iMusic – Shandy Septian atau yang akrab dikenal dengan nama Shandy dikenal sebagai juara 3 dalam ajang pencarian bakat menyanyi Pop Academy (POPA) Indosiar musim pertama. Bersama label Trinity Optima Production, lelaki asal Jambi ini merilis single perdana berjudul “Aku yang Tak Bisa”.
“Aku yang Tak Bisa” berkisah tentang perasaan seseorang yang belum bisa melepaskan sosok yang ia cintai dan menyesal atas kesalahan yang pernah dilakukan. Dua hal itu menjadikan perasaan orang itu semakin sulit untuk disatukan kembali.
Lagu ini ditulis oleh empat orang, yakni Shandy, Aldi Fachrobby dan Raymond Aditya C. dari Roommate Project, serta Alyssia Eunike Soetedjo, A&R Trinity Optima Production. Berbekal dari keinginan Shandy yang ingin membawakan lagu yang relate dengan banyak orang serta musik yang merepresentasikan dirinya, keempatnya melakukan workshop hingga terciptalah “Aku yang Tak Bisa”.
“Lagu “Aku yang Tak Bisa” ini bercerita tentang hubungan yang telah kandas, yang mana sosok perempuan dalam lagu ini memilih pergi daripada bertahan dengan kekasihnya. Hal itu membuat sang lelaki sadar bahwa dia tidak bisa hidup tanpa cinta sang pujaan hati. Lagu ini terinspirasi dari miskomunikasi antar-pasangan yang kerap terjadi di saat pandemi COVID sedang parah-parahnya. Penulisan lagu di November 2021, proses rekaman di 13 April 2022, dan shooting video klip di 13 September 2022,” jelas Shandy.
Meski sempat mengalami sedikit kesulitan karena liriknya yang emosional dan suasana lagunya yang sendu, proses rekaman “Aku yang Tak Bisa” berjalan lancar. Begitu juga dengan shooting video klipnya yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Meski ini adalah video musiknya pertamanya, pria yang mengawali karier menyanyinya sebagai penyanyi reguler di sebuah cafe di Jambi ini mampu memberikan akting yang baik dan paham akan arahan sang sutradara, Rizaldi Fadilah.
“Harapan aku, semoga “Aku yang Tak Bisa” banyak yang suka dan relate dengan banyak pendengar dan apa yang aku persembahkan diterima oleh masyarakat luas. Semoga aku juga bisa merilis album suatu saat ini,” ucap Shandy.
“Keberhasilan Pop Academy Indosiar di musim pertamanya, diimbangi dengan para juara yang juga sudah mengeluarkan single terbaiknya seperti Waode POPA dengan “Cinta Tanpa Tapi” yang mencapai views 5,3 juta, Agnes POPA dengan single religinya “Nawaitu Surga” yang juga dipakai sebagai theme song FTV Pintu Berkah Indosiar. Kali ini, Shandy POPA juga mengeluarkan single perdananya berjudul “Aku yang Tak Bisa” yang diciptakan Shandy bersama rekannya.
Lagu ini bercerita tentang kisah cinta pelik dan rumit yang sering terjadi, dinyanyikan Shandy dengan vokalnya yang sangat berkarakter dan khas menjadi lagu yang indah. Semoga “Aku yang Tak Bisa” ini bisa menjadi sukses dan viral serta diterima pecinta musik di Indonesia, dan juga menghibur masyarakat Indonesia,” terang Harsiwi Achmad, Direktur SCM.
“Shandy adalah pribadi yang humble dan chil. Secara musik dan sebagai seorang penyanyi, Shandy sangat fleksibel. Suara serak rock-nya keren, dan range juga cukup besar. Meski demikian, kami ingin Shandy memiliki diferensiasi dengan penyanyi-penyanyi solo pria lainnya. Itu kenapa proses penulisan lagu hingga rekaman dan mastering single perdananya ini cukup lama, karena kami ingin musik Shandy dapat merepresentasikan personalitas dan musikalitasnya,” kata Dwi Santoso, Head A&R (Music Production & Talent Scouting) Trinity Optima Production. (FE)
iMusic.id – Clownsuffer resmi memperkenalkan “Drag Me Out” sebagai debut single mereka di ranah modern metalcore. Lagu ini bukan sekadar langkah awal dalam diskografi, melainkan pembuka dari rangkaian album yang telah mereka siapkan secara menyeluruh sejak terbentuk pada 2023.
Clownsuffer terdiri dari Iyas (Vocal), Kittink (Lead Guitar), Agam (Guitar), Toro (Bass), dan Hendra (Drum). Materi yang mereka kembangkan dirancang sebagai satu kesatuan karya yang saling terhubung, sehingga setiap rilisan menjadi bagian dari alur musikal dan emosional yang lebih luas.
Di balik “Drag Me Out” terdapat fase personal yang tidak ringan bagi para personel Clownsuffer. Selama proses penulisan dan produksi, masing-masing menghadapi dinamika hidup yang cukup kompleks. Tekanan tersebut tidak dihindari, melainkan diterjemahkan menjadi energi kreatif. Lagu ini lahir dari pengalaman yang nyata, bukan sekadar gagasan konseptual.
Secara musikal, “Drag Me Out” tampil dengan intensitas konstan Clownsuffer dari awal hingga akhir, menghadirkan struktur padat dan minim jeda yang menciptakan sensasi terdesak. Riff agresif, dinamika yang rapat, serta vokal yang ekspresif membangun atmosfer yang selaras dengan lirik tentang konflik internal, keterjebakan dalam pilihan, dan dorongan untuk merebut kembali kendali.
Lagu ini tidak hadir sebagai permintaan untuk diselamatkan, melainkan sebagai pernyataan untuk keluar dengan kesadaran dan keberanian. Single ini menjadi pintu masuk menuju rilisan berikutnya. Alih-alih melepas album secara penuh, Clownsuffer memilih strategi perilisan bertahap, memperkenalkan setiap lagu sebagai bagian dari narasi yang berkembang secara berkelanjutan.
Aspek visual menjadi elemen penting dalam identitas proyek ini. Artwork untuk “Drag Me Out” digarap oleh @lime_hystrixx, young illustrator yang menghadirkan visual simbolik melalui elemen mata, tangan, ular, dan rantai sebagai representasi tekanan serta pembebasan. Proses kreatif berlangsung kolaboratif antara band, ilustrator, producer, serta tim mixing & mastering guna menjaga kesinambungan konseptual di setiap rilisan.
“Drag Me Out” kini telah tersedia di berbagai platform streaming digital. Melalui rilisan ini, Clownsuffer menegaskan posisinya sebagai band modern metalcore dengan visi jangka Panjang, membangun karya yang tidak hanya intens secara musikal, tetapi juga memiliki fondasi naratif dan konseptual yang jelas sejak awal.
iMusic.id – Bassis legendaris sekaligus salah satu pendiri grup rock God Bless, Donny Fattah, meninggal dunia pada Sabtu (7/3) di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, dalam usia 76 tahun.
Kabar duka tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi God Bless pada pukul 11.40 WIB.
“Berita duka cita. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah meninggal dunia Donny Fattah, bassist sekaligus salah seorang pendiri God Bless, saudara kami tercinta, di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta,” tulis akun tersebut.
Manajemen band itu juga memohon maaf atas segala kesalahan almarhum serta mendoakan agar amal dan kebaikan Donny diterima di sisi Tuhan.
Donny Fattah dikenal sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan musik rock Indonesia. Bersama Ahmad Albar, Ian Antono, dan sejumlah musisi lainnya, ia mendirikan God Bless pada 1973 yang kemudian menjadi salah satu band rock paling berpengaruh di Tanah Air.
Sejumlah album God Bless yang dirilis pada era 1970–1980-an menjadi tonggak perkembangan musik rock Indonesia, di antaranya God Bless (1975), Cermin (1980) dan Semut Hitam (1988).
Selain dikenal sebagai pemain bass, Donny juga terlibat dalam proses penciptaan berbagai lagu God Bless yang kemudian menjadi karya penting dalam katalog musik band tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Donny diketahui menjalani perawatan akibat sejumlah masalah kesehatan, antara lain serkopenia, penyumbatan vaskular serta penyakit autoimun. Ia juga mengonsumsi obat jantung setelah menjalani pemasangan ring pada 2012.
Meski kondisi kesehatannya menurun, Donny tetap berusaha tampil bersama God Bless dalam sejumlah kesempatan.
Kepergian Donny Fattah meninggalkan duka bagi keluarga, rekan musisi, serta para penggemar musik rock Indonesia. Ucapan belasungkawa pun mengalir di berbagai platform media sosial.
Warisan karya dan kontribusinya dalam musik rock Indonesia diperkirakan akan terus dikenang oleh generasi berikutnya (RR)
iMusic.id – Band pop Billkiss kembali menghadirkan karya terbaru berjudul “Layar Hati”, sebuah lagu manis yang mengangkat kisah cinta yang berawal dari dunia digital. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang jatuh hati pada pandangan pertama melalui media sosial, perasaan yang awalnya hanya hadir lewat layar, namun perlahan tumbuh menjadi nyata.
Dalam cerita yang dihadirkan melalui lagu ini, sosok yang semula hanya bisa dipandangi dari layar handphone akhirnya hadir dalam kehidupan nyata. Ia menjadi teman berbagi cerita, hingga pada akhirnya menjelma menjadi teman hidup selamanya.
“Layar Hati” ditulis oleh Helvi Eriyanti, bassist Billkiss. Proses rekaman lagu ini dilakukan di Lancar Jaya Studio, dengan dukungan musisi Acoy Rocker Kasarunk dan Band Omom yang turut membantu dalam proses aransemen. Sementara itu, proses mixing juga dikerjakan oleh Acoy di studio yang sama.
Meski proses penciptaannya terbilang cukup singkat, lagu ini lahir dari fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang saat ini. Helvi mengungkapkan bahwa di era digital, tidak sedikit kisah cinta yang bermula dari percakapan di media sosial atau pertemuan melalui layar ponsel.
“Banyak orang sekarang yang menemukan cinta dari layar handphone. Awalnya cuma chatting, saling melihat lewat media sosial, tapi lama-lama bisa jadi hubungan yang nyata. Dari situ ide lagu ini muncul,” ujar Helvi.
Sementara itu, Maulin, vokalis Billkiss, berharap lagu ini bisa menjadi lagu yang dekat dengan pengalaman para pendengarnya.
“Kisahnya sangat relate dengan kehidupan sekarang. Semoga ‘Layar Hati’ bisa diterima dengan baik dan menjadi soundtrack dalam perjalanan cinta banyak orang,” kata Maulin.
Masih mengusung genre pop dengan nuansa manis dan ceria, “Layar Hati” menghadirkan warna musik khas Billkiss yang hangat, ringan, dan penuh rasa cinta.
Single “Layar Hati” kini sudah dapat dinikmati di berbagai digital streaming platform.