Connect with us

iMusic

NoizeKilla, Solo Bhismo KunoKini, Luncurkan Singel Perdana “Shuckleford Song”.

Published

on

iMusic – NoizeKilla, sebuah evolusi musik dari BhismoKunoKini” yang merilis singel perdana  bertajuk “Shuckleford Song” bertepatan dengan hari kasih sayang, 14 Februari 2022. Sebuah karya yang tercipta, khusus untuk sang istri yang memiliki nama keluarga Shuckleford.

Nama NoizeKilla terinspirasi dari suara magis tiupan Saluang yaitu alat musik tradisional asli Minangkabau, Sumatera Barat. Nama ini adalah penggabungan dari dua kata, Noize (suara) dan Killa (membunuh/dalam hal ini mengheningkan), yang diartikan sebagai kemampuan untuk menghilangkan kebisingan dengan membawa kedamaian.

Lagu “Shuckleford Song” berbahasa Inggris yang mengisahkan perjalanan romantisme Bhismo sejak awal pertemuan pertamanya hingga akhirnya mantap berumah tangga. Terdapat banyak perbedaan antara sepasang suami istri ini – perbedaan agama, suku, dan ras – segala perbedaan yang menjadi alasan terbesar untuk membalut kisah ini menjadi sebuah karya cipta.

Untuk memperkuat pesan yang disampaikan secara visual, NoizeKilla mengarahkan produksi artwork – di mana model artwork tersebut merupakan sang istri – pemotretan dan lukisan tubuh yang dikerjakan oleh Gabriela Dapena sebagai bagian dari kerjasama Khe! Entertainment dan The Produksi. Tim ini berusaha maksimal mempresentasikan kekuatan dan keindahan melalui perpaduan estetik. Hitam mewakili warna kulit dan asal istrinya yaitu berdarah campuran Indonesia dan Jamaika. Sementara emas menukas keberuntungan, kemewahan dan keseimbangan dalam menjaga hubungan.

Identitas Musik Baru

Berada di bawah naungan manajemen DansaDansa, NoizeKilla adalah identitas musik baru hasil eksplorasi beragam warna musik yang selama ini berada di luar pakem kebiasaan yang digugus bersama band KunoKini. NoizeKilla mendeskripsikan musiknya sebagai IndoBeatPop, sebuah persembahan bunyi Nusantara kepada pasar global.

“Saya tidak ingin bermain aman di dalam kotak yang sudah ada, ingin lebih unik namun mudah dicerna dan memberikan pengalaman berbeda kepada pendengar musik,” ungkap NoizeKilla.

Tersebut rumusan frekuensi yang digadang melalui musik NoizeKilla secara spesifik. Frekuensi ini biasa disebut sebagai natural tuning, pure tuning atau sound healing. Dimana nada musik dimainkan pada frekuensi 432hz, A=432hz bukan di standar internasional A=440hz. Karena frekukensi 432hz ini secara tidak sadar tersambung dengan getaran otak manusia, bunyi Ohm-nya Bumi, Fibonacci sequence Golden ratio, 3-6-9 Simbolism Numerologi Tesla (Code). Otomatis tercipta rasa nyaman di telinga dan sekaligus memberikan getaran baik kedalam tubuh pendengar. Melalui kerja sama dengan label rekaman demajors, debut singel “Shuckleford Song” ini dapat dinikmati di berbagai digital streaming platform. Bersamaan dengan hari kasih sayang, “Shuckleford Song” diharapkan menjadi pemicu baru perayaan cinta para pendengar musik di manapun mereka berada.

NoizeKilla berdomisili di Bali dan pasar global menjadi fokus karier dengan mempersiapkan album penuh yang akan dirilis di tahun ini. Geliat musiknya diperkuat oleh mighty band  yang dinamakan JoyFullSound, band ini terdiri dari gitaris Jordan Vegas (Venezuela), kibordis Dominggus Kia Beda (Flores, Indonesia), penabuh drum Micah Johnston (Kanada), serta additional player pada bass adalah Hendro Tri Septiando (Sumatra, Indonesia).

Lagu “Shuckleford Song” dari NoizeKilla dirilis melalui label rekaman demajors bekerja sama dengan DansaDansa manajemen pada 14 Februari 2022 di seluruh platform musik digital di antaranya Spotify, Apple Music, Joox, Resso, YouTube Music dan Deezer. (FE)

iMusic

Eksis di kapal pesiar, Jey Denise rilis single kedua “No. 1 Priority”

Published

on

iMusic.id – Penyanyi sekaligus penulis lagu asal Indonesia, Jey Denise, resmi merilis single terbarunya berjudul “No. 1 Priority“. Karya ini hadir sebagai sebuah anthem penuh jiwa yang menekankan pentingnya menempatkan diri sendiri sebagai prioritas utama.

Dalam keterangan tertulis, Jey Denise menyampaikan bahwa lagu “No. 1 Priority” merupakan single keduanya. Lagu ini menjadi refleksi perjalanan musikal tentang kemenangan pribadi yang dapat dirasakan oleh banyak orang.

“Saya ingin lagu ini menjadi pengingat bahwa kita berhak menempatkan diri sendiri sebagai prioritas, Konsistensi, keyakinan pada diri sendiri, dan keberanian untuk melawan rasa takut adalah hal-hal yang selalu saya pegang dalam perjalanan musik saya. Lagu ‘No. 1 Priority’ adalah refleksi dari itu semua ucap Jey Denise.

Menurut Jey Denise, single ini dibalut dengan nuansa groove awal 2000-an yang ringan dan menyenangkan. Dengan karakter musik tersebut, ia berharap lagunya bisa menjadi teman di berbagai suasana, baik saat bersantai di sore hari, berjalan bersama pasangan, maupun berkumpul dengan teman-teman.

Dalam proses kreatif, Jey Denise mengambil kendali penuh atas produksi dan aransemen lagu. Hal ini menunjukkan komitmen serta keterlibatan mendalam dirinya dalam setiap detail musikal.

Sentuhan akhir dipercayakan kepada Thomas “J.Soul” Burrough yang menghadirkan kualitas terbaik melalui mixing dan mastering, sehingga menghasilkan karya yang solid secara teknis sekaligus kuat dalam pesan.

Jey Denise sendiri bukan nama baru di dunia musik. Ia telah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung di industri ini, dan sejak 2017 dikenal sebagai artis vokal-gitar looping yang tampil rutin di berbagai bar, kafe, dan klub di Jakarta.

Dengan persiapan matang di setiap penampilan, ia membangun reputasi sebagai musisi yang menghadirkan standar baru dalam dunia looping di Indonesia.

Kini, kariernya merambah panggung internasional dengan tampil sebagai musisi di kapal pesiar berbasis Amerika Serikat. Langkah ini menjadikannya salah satu solois perempuan pertama dari Indonesia yang menorehkan prestasi di jalur tersebut.

Popularitasnya semakin meningkat setelah konten mengenai kehidupannya sebagai musisi di kapal pesiar viral di media sosial, khususnya Instagram.

Sebelum merilis “No. 1 Priority”, Jey Denise telah memperkenalkan single perdananya berjudul “Lemme Out” pada Juli 2024.

Lagu tersebut memperlihatkan konsistensinya dalam menghadirkan karya yang relevan dengan perkembangan musik modern, sekaligus memperkuat posisinya sebagai musisi independen yang produktif.

Dengan dua rilisan ini, Jey semakin menegaskan identitasnya sebagai musisi yang mampu menyatukan pengalaman personal dengan tema universal yang menginspirasi.

Saat ini, single “No. 1 Priority” milik Jey Denise sudah tersedia dan dapat didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital.

Continue Reading

iMusic

Difki Khalif dan Prinsa Mandagie kemas lagu “Seandainya” lebih nge-rock

Published

on

iMusic.id – Difki Khalif dan Prinsa Mandagie berkolaborasi dalam proyek spesial untuk menghidupkan kembali lagu populer era 2000-an, “Seandainya”. Kolaborasi ini menjadi ruang eksplorasi musikal bagi keduanya, sekaligus menghadirkan interpretasi baru atas lagu yang telah melekat di memori banyak pendengar.

Proyek ini terwujud melalui kolaborasi lintas label antara Musica Studios dan Sony Music yang membuka ruang bagi para artis untuk menafsir ulang karya-karya populer. Dari beberapa pilihan lagu, Prinsa Mandagie menjatuhkan hati pada “Seandainya”, karya band era 2000-an Vierratale (yang sebelumnya dikenal sebagai Vierra).

“Banyak orang tumbuh bersama lagu ini, termasuk aku,” ungkap Prinsa Mandagie. Lagu tersebut memang menjadi salah satu anthem galau yang mewarnai masa remaja generasi 2000-an.

Kolaborasi Prinsa Mandagie dengan Difki Khalif, yang memiliki latar belakang sebagai anak band, menjadi elemen penting dalam proses kreatif ini. Sebagai dua solois dengan karakter vokal berbeda, mereka menjalani workshop untuk menemukan chemistry serta pembagian bagian vokal yang paling harmonis.

“Kami memang punya range suara berbeda, jadi workshop membantu kami menentukan siapa menyanyikan bagian mana supaya tetap harmonis,” jelas Difki.

Meski berasal dari latar musikal yang berbeda, keduanya justru menemukan energi baru dalam proyek ini. Aransemen “Seandainya” dibuat lebih emosional dan segar dengan tambahan sentuhan orkestra, memperkuat karakter pop-rock yang ingin mereka hadirkan.

Bagi Prinsa, pengalaman ini terasa berbeda dari karya-karyanya yang biasanya bernuansa dewasa dan sentimental. “Tantangannya bukan hanya membawakan ulang, tapi bagaimana membuatnya terasa segar, tetap akrab, namun punya warna kami sendiri,” katanya.

Kolaborasi ini juga menjadi ruang belajar bagi keduanya. Prinsa mengeksplorasi sisi lain dari jangkauan vokalnya, sementara Difki beradaptasi dengan dinamika duet yang menjadi pengalaman baru baginya. Proses harmonisasi vokal dirancang oleh Barsena Bestandhi, yang memastikan dua warna suara berbeda tersebut dapat menyatu dengan mulus.

Proses kreatifnya tidak selalu mudah. Mereka mencoba berbagai opsi pembagian suara, menyesuaikan range dan karakter masing-masing hingga menemukan keseimbangan yang tepat. Perbedaan justru menjadi kekuatan yang membuat versi ini terasa segar dan unik.

Momen paling berkesan terjadi saat sesi preview akhir. Ketika aransemen lengkap termasuk elemen orkestra mulai terdengar utuh, keduanya merasakan lagu ini menemukan bentuk barunya: emosional, enerjik, namun tetap mempertahankan esensi lagu aslinya. Seperti yang diungkapkan Prinsa, “Ini bisa jadi versi yang berbeda, tapi tetap familiar.”

“Seandainya” versi Difki Khalif dan Prinsa Mandagie sudah dapat dinikmati di seluruh platform musik digital di Februari 2026.

Continue Reading

iMusic

Remake lagu “Kini”, Yovie Widianto libatkan KIM dan Neida

Published

on

iMusic.id – Maestro musik Indonesia, Yovie Widianto, kembali menghadirkan karya terbaru lewat kolaborasi yang terasa segar dan hangat. Kali ini, ia menggandeng grup vokal muda KIM yang beranggotakan Arsy Widianto, Rachel (nama belakang), dan Gusty Pratama, bersama penyanyi dengan warna vokal lembut yang khas, Neida Aleida.

Lagu ini dibuka dengan intro a cappella yang intimate, menyoroti kualitas vokal yang menawan, kemudian musik berkembang menjadi komposisi yang kaya namun tetap terasa ringan dinikmati. Siapa sangka, lagu legendaris Yovie Widianto yang begitu sendu dapat diaransemen dengan matang memadukan pop yang elegan dengan sentuhan Light R&B yang smooth, menciptakan suasana yang modern tapi tetap terasa timeless.

Kolaborasi ini terasa seperti pertemuan dua generasi dalam satu ruang yang sama dengan pengalaman panjang dan energi muda saling melengkapi. Vokal yang berpadu dinamis, saling mengisi tanpa saling mendominasi. Produksi musik dari Yovie Widianto terdengar clean dan polished, tapi tetap menyimpan kehangatan yang membuat lagu ini terasa dekat.

Daya tarik lagu milik Yovie Widianto ini tidak datang dengan cara yang berlebihan. Justru sebaliknya, tumbuh perlahan. Semakin sering didengar, semakin terasa detail-detail kecil yang membuatnya istimewa: harmoni yang rapi, groove yang halus, hingga lirik yang meninggalkan kesan.

Dengan nuansa yang elegan namun tetap mudah dicerna, kolaborasi ini membuat karya sang maestro Yovie Widianto menjadi relevan bagi semua generasi dan menjadi sebuah rilisan yang meninggalkan dampak di kancah musik Indonesia.

Continue Reading