iMusic – Sukses besar dengan lagu-lagunya, kini sabyan
kembali berkarya dengan menggandeng seorang dara cantik yaitu Hanin
Dhiya. Setelah berhasil memecahkan rekor penjualan cd terbanyak
dalam waktu 6 bulan di salah satu gerai restoran ayam , kini Sabyan
tidak berpangku tangan. Sabyan dengan Hanin Dhya menelurkan karya yang berjudul
“FATIMAH AZ ZAHRA” .
Kekuatan lirik
serta aransement yang menjadi ciri khas Sabyan dalam lagu-lagu hitsnya
seperti Ya Maulana , Aisah , al Waba dan Ramadahan, sempat merajai trending
topic dengan 3 karya sekaligus di platform youtube, kini Ayus
sang pencipta lagu yang juga pemain keyboard Sabyan sangat konsen dalam project
lagu Fatimah Azzahra ini. Semua kemampuan dalam merangkai lirik serta
menciptakan notasi lagu yang memang sudah dapat terbukti, membuat Ayus percaya
diri dengan lagu Fatimah ini .
Sampai akhirnya terpilihlah Hanin Dhiya sebagai kolaborator
dalam lagu Fatimah ini merupakan keinginan Ayus, ini karana karakter vocal
yang dimiliki oleh Hanin dipercaya Ayus dapat melengkapi lagu Fatimah. Hanin
sendiri bukanlah pendatang baru dalam industri musik Indonesia, besar
dengan membawakan lagu lagu cover, Hanin kini berubah menjadi sosok penyanyi
remaja dengan segala kelebihannya .
Bukanlah hal mudah ketika Hanin ikut dalam project ini,
kebiasaan Hanin dalam mengcover lagu tidak dapat menjadi acuan dalam membawakan
lagu Fatimah ini. Tantangan besar menghadapi ketika seorang Hanin dipercaya
oleh Ayus untuk menjadi seorang penyanyi yang berkolaborasi dengan Sabyan .
“Sempet nervous sich ketika tawaran ini masuk,
aku takut hasilnya ga sesuai dengan ekspektasi kakak kakak Sabyan“, ujar Hanin
ketika proses take vocal. Untuk mendapatkan rasa dalam lagu serta pendalaman
material lirik lagu, Ayus dan team sampai mendirect Hanin ketika take vocal ,
ini merupakan salah satu treatment Ayus agar hanin dapat menyanyikan
lagu sesuai dengan rasa dan hasil yang dibayangkan oleh Ayus ketika menciptakan
lagu “Fattimah Azzahra” ini .
Lagu Fatimah ini merupakan sebagian kisah dari anak
baginda Nabi Muhammad S.A.W., dimana ketika itu perjuangan sang rosul dalam
mensyiarkan agama islam yang dibawanya. Pengkiasan lirik dalam lagu ini
merupakan penggambaran seorang Fatimah Azzahra dimana pada saat itu beliau
merupakan anak kesayangan sang rosul, ini karena sikap dan pembawaan Fatimah
Azzahra yang luar biasa sempurna di mata sang rosul. Berbagai perintah dan
arahan sang rosul dijalankan dengan ikhlas dan senang hati demi kecintaannya terhadap
ayahhanda nya yaitu sang rosul Muhammad S.A.W .
Penggambaran seorang saidatinah Fatimah dalam
lirik ini merupakan kiasan indah yang diciptakan oleh Ayus yang memang
mengagumi Fatimah dengan segala kisahnya yang didapat Ayus ketika mendalami
ilmu agama. Penggambaran dalam kitap suci Al Quran maupun hadiz serta kidah
kisah perjalanan rosul yang kita ketahui memang seorang Fatimah Azzahra
merupakan sosok Wanita yang sempurna pada zaman itu .
Terakhir Sabyan serta Hanin Dhiya berharap karya terbaru nya ini dapat diterima oleh para pecinta musik indonesia serta dapat dinikmati oleh semua kalangan pencinta musik indoneisa . (FE)
iMusic.id – Pernah nggak sih merasakan nyaman sama orang yang sering cerita sama kalian? Awalnya mungkin cuma curhat santai, tapi lama-kelamaan kok jadi ingin ketemu terus? Logika mungkin bilang “jangan”, tapi hati nggak bisa kompromi nih! Nah cerita ini yang ingin di-capture oleh Sheryl Sheinafia melalui lagu terbarunya berjudul “Siapa Suruh Jatuh Cinta”.
Single “Siapa Suruh Jatuh Cinta?” dari Sheryl Sheinafia menggambarkan momen tak sengaja di mana logika mulai melambat dan perasaan diam-diam mengambil alih. Awalnya biasa saja, sekadar curhat, lalu entah bagaimana jadi ingin bertemu terus, lebih peka, dan akhirnya sadar bahwa perasaan itu sudah terbaca satu per satu.
“Siapa Suruh Jatuh Cinta? adalah lagu buat kamu yang awalnya nggak pernah ada niat jatuh cinta, tapi tiba-tiba keterusan hehehehe. Mulainya dari hal-hal kecil yang kelihatannya chill, sampai akhirnya kok jadi lebih dari sekadar sahabat. Canggung, jujur, tapi juga bikin ketawa lebih lepas,” cerita Sheryl Sheinafia.
Menurut Sheryl Sheinafia, Secara emosional, lagu ini hadir sebagai teman di segala suasana. Didengarkan saat galau bisa jadi penghibur, saat bahagia jadi penambah rasa, dan saat bengong bisa bikin senyum-senyum sendiri. Sheryl menyebut lagu ini sebagai lagu “lucu” yang relevan di berbagai kondisi.
Single ini ditulis langsung oleh Sheryl Sheinafia dan diproduseri oleh Will Mara. Di balik nuansanya yang ringan, “Siapa Suruh Jatuh Cinta?” juga membawa pesan tersembunyi, yakni menormalkan ekspresi afeksi tanpa rasa takut terlihat norak atau cringe.
“Siapa Suruh Jatuh Cinta?” sudah dapat menjadi teman bagi yang pernah tak sengaja jatuh cinta dengan kekasihnya di Februari ini.
iMusic.id – Band jazz Indonesia Societeit de Harmonie membuka tahun 2026 dengan merilis single terbaru berjudul “Syakara”, sebuah lagu reflektif yang mengajak pendengarnya untuk berhenti sejenak dari keluhan, kecemasan, dan tuntutan hidup modern, lalu kembali pada satu hal mendasar : rasa syukur.
Judul “Syakara” berasal dari bahasa Arab yang berarti syukur. Lagu ini dirilis menjelang bulan Ramadhan dan sekaligus menjadi single pertama Societeit de Harmonie di tahun 2026, menandai fase baru perjalanan band setelah dua tahun berkarya secara konsisten. Bagi Societeit, momen ini menjadi pengingat untuk memulai tahun dengan kesadaran akan hal-hal baik yang sudah dan masih dimiliki, alih-alih terus terjebak pada kekurangan.
Secara lirik, “Syakara” berbicara tentang kecenderungan manusia untuk terjebak dalam fantasi, harapan, dan penyesalan, memikirkan masa depan yang belum terjadi atau masa lalu yang tak bisa diubah. Padahal, tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Meskipun hidup sering kali terasa berat, cara kita meresponsnya tetap bisa dipilih. Bersyukur, sekecil apa pun alasannya, menjadi titik awal untuk melihat hidup dengan lebih jernih.
Pendekatan musikal “Syakara” terasa ringan namun berlapis. Aransemen horns yang digarap Dave Rimba memanfaatkan permainan horn yang saling bertabrakan namun tetap harmonis, merepresentasikan kompleksitas pikiran manusia yang kerap kalut. Kekalutan ini tidak digambarkan dalam nada muram, namun justru hadir dengan nuansa hangat dan gembira, sebuah kontras yang disengaja untuk menegaskan bahwa refleksi dan penerimaan tidak selalu harus dibalut kesedihan.
Kolaborasi dengan Natasya Elvira menjadi elemen penting dalam lagu ini. Selain sebagai vokalis, Natasya juga bertindak sebagai penulis lagu dan project manager, terlibat sejak tahap paling awal. Sosoknya yang masih terbilang muda cocok untuk menyampaikan pesan pendewasaan hidup dengan cara yang terasa dekat dan relevan bagi generasinya, lebih sebagai obrolan antar teman, bukan nasihat yang menggurui. Vokal vintage-nya memperkuat karakter kontemplatif lagu ini.
“Syakara” bukan lagu religi, melainkan lagu reflektif yang inklusif. Lagu ini ditujukan untuk didengarkan dalam keseharian : saat menyetir, berjalan kaki, naik transportasi umum, atau melakukan rutinitas. Dengan nada yang cerah dan lirik yang lugas, “Syakara” mengajak pendengarnya untuk sing away their problems alias melepaskan keresahan melalui nyanyian.
Artwork lagu ini menampilkan figur yang tertawa, sebuah visual yang merepresentasikan gagasan utama “Syakara” : di balik senyum, setiap orang mungkin sedang memikul masalahnya masing-masing. Namun dengan bersyukur dan menerima, beban itu bisa terasa lebih ringan, karena badai pasti berlalu.
“Syakara” juga menjadi bagian dari rangkaian menuju EP “Ulangan”, yang dijadwalkan rilis dua bulan setelahnya. Melalui “Syakara”, Societeit de Harmonie menyampaikan doa sederhana : agar pendengarnya terbebas dari pikiran-pikiran negatif yang membebani hari-hari, dan bisa menjalani hidup dengan lebih ringan bukan karena masalah hilang, tetapi karena rasa syukur kembali menemukan tempatnya.
iMusic.id – Amanda Mutia merilis single terbarunya berjudul “Peluk”, sebuah lagu pop ballad yang mengangkat tema kehangatan emosional dan kebutuhan akan kehadiran seseorang di saat perasaan sedang lelah dan rindu. Lagu ini menjadi rilisan perdana dari Project Alfa, sebuah program kolaborasi antara Alfa Pustaka Nada sebagai penerbit musik (music publishing) dan AlfaRecords sebagai label musik.
“Peluk” dari Amanda Mutia merepresentasikan momen ketika seseorang tidak selalu membutuhkan solusi, melainkan pengertian dan rasa aman. Lagu ini hadir sebagai refleksi tentang rindu, kehilangan, dan keinginan untuk tetap merasa ditemani.
Sebagai penyanyi yang dikenal mengekspresikan cerita personal melalui musik, Amanda Mutia menghadirkan “Peluk” dengan pendekatan yang jujur dan intim. Aransemen yang sederhana memberi ruang pada karakter vokalnya yang lembut dan ekspresif, sehingga emosi lagu terasa dekat dengan pengalaman banyak pendengar.
Project Alfa merupakan program kolaborasi antara Alfa Pustaka Nada dan AlfaRecords yang berfokus pada kurasi dan perilisan karya musik, dengan penekanan pada sistem rilis yang jelas serta perlindungan hak cipta bagi para musisi.
Single “Peluk” kini telah tersedia di berbagai platform musik digital dan menjadi langkah awal perjalanan Project Alfa dalam menghadirkan karya-karya baru dari talenta terpilih.