iMusic.id – Bertepatan dengan hari ulang tahun yang ke-30 RAYHAN NOOR, solois, penulis lagu, dan produser asal Jakarta ini meluncurkan album panjang perdananya yang bertajuk “Menjelang Tiga Puluh”.
Seperti yang bisa ditebak, album yang mencakup 10 lagu orisinil ini menjadi selebrasi dan refleksi RAYHAN NOOR sepanjang dekade kepala dua sebelum akhirnya sang musisi menyongsong dekade terbaru di dalam hidupnya.
Tidaklah berlebihan untuk merangkum album “Menjelang Tiga Puluh” ini sebagai buah karya RAYHAN NOOR yang sangatlah intim sekaligus imajinatif. Ditambah lagi, album Menjelang Tiga Puluh siap dirilis di bawah naungan label musik Sun Eater, yang juga turut menggawangi mini album “Colors” yang digarap RAYHAN NOOR bersama Agatha Pricilla pada bulan November 2020 silam dan album panjang perdana band alternative-pop Lomba Sihir yang bertajuk Selamat Datang di Ujung Dunia pada bulan Maret 2021.
Semua orang yang familiar dengan sepak terjang RAYHAN NOOR tentunya sudah mengetahui kiprah gemilangnya sebagai salah satu personil, penulis lagu, dan produser untuk band yang satu itu.
“Saya melihat album Menjelang Tiga Puluh ini sebagai sebuah selebrasi yang sanggup menggugah hati sekaligus pikiran pendengarnya,” deskripsi RAYHAN NOOR, yang pertama kali menorehkan talentanya di industri musik Indonesia sebagai personil dari band alternative-rock Glaskaca.
“Dalam meracik sebuah karya musik, saya kerap kali mencoba mencari makna dari segala sesuatu yang pernah terjadi di dunia di mana saya berdiri dan bernapas. Itulah mengapa album Menjelang Tiga Puluh juga menyuguhkan beberapa momen yang moody namun bittersweet. Perjalanan hidup saya sejauh ini, terlebih apa yang telah saya jejaki sepanjang 10 tahun terakhir, bukanlah garis lurus belaka.” Ujar RAYHAN NOOR
“Saya menaruh banyak sekali ekspektasi bagi diri saya sendiri sepanjang 10 tahun terakhir. Lucunya, diri saya yang dahulu sangatlah lugu tidak menyadari bahwa hidup itu penuh dengan kejutan dan kekacauan, namun juga kebajikan. Lebih seringnya, apa yang saya kejar kerap kali bertabrakan dengan apa yang dianggap sebagai ‘normatif’ atau ‘konvensional’ bagi orang-orang seusia saya,” lanjut RAYHAN NOOR, yang turut menjadi co-producer untuk album Hindia yang bertajuk Menari Dengan Bayangan.
Processed with VSCO with a6 preset
“Ironisnya, justru semua lika-liku itulah yang membuat saya menjadi manusia dan musisi yang sanggup berdiri tegap.” Tambah RAYHAN NOOR
Memasuki kepala tiga tentunya bukanlah perkara yang sederhana, dan RAYHAN NOOR bukanlah pengecualian. Terlepas demikian, kelahiran album “Menjelang Tiga Puluh” turut menjadi testamen sang musisi bahwa dia siap menapaki dekade baru hidupnya tanpa adanya keraguan.
“Dulu saya mengira usia 30 adalah finish line, namun ternyata saya salah. Kebenarannya, saya justru baru saja memasuki starting line,” ungkap RAYHAN NOOR.
“Album perdana saya ini lahir di kala yang tepat karena, pada saat ini juga, saya memahami betul siapa diri saya dan saya semakin mengetahui apa yang saya inginkan. Saya juga menyadari bahwa masih banyak hal baru yang harus saya coba dan kebajikan baru yang harus saya pelajari. Saya juga ingin mendedikasikan album ini kepada semua orang yang mengira mereka ‘gagal’ mencapai finish line dalam hidup mereka. Kita belum tiba di outro lagu; kita sesungguhnya masih mendendangkan bait pertama.” Tutur RAYHAN NOOR.
Album Menjelang Tiga Puluh oleh RAYHAN NOOR dirilis di bawah naungan label Sun Eater dan sudah bisa didengarkan di semua digital streaming platform (DSP).
Track List Album “Menjelang Tiga Puluh” sebagai berikut : “2016, Mimpi Dulu Saja, Ragu?, Mau Tak Mau, Dari Balik Jendela, Sudah Berbeda, Seumur Hidupku, Serupa Semula, Sepuluh Tahun Kedepan dan 1993”.
iMusic.id – Penyanyi sekaligus penulis lagu asal Indonesia, Jey Denise, resmi merilis single terbarunya berjudul “No. 1 Priority“. Karya ini hadir sebagai sebuah anthem penuh jiwa yang menekankan pentingnya menempatkan diri sendiri sebagai prioritas utama.
Dalam keterangan tertulis, Jey Denise menyampaikan bahwa lagu “No. 1 Priority” merupakan single keduanya. Lagu ini menjadi refleksi perjalanan musikal tentang kemenangan pribadi yang dapat dirasakan oleh banyak orang.
“Saya ingin lagu ini menjadi pengingat bahwa kita berhak menempatkan diri sendiri sebagai prioritas, Konsistensi, keyakinan pada diri sendiri, dan keberanian untuk melawan rasa takut adalah hal-hal yang selalu saya pegang dalam perjalanan musik saya. Lagu ‘No. 1 Priority’ adalah refleksi dari itu semua ucap Jey Denise.
Menurut Jey Denise, single ini dibalut dengan nuansa groove awal 2000-an yang ringan dan menyenangkan. Dengan karakter musik tersebut, ia berharap lagunya bisa menjadi teman di berbagai suasana, baik saat bersantai di sore hari, berjalan bersama pasangan, maupun berkumpul dengan teman-teman.
{“key”:”we2″}
Dalam proses kreatif, Jey Denise mengambil kendali penuh atas produksi dan aransemen lagu. Hal ini menunjukkan komitmen serta keterlibatan mendalam dirinya dalam setiap detail musikal.
Sentuhan akhir dipercayakan kepada Thomas “J.Soul” Burrough yang menghadirkan kualitas terbaik melalui mixing dan mastering, sehingga menghasilkan karya yang solid secara teknis sekaligus kuat dalam pesan.
Jey Denise sendiri bukan nama baru di dunia musik. Ia telah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung di industri ini, dan sejak 2017 dikenal sebagai artis vokal-gitar looping yang tampil rutin di berbagai bar, kafe, dan klub di Jakarta.
Processed with VSCO with we2 preset
Dengan persiapan matang di setiap penampilan, ia membangun reputasi sebagai musisi yang menghadirkan standar baru dalam dunia looping di Indonesia.
Kini, kariernya merambah panggung internasional dengan tampil sebagai musisi di kapal pesiar berbasis Amerika Serikat. Langkah ini menjadikannya salah satu solois perempuan pertama dari Indonesia yang menorehkan prestasi di jalur tersebut.
Popularitasnya semakin meningkat setelah konten mengenai kehidupannya sebagai musisi di kapal pesiar viral di media sosial, khususnya Instagram.
Processed with VSCO with we2 preset
Sebelum merilis “No. 1 Priority”, Jey Denise telah memperkenalkan single perdananya berjudul “Lemme Out” pada Juli 2024.
Lagu tersebut memperlihatkan konsistensinya dalam menghadirkan karya yang relevan dengan perkembangan musik modern, sekaligus memperkuat posisinya sebagai musisi independen yang produktif.
Dengan dua rilisan ini, Jey semakin menegaskan identitasnya sebagai musisi yang mampu menyatukan pengalaman personal dengan tema universal yang menginspirasi.
Saat ini, single “No. 1 Priority” milik Jey Denise sudah tersedia dan dapat didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital.
iMusic.id – Difki Khalif dan Prinsa Mandagie berkolaborasi dalam proyek spesial untuk menghidupkan kembali lagu populer era 2000-an, “Seandainya”. Kolaborasi ini menjadi ruang eksplorasi musikal bagi keduanya, sekaligus menghadirkan interpretasi baru atas lagu yang telah melekat di memori banyak pendengar.
Proyek ini terwujud melalui kolaborasi lintas label antara Musica Studios dan Sony Music yang membuka ruang bagi para artis untuk menafsir ulang karya-karya populer. Dari beberapa pilihan lagu, Prinsa Mandagie menjatuhkan hati pada “Seandainya”, karya band era 2000-an Vierratale (yang sebelumnya dikenal sebagai Vierra).
“Banyak orang tumbuh bersama lagu ini, termasuk aku,” ungkap Prinsa Mandagie. Lagu tersebut memang menjadi salah satu anthem galau yang mewarnai masa remaja generasi 2000-an.
Kolaborasi Prinsa Mandagie dengan Difki Khalif, yang memiliki latar belakang sebagai anak band, menjadi elemen penting dalam proses kreatif ini. Sebagai dua solois dengan karakter vokal berbeda, mereka menjalani workshop untuk menemukan chemistry serta pembagian bagian vokal yang paling harmonis.
“Kami memang punya range suara berbeda, jadi workshop membantu kami menentukan siapa menyanyikan bagian mana supaya tetap harmonis,” jelas Difki.
Meski berasal dari latar musikal yang berbeda, keduanya justru menemukan energi baru dalam proyek ini. Aransemen “Seandainya” dibuat lebih emosional dan segar dengan tambahan sentuhan orkestra, memperkuat karakter pop-rock yang ingin mereka hadirkan.
Bagi Prinsa, pengalaman ini terasa berbeda dari karya-karyanya yang biasanya bernuansa dewasa dan sentimental. “Tantangannya bukan hanya membawakan ulang, tapi bagaimana membuatnya terasa segar, tetap akrab, namun punya warna kami sendiri,” katanya.
Kolaborasi ini juga menjadi ruang belajar bagi keduanya. Prinsa mengeksplorasi sisi lain dari jangkauan vokalnya, sementara Difki beradaptasi dengan dinamika duet yang menjadi pengalaman baru baginya. Proses harmonisasi vokal dirancang oleh Barsena Bestandhi, yang memastikan dua warna suara berbeda tersebut dapat menyatu dengan mulus.
Proses kreatifnya tidak selalu mudah. Mereka mencoba berbagai opsi pembagian suara, menyesuaikan range dan karakter masing-masing hingga menemukan keseimbangan yang tepat. Perbedaan justru menjadi kekuatan yang membuat versi ini terasa segar dan unik.
Momen paling berkesan terjadi saat sesi preview akhir. Ketika aransemen lengkap termasuk elemen orkestra mulai terdengar utuh, keduanya merasakan lagu ini menemukan bentuk barunya: emosional, enerjik, namun tetap mempertahankan esensi lagu aslinya. Seperti yang diungkapkan Prinsa, “Ini bisa jadi versi yang berbeda, tapi tetap familiar.”
“Seandainya” versi Difki Khalif dan Prinsa Mandagie sudah dapat dinikmati di seluruh platform musik digital di Februari 2026.
iMusic.id – Maestro musik Indonesia, Yovie Widianto, kembali menghadirkan karya terbaru lewat kolaborasi yang terasa segar dan hangat. Kali ini, ia menggandeng grup vokal muda KIM yang beranggotakan Arsy Widianto, Rachel (nama belakang), dan Gusty Pratama, bersama penyanyi dengan warna vokal lembut yang khas, Neida Aleida.
Lagu ini dibuka dengan intro a cappella yang intimate, menyoroti kualitas vokal yang menawan, kemudian musik berkembang menjadi komposisi yang kaya namun tetap terasa ringan dinikmati. Siapa sangka, lagu legendaris Yovie Widianto yang begitu sendu dapat diaransemen dengan matang memadukan pop yang elegan dengan sentuhan Light R&B yang smooth, menciptakan suasana yang modern tapi tetap terasa timeless.
Kolaborasi ini terasa seperti pertemuan dua generasi dalam satu ruang yang sama dengan pengalaman panjang dan energi muda saling melengkapi. Vokal yang berpadu dinamis, saling mengisi tanpa saling mendominasi. Produksi musik dari Yovie Widianto terdengar clean dan polished, tapi tetap menyimpan kehangatan yang membuat lagu ini terasa dekat.
Daya tarik lagu milik Yovie Widianto ini tidak datang dengan cara yang berlebihan. Justru sebaliknya, tumbuh perlahan. Semakin sering didengar, semakin terasa detail-detail kecil yang membuatnya istimewa: harmoni yang rapi, groove yang halus, hingga lirik yang meninggalkan kesan.
Dengan nuansa yang elegan namun tetap mudah dicerna, kolaborasi ini membuat karya sang maestro Yovie Widianto menjadi relevan bagi semua generasi dan menjadi sebuah rilisan yang meninggalkan dampak di kancah musik Indonesia.