Connect with us

iMusic

“Nabila” Menangis Di Music Video, Inget Mantan?

Published

on

iMusic – Nama Nabila Ellisa mulai terdengar sejak dirinya meraih juara 5 dalam ajang pencarian bakat yang digelar Indosiar, Liga Dangdut Indonesia 2018 (LIDA).  Kala itu, Nabila yang berasal dari Takengon, Aceh, masih berusia 17 tahun dan dikenal sebagai Nabila LIDA.  Kini bersama 3D Entertainment dan STREAM Management, Nabila merilis single perdananya berjudul “Sembunyi Dalam Tawa”.

Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya tim A&R 3D Entertainment dan Nabila memilih lagu ciptaan MR_NURBAYAN ini.  “Karakter suara nabila yang mendayu-dayu, dan dengan penampilannya yang anggun dan berhijab, unsur melayu seperti lagu karya MR_Nurbayan, cocok dibawakan oleh Nabila,” tutur Barsena Besthandi selaku Tim A&R 3D Entertainment.  Tak ingin melupakan jejak kemenangannya panggung dangdut, Nabila juga menonjolkan karakter vokal dangdutnya yang kental, sehingga terciptalah perpaduan, pop, melayu dan dangdut.

Sebelum terjun ke dunia dangdut, Nabila justru lebih sering membawakan lagu-lagu pop di berbagai festival musik.  Namun, karena bakatnya Nabila mampu menaklukan berbagai macam musik dangdut.  Selain karena karakter suara, pemilihan lagu ini lama berkutat pada seputar tema.  “Saat pemilihan lagu tuh melalui lika liku yang panjang dan Nabila penginnya yang temanya pernah Nabila alami.  Jadi, untuk ketemu yang pas nggak mudah.  Nah, lagu Sembunyi Dalam Tawa ini kan cerita tentang patah hati karena keegoisan kita, ini Nabila banget, apalagi musiknya agak ngepop, jadi ini udah yang terbaik banget buat Nabila,” ungkap Nabila.

Lirik patah hati dengan musik pop melayu yang menambah kepedihan lagu ini, divisualisasikan melalui music video yang sedikit bercerita tentang kehidupan Nabila.  Dalam music videonya diceritakan Nabila adalah seorang penyanyi yang sibuk dengan kegiatan seperti rekaman, photoshoot dan berbagai kesibukan lainnya, sehingga selalu tak punya waktu untuk kekasihnya.  Sebagai public figure yang tak hanya bisa menyanyi tapi juga jago dalam berakting, Nabila pun meneteskan air mata sesungguhnya saat berakting dalam music video Sembunyi Dalam Tawa.  “Aku senang totalitas, jadi ketika sutradara bilang ‘nangis ya’, aku langsung siapin diri untuk nangis saat take, terus aku nangis beneran, tapi nggak tau deh inget siapa, inget mantan kali ya, haha,” tutur Nabila, yang hingga kini sudah menyelesaikan lebih dari 30 judul FTV.

Nabila juga mengaku pengalaman syuting music video ini menyenangkan, karena dari semua bidang yang ia coba, salah satu yang belum pernah ia lakukan adalah sebagai model. “Aku paling suka banget pas bagian aku photoshoot jadi model gitu, karena kenyataannya aku pengin coba juga jadi model, jadi aku pun serius aktingnya, menunjukkan ekspresinya, gayanya,aah suka deh,” jelas Nabila.

Keselarasan lirik, musik dan visualisasi yang pas, membuat Nabila yakin, single perdananya ini mampu mewakili perasaan patah hati para pendengarnya dan akan sukses menambah kebaperan.

Music Video Sembunyi Dalam Tawa dirilis pada tanggal 25 November 2020 di youtube channel 3D Entertainment dan dihari yang sama seluruh penikmat musik sudah dapat mendengarkan lagu ini di semua digital streaming platform, Apple Music, Itunes, SpotifyJooxLangit Musik, Deezer, RessoYoutube Music. (FE)

iMusic

Societeit de Harmonie kolaborasi dengan Natasya Elvira luncurkan single “Syakara”

Published

on

iMusic.id – Band jazz Indonesia Societeit de Harmonie membuka tahun 2026 dengan merilis single terbaru berjudul “Syakara”, sebuah lagu reflektif yang mengajak pendengarnya untuk berhenti sejenak dari keluhan, kecemasan, dan tuntutan hidup modern, lalu kembali pada satu hal mendasar : rasa syukur.

Judul “Syakara” berasal dari bahasa Arab yang berarti syukur. Lagu ini dirilis menjelang bulan Ramadhan dan sekaligus menjadi single pertama Societeit de Harmonie di tahun 2026, menandai fase baru perjalanan band setelah dua tahun berkarya secara konsisten. Bagi Societeit, momen ini menjadi pengingat untuk memulai tahun dengan kesadaran akan hal-hal baik yang sudah dan masih dimiliki, alih-alih terus terjebak pada kekurangan.

Secara lirik, “Syakara” berbicara tentang kecenderungan manusia untuk terjebak dalam fantasi, harapan, dan penyesalan, memikirkan masa depan yang belum terjadi atau masa lalu yang tak bisa diubah. Padahal, tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Meskipun hidup sering kali terasa berat, cara kita meresponsnya tetap bisa dipilih. Bersyukur, sekecil apa pun alasannya, menjadi titik awal untuk melihat hidup dengan lebih jernih.

Pendekatan musikal “Syakara” terasa ringan namun berlapis. Aransemen horns yang digarap Dave Rimba memanfaatkan permainan horn yang saling bertabrakan namun tetap harmonis, merepresentasikan kompleksitas pikiran manusia yang kerap kalut. Kekalutan ini tidak digambarkan dalam nada muram, namun justru hadir dengan nuansa hangat dan gembira, sebuah kontras yang disengaja untuk menegaskan bahwa refleksi dan penerimaan tidak selalu harus dibalut kesedihan.

Kolaborasi dengan Natasya Elvira menjadi elemen penting dalam lagu ini. Selain sebagai vokalis, Natasya juga bertindak sebagai penulis lagu dan project manager, terlibat sejak tahap paling awal. Sosoknya yang masih terbilang muda cocok untuk menyampaikan pesan pendewasaan hidup dengan cara yang terasa dekat dan relevan bagi generasinya, lebih sebagai obrolan antar teman, bukan nasihat yang menggurui. Vokal vintage-nya memperkuat karakter kontemplatif lagu ini.

“Syakara” bukan lagu religi, melainkan lagu reflektif yang inklusif. Lagu ini ditujukan untuk didengarkan dalam keseharian : saat menyetir, berjalan kaki, naik transportasi umum, atau melakukan rutinitas. Dengan nada yang cerah dan lirik yang lugas, “Syakara” mengajak pendengarnya untuk sing away their problems alias melepaskan keresahan melalui nyanyian.

Artwork lagu ini menampilkan figur yang tertawa, sebuah visual yang merepresentasikan gagasan utama “Syakara” : di balik senyum, setiap orang mungkin sedang memikul masalahnya masing-masing. Namun dengan bersyukur dan menerima, beban itu bisa terasa lebih ringan, karena badai pasti berlalu.

“Syakara” juga menjadi bagian dari rangkaian menuju EP “Ulangan”, yang dijadwalkan rilis dua bulan setelahnya. Melalui “Syakara”, Societeit de Harmonie menyampaikan doa sederhana : agar pendengarnya terbebas dari pikiran-pikiran negatif yang membebani hari-hari, dan bisa menjalani hidup dengan lebih ringan bukan karena masalah hilang, tetapi karena rasa syukur kembali menemukan tempatnya.

Continue Reading

iMusic

Amanda Mutia refleksikan kerinduan di single “Peluk”

Published

on

iMusic.id – Amanda Mutia merilis single terbarunya berjudul “Peluk”, sebuah lagu pop ballad yang mengangkat tema kehangatan emosional dan kebutuhan akan kehadiran seseorang di saat perasaan sedang lelah dan rindu. Lagu ini menjadi rilisan perdana dari Project Alfa, sebuah program kolaborasi antara Alfa Pustaka Nada sebagai penerbit musik (music publishing) dan AlfaRecords sebagai label musik.

“Peluk” dari Amanda Mutia merepresentasikan momen ketika seseorang tidak selalu membutuhkan solusi, melainkan pengertian dan rasa aman. Lagu ini hadir sebagai refleksi tentang rindu, kehilangan, dan keinginan untuk tetap merasa ditemani.

Sebagai penyanyi yang dikenal mengekspresikan cerita personal melalui musik, Amanda Mutia menghadirkan “Peluk” dengan pendekatan yang jujur dan intim. Aransemen yang sederhana memberi ruang pada karakter vokalnya yang lembut dan ekspresif, sehingga emosi lagu terasa dekat dengan pengalaman banyak pendengar.

Project Alfa merupakan program kolaborasi antara Alfa Pustaka Nada dan AlfaRecords yang berfokus pada kurasi dan perilisan karya musik, dengan penekanan pada sistem rilis yang jelas serta perlindungan hak cipta bagi para musisi.

Single “Peluk” kini telah tersedia di berbagai platform musik digital dan menjadi langkah awal perjalanan Project Alfa dalam menghadirkan karya-karya baru dari talenta terpilih.

Continue Reading

iMusic

‘Rangkai’ perkenalkan single “Menuai Terurai” di awal Ramadan

Published

on

iMusic.id – Trio indie-folk asal Jakarta, ‘Rangkai’, resmi merilis single terbaru berjudul “Menuai Terurai” pada Jumat, 20 Februari 2026. Dirilis bertepatan dengan momen awal Ramadan, lagu ini hadir sebagai ruang refleksi atas kehilangan, perpisahan, dan upaya menerima hidup apa adanya.

Di tengah berbagai kabar duka yang hadir belakangan ini. Mulai dari bencana alam hingga kehilangan yang dirasakan secara kolektif. “Menuai Terurai” dari ‘Rangkai’ mencoba berbicara dengan nada yang tenang. Lagu ini tidak berfokus pada kepergian secara fisik, melainkan pada nilai, pesan, dan jiwa yang tetap hidup setelahnya.

“Ramadan sering menghadirkan kebersamaan, dan di saat yang sama mengingatkan kita dengan halus akan mereka yang pernah hadir, namun kini tinggal dalam doa dan ingatan.” ujar Bimo, vokalis Rangkai.

Melalui pendekatan lirik yang metaforis, ‘Rangkai’ memilih untuk membingkai kesedihan sebagai pengalaman bersama. Cerita personal tidak disajikan secara gamblang, melainkan disamarkan dalam narasi kehilangan yang lebih luas, sesuatu yang mungkin pernah atau sedang dialami banyak orang.

Pendekatan metaforis ini juga tercermin dalam artwork single, yang kembali dipercayakan kepada Khalid Albakaziy, di mana ia menerjemahkan tema kehilangan dan keteruraian ke dalam visual yang samar, tenang, dan penuh ruang.

Dengan aransemen folk-pop yang intim dan minimal, “Menuai Terurai” diharapkan dapat menemani pendengar di masa Ramadan : sebagai lagu untuk berhenti sejenak, menerima duka, dan mengubahnya menjadi energi positif untuk melangkah ke depan.

“Menuai Terurai” ditulis dan diproduksi oleh Mirza, Bimo, Rai, dan Kibar Muhammad Pembela dengan proses mixing oleh Rendi Kopay dan mastering oleh Rhesa Aditya.

Single “Menuai Terurai” kini sudah dapat didengarkan di seluruh platform musik digital di bawah naungan Setengah Lima Records.

Continue Reading