadir dengan video musik yang disutradarai oleh Alain Goenawan, dibintangi oleh penari interpretatif asal Bandung Ixfanh dan beberapa teman baik Teza sebagai cameo.
Suatu hari, Randy MP – produser yang dikenal sebagai kolaborator lama Teza – datang memperdengarkan beat dengan gaya “lazysunday” sewaktu mereka berlibur dan Teza seketika merasa terhubung dengan kebosanannya dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana dia melakukan rutinitas yang sama berulang-ulang setiap hari, menghindari keramaian, mengabaikan panggilan telepon, tapi justru dia merasa jauh lebih superior saat dia sendirian.
Perasaan itu tertulis secara harfiah di seluruh bagian lagu. Lagu ini bisa dibilang terdiri dari dua bagian, satu di mana Teza menjelaskan betapa membosankannya hidup bagi seseorang yang berusaha keras untuk menghindari semua interaksi kehidupan sehari-hari yang menghabiskan energi, seperti mengabaikan chat, menghindari media sosial, dan membuat alasan kepada teman yang mengajak berkumpul, tapi kemudian Teza menyelesaikan lagunya di bagian kedua dengan dorongan bahwa setelah semua yang kita lalui, baiknya jalani saja hidup kita sampai akhir karena Teza percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya.
Teza mencoba menangkap semua detail dan situasi menjadi kata-kata yang menyenangkan sekaligus literal sambil berharap orang akan terhubung dengan mereka, karena siapa yang tidak? Orang-orang bosan, lelah, cemas, begitu juga Teza dan itulah yang dia coba katakan. Lirik full bahasa Indonesia yang sederhana namun mengena dan kadang menyindir, ditambah dengan beat R&B kontemporer khas Randy MP membuat kita seolah tenggelam dan siap untuk melepas lelah yang begitu berat. Namun sesuai pesan Teza, bagaimanapun hidup tidak mudah dan begitulah adanya. Kita memiliki fase, langkah, dan solusi tersendiri untuk bertahan dan mewujudkan segala sesuatu seperti yang kita inginkan, jadi wajar untuk mengatakan bahwa kita tetap harus menjalani hidup sampai akhir dan percaya bahwa semuanya akan hadir tertata rapi pada waktunya.
Teza Sumendra memulai karir musiknya dengan mengikuti kompetisi pencarian bakat pada tahun 2006. Vokalnya yang khas, unik, dan groovy kemudian dikenal luas dari covernya pada lagu-lagu favoritnya di Youtube dan SoundCloud.
Bersama band nya “The Stepbrothers”, Teza mulai tampil di berbagai festival, hingga ia merilis debut single nya “I Want You Love” pada 2015. Ia kemudian merilis album debutnya berjudul self-titled di tahun yang sama dan merilis versi expanded dari album tersebut pada tahun 2016. Pada tahun 2021, Teza merilis sepasang single dengan cerita yang berkesinambungan yakni “Rekreasi” pada bulan Januari dan “Forever” di bulan Juli. (FE)
iMusic.id – Band jazz Indonesia Societeit de Harmonie membuka tahun 2026 dengan merilis single terbaru berjudul “Syakara”, sebuah lagu reflektif yang mengajak pendengarnya untuk berhenti sejenak dari keluhan, kecemasan, dan tuntutan hidup modern, lalu kembali pada satu hal mendasar : rasa syukur.
Judul “Syakara” berasal dari bahasa Arab yang berarti syukur. Lagu ini dirilis menjelang bulan Ramadhan dan sekaligus menjadi single pertama Societeit de Harmonie di tahun 2026, menandai fase baru perjalanan band setelah dua tahun berkarya secara konsisten. Bagi Societeit, momen ini menjadi pengingat untuk memulai tahun dengan kesadaran akan hal-hal baik yang sudah dan masih dimiliki, alih-alih terus terjebak pada kekurangan.
Secara lirik, “Syakara” berbicara tentang kecenderungan manusia untuk terjebak dalam fantasi, harapan, dan penyesalan, memikirkan masa depan yang belum terjadi atau masa lalu yang tak bisa diubah. Padahal, tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Meskipun hidup sering kali terasa berat, cara kita meresponsnya tetap bisa dipilih. Bersyukur, sekecil apa pun alasannya, menjadi titik awal untuk melihat hidup dengan lebih jernih.
Pendekatan musikal “Syakara” terasa ringan namun berlapis. Aransemen horns yang digarap Dave Rimba memanfaatkan permainan horn yang saling bertabrakan namun tetap harmonis, merepresentasikan kompleksitas pikiran manusia yang kerap kalut. Kekalutan ini tidak digambarkan dalam nada muram, namun justru hadir dengan nuansa hangat dan gembira, sebuah kontras yang disengaja untuk menegaskan bahwa refleksi dan penerimaan tidak selalu harus dibalut kesedihan.
Kolaborasi dengan Natasya Elvira menjadi elemen penting dalam lagu ini. Selain sebagai vokalis, Natasya juga bertindak sebagai penulis lagu dan project manager, terlibat sejak tahap paling awal. Sosoknya yang masih terbilang muda cocok untuk menyampaikan pesan pendewasaan hidup dengan cara yang terasa dekat dan relevan bagi generasinya, lebih sebagai obrolan antar teman, bukan nasihat yang menggurui. Vokal vintage-nya memperkuat karakter kontemplatif lagu ini.
“Syakara” bukan lagu religi, melainkan lagu reflektif yang inklusif. Lagu ini ditujukan untuk didengarkan dalam keseharian : saat menyetir, berjalan kaki, naik transportasi umum, atau melakukan rutinitas. Dengan nada yang cerah dan lirik yang lugas, “Syakara” mengajak pendengarnya untuk sing away their problems alias melepaskan keresahan melalui nyanyian.
Artwork lagu ini menampilkan figur yang tertawa, sebuah visual yang merepresentasikan gagasan utama “Syakara” : di balik senyum, setiap orang mungkin sedang memikul masalahnya masing-masing. Namun dengan bersyukur dan menerima, beban itu bisa terasa lebih ringan, karena badai pasti berlalu.
“Syakara” juga menjadi bagian dari rangkaian menuju EP “Ulangan”, yang dijadwalkan rilis dua bulan setelahnya. Melalui “Syakara”, Societeit de Harmonie menyampaikan doa sederhana : agar pendengarnya terbebas dari pikiran-pikiran negatif yang membebani hari-hari, dan bisa menjalani hidup dengan lebih ringan bukan karena masalah hilang, tetapi karena rasa syukur kembali menemukan tempatnya.
iMusic.id – Amanda Mutia merilis single terbarunya berjudul “Peluk”, sebuah lagu pop ballad yang mengangkat tema kehangatan emosional dan kebutuhan akan kehadiran seseorang di saat perasaan sedang lelah dan rindu. Lagu ini menjadi rilisan perdana dari Project Alfa, sebuah program kolaborasi antara Alfa Pustaka Nada sebagai penerbit musik (music publishing) dan AlfaRecords sebagai label musik.
“Peluk” dari Amanda Mutia merepresentasikan momen ketika seseorang tidak selalu membutuhkan solusi, melainkan pengertian dan rasa aman. Lagu ini hadir sebagai refleksi tentang rindu, kehilangan, dan keinginan untuk tetap merasa ditemani.
Sebagai penyanyi yang dikenal mengekspresikan cerita personal melalui musik, Amanda Mutia menghadirkan “Peluk” dengan pendekatan yang jujur dan intim. Aransemen yang sederhana memberi ruang pada karakter vokalnya yang lembut dan ekspresif, sehingga emosi lagu terasa dekat dengan pengalaman banyak pendengar.
Project Alfa merupakan program kolaborasi antara Alfa Pustaka Nada dan AlfaRecords yang berfokus pada kurasi dan perilisan karya musik, dengan penekanan pada sistem rilis yang jelas serta perlindungan hak cipta bagi para musisi.
Single “Peluk” kini telah tersedia di berbagai platform musik digital dan menjadi langkah awal perjalanan Project Alfa dalam menghadirkan karya-karya baru dari talenta terpilih.
iMusic.id – Trio indie-folk asal Jakarta, ‘Rangkai’, resmi merilis single terbaru berjudul “Menuai Terurai” pada Jumat, 20 Februari 2026. Dirilis bertepatan dengan momen awal Ramadan, lagu ini hadir sebagai ruang refleksi atas kehilangan, perpisahan, dan upaya menerima hidup apa adanya.
Di tengah berbagai kabar duka yang hadir belakangan ini. Mulai dari bencana alam hingga kehilangan yang dirasakan secara kolektif. “Menuai Terurai” dari ‘Rangkai’ mencoba berbicara dengan nada yang tenang. Lagu ini tidak berfokus pada kepergian secara fisik, melainkan pada nilai, pesan, dan jiwa yang tetap hidup setelahnya.
“Ramadan sering menghadirkan kebersamaan, dan di saat yang sama mengingatkan kita dengan halus akan mereka yang pernah hadir, namun kini tinggal dalam doa dan ingatan.” ujar Bimo, vokalis Rangkai.
Melalui pendekatan lirik yang metaforis, ‘Rangkai’ memilih untuk membingkai kesedihan sebagai pengalaman bersama. Cerita personal tidak disajikan secara gamblang, melainkan disamarkan dalam narasi kehilangan yang lebih luas, sesuatu yang mungkin pernah atau sedang dialami banyak orang.
Pendekatan metaforis ini juga tercermin dalam artwork single, yang kembali dipercayakan kepada Khalid Albakaziy, di mana ia menerjemahkan tema kehilangan dan keteruraian ke dalam visual yang samar, tenang, dan penuh ruang.
Dengan aransemen folk-pop yang intim dan minimal, “Menuai Terurai” diharapkan dapat menemani pendengar di masa Ramadan : sebagai lagu untuk berhenti sejenak, menerima duka, dan mengubahnya menjadi energi positif untuk melangkah ke depan.
“Menuai Terurai” ditulis dan diproduksi oleh Mirza, Bimo, Rai, dan Kibar MuhammadPembela dengan proses mixing oleh Rendi Kopay dan mastering oleh Rhesa Aditya.
Single “Menuai Terurai” kini sudah dapat didengarkan di seluruh platform musik digital di bawah naungan Setengah Lima Records.