iMovies
Anak Muda Jago dan Dapur Film persembahkan film “Rahasia Rasa” di 20 Februari
Published
1 year agoon
By
Frans EkoiMusic.id – Rumah produksi Anak Muda Jago dan Dapur Film sukses menggelar Gala Premiere film terbaru mereka, “Rahasia Rasa”. Bertempat di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta, acara ini menjadi malam istimewa yang dipenuhi antusiasme dan rasa penasaran akan sebuah kisah yang tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menggugah selera!

Film yang siap tayang mulai 20 Februari 2025 ini mempersembahkan perpaduan antara cinta, ambisi, dan rahasia kuliner Nusantara yang tak lekang oleh waktu. Acara ini semakin meriah dengan kehadiran para pemain utama, termasuk Jerome Kurnia (Ressa), Nadya Arina (Tika), Valerie Thomas (Dinda), Ciccio Manassero (Alex), Slamet Rahardjo (Subroto), dan Yati Surachman (Mbah Wongso), serta produser Arsa Linggih dan sutradara Hanung Bramantyo.
Acara ini memberikan kesempatan kepada media dan tamu undangan untuk menyelami lebih dalam dunia Rahasia Rasa, yang menghadirkan keindahan budaya dan kelezatan masakan Indonesia dalam satu narasi sinematik yang memikat.

Film “Rahasia Rasa” mengisahkan perjalanan Ressa, seorang chef ambisius yang hidupnya berubah drastis setelah kehilangan indra pengecapnya. Dalam pencariannya untuk menemukan kembali makna rasa, ia bertemu kembali dengan Tika, sahabat masa kecil yang membawanya pada rahasia terbesar dalam dunia kuliner Nusantara.
Di balik buku legendaris Mustikarasa, tersimpan kisah lama yang mengikat banyak takdir, termasuk pengkhianatan dari orang yang paling dipercayainya. Film ini bukan sekadar drama romantis, tetapi juga eksplorasi mendalam tentang bagaimana makanan menyimpan sejarah, emosi, dan bahkan jawaban atas pencarian jati diri.

Dalam sesi konferensi pers, Arsa Linggih, selaku produser, berbagi visi dan misinya. “Anak Muda Jago hadir untuk memberikan sesuatu yang baru dan berbeda bagi industri perfilman Indonesia. Kami ingin menghadirkan cerita-cerita segar yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan pengalaman sinematik yang unik. Rahasia Rasa adalah langkah awal dari perjalanan panjang kami, dan kami berharap setelah film ini, akan lahir lebih banyak karya yang berani mengeksplorasi tema-tema menarik dan memberikan pilihan tontonan berkualitas bagi penikmat film Tanah Air.”
Sementara itu, Jerome Kurnia, pemeran utama, mengungkapkan tantangannya selama produksi. “Memerankan Ressa bukan hanya tentang akting, tapi juga belajar memahami dunia kuliner. Saya harus benar-benar belajar memasak dan memahami teknik seorang chef,” ujarnya.

“Selain itu, mas Hanung sebagai sutradara juga totalitas saat pengerjaan film ini, sampai mengajak Gregory, seorang food stylist terkenal untuk mendampingi saya dan para cast, agar bisa memberikan yang terbaik untuk film ini. Ini adalah pengalaman yang luar biasa, dan saya harap penonton bisa ikut merasakan perjalanan emosional Ressa,” ucap Jerome menambahkan.
Tak hanya di Jakarta, “Rahasia Rasa” juga akan menggelar gala premiere di Bali pada 15 Februari 2025. Sebagai destinasi kuliner dan budaya yang kaya, Bali menjadi tempat sempurna untuk memperkenalkan film ini lebih awal kepada para penonton yang siap terhanyut dalam cerita dan visual yang menggoda.
You may like
-
Film “GJLS : Ibuku Ibu Ibu” siap sebarkan kelucuan
-
Trio Rigen, Rispo dan Hifdzi lucu abis di teaser trailer film GJLS : Ibuku Ibu Ibu
-
Poster kedua film “Perang Kota” resmi dirilis
-
Dua film karya sutradara wanita Indonesia Tayang di IFFR 2025
-
Film ‘Rahasia Rasa’ rilis video first look nya
-
‘Kuasa Gelap’, film horor dalam sudut pandang katolik yang merilis poster dan trailer resmi
-
Tayang 3 Oktober, film “Kuasa Gelap” sajikan film pengusiran setan ala Katolik
-
Film “Sekawan Limo” akan segera hibur penonton nasional di awal Juli 2024
-
teka-teki misteri dari sebuah gameboard kuno di film ‘Sehati Semati’
-
Film “Romeo Ingkar Janji” siap tayang di bioskop 25 juli 2024
iMovies
Film drama “Dalam Sujudku” siap tayang 16 April 2026.
Published
1 week agoon
April 11, 2026By
Frans Eko
iMusic.id – Film “Dalam Sujudku” produksi Proj3ct 69 siap tayang 16 April 2026, film ini merupakan perpaduan emosi, spiritualitas, serta refleksi kehidupan yang relevan dengan kehidupan masyarakat, terkait dinamika rumah tangga dan pencarian makna spiritual di tengah ujian kehidupan. Dibintangi Marcell Darwin, film ini mengangkat kisah nyata tentang perjalanan rumah tangga, ujian hidup, dan pencarian makna spiritual dalam rumah tangga yang menyentuh hati.

Disutradarai oleh Rico Michael dan diproduseri Donnie Syech, film “Dalam Sujudku” ini mengusung cerita tentang perjalanan rumah tangga yang diuji oleh berbagai persoalan hidup, menggambarkan kekuatan Doa, keikhlasan, serta makna berserah diri kepada Tuhan.
Deretan pemain Marcell Darwin, Denis Adhiswara, Vinessa Inez, Naura Hakim, Ryuka, Chika Waode hingga Dominique Sanda. Mereka menghadirkan performa emosional yang kuat dan autentik, memperkuat pesan moral yang ingin disampaikan dalam cerita drama rumah tangga di film “Dalam Sujudku” ini.
Sutradara Rico Michael menegaskan bahwa film “Dalam Sujudku” ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki rasa emosional serta nilai reflektif yang mendalam dikehidupan rumah tangga. “Film ini kami hadirkan sebagai refleksi bagi mereka yang merasa berada di titik terendah. Pesan bahwa harapan itu selalu ada, dan Tuhan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya,”
Dari situ saya melihat ada pesan spiritual yang sangat kuat untuk diangkat ke layar lebar,” jelasnya. Pesan utama film ini adalah tentang bagaimana MEMAAFKAN dan ketika kita menyerahkan masalah kehidupan dalam DOA maka menemukan kekuatan DALAM SUJUD.
Ketika benar-benar pasrah, di situlah kita belajar berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jawaban Tuhan tidak selalu datang sesuai harapan, tetapi di situlah letak makna Doa dan pembelajaran yang sesungguhnya,” ujar Rico.

Dengan kombinasi kisah nyata, akting emosional, dan pesan religi yang kuat, Dalam Sujudku diharapkan menjadi salah satu film drama spiritual yang relevan bagi masyarakat.
Sementara itu, Denis Adhiswara mengaku mendapatkan pengalaman baru yang cukup menantang saat memerankan karakter seorang ustaz.
“Biasanya kan saya peran cuek, kocak, cengengesan, bahkan sadis. Tapi di film ini sungguh membekas“Saya harus maksimal menjelaskan sebagai ustaz, bukan hanya di film, tapi juga bagaimana pesan itu bisa sampai ke penonton,” lanjutnya.
Vinessa Inez yang memerankan Aisyah juga mengaku mendapatkan pengalaman emosional yang mendalam.“Saya belajar banyak dari karakter Aisyah yang selalu berpikir positif dan yakin bahwa semua akan indah pada waktunya,” ungkap Vinessa.
Naura Hakim sosok yang menjadi sumber konflik dalam cerita.“Karakter ini bukan sosok yang mudah, karena berada di posisi yang sering dipandang negatif. Tantangannya adalah menghadirkan sisi manusiawi dari karakter ini,” “Saya berusaha memahami latar belakangnya agar tidak hanya terlihat sebagai antagonis, tetapi juga punya kedalaman emosi,” ujar Naura
Chika Waode, sahabat Aisyah yang memberi nafas segar dalam cerita, sekaligus memerankan karakter tukang gosip yang turut mewarnai dinamika konflik.“Sebagai karakter tukang gosip dalam film ini, menjadi penyambung lidah masyarakat, jujur tidak terlalu sulit untuk saya perankan,” Walaupun syuting di luar kota, suasananya sangat menyenangkan,” ujarnya, Semua cast juga menyenangkan, jadi prosesnya terasa mengalir berjalan lancar dan penuh kebersamaan, ” tambahnya.

Selain kekuatan cerita, Dalam Sujudku juga diperkuat oleh original soundtrack (OST) berjudul “Titipan Ilahi” yang dinyanyikan oleh Evelyn Wijaya, juara Voice Hunt 2025. Lagu ini diciptakan oleh Yusoff Al Aswad dan Amin Majid,
Ada 4 lagu yang menjadi Soundtrack Film Dalam Sujudku yaitu Titipan Ilahi, Tanpa Arah dan Menggoda yang merupakan ciptaan Mamu Blacksweet serta Cintaku tak ada yang punya karya Ferdy Tahier.
Dengan kombinasi Kisah Nyata, Akting Emosional, dan Pesan Religi yang kuat, “Dalam Sujudku“ diharapkan menjadi salah satu film Drama Keluarga yang relevan bagi masyarakat dengan dinamika kehidupan rumah tangga yang membawa pesan Emosi secara mendalam.
iMovies
Film “Shaka Oh Shaka” produksi Starvision akan tayang perdana 7 Mei 2026
Published
1 week agoon
April 10, 2026By
Frans Eko
iMusic.id – Film terbaru dari Starvision berjudul “Shaka Oh Shaka” akan tayang di Bioskop pada 7 Mei 2026. Film ini adalah karya sutradara Dinna Jasanti dan penulis skenario Rino Sarjono, yang sebelumnya menghadirkan drama kehangatan keluarga melalui Film “Senin Harga Naik” di Lebaran 2026. Kolaborasi terbaru dengan Produser Chand Parwez Servia, menghadirkan kisah cinta seorang fans dengan idolanya, yang harus menghadapi realita pasang surut popularitas dan perjuangan menggapai mimpi.

Film “Shaka Oh Shaka” menceritakan tentang Ocel, (Arla Ailani) mahasiswi sederhana yang mengidolakan Shaka (Kiesha Alvaro) seorang penyanyi terkenal. Pertemuan di konser Shaka mengubah semuanya. Kedekatan yang bermula dari kekaguman, berkembang jadi cinta yang saling menguatkan. Hubungan mereka diuji kenyataan hidup yang silih berganti. Akankah mereka bisa tetap bertahan?
Melalui Official Trailer Film “Shaka Oh Shaka”, ditampilkan perjuangan Shaka dalam meniti karir bermusiknya, sekaligus memperlihatkan kegelisahan Ocel yang harus menerima status hubungan mereka yang disembunyikan demi membantu karir kekasihnya. Ocel mencari cara untuk menggapai mimpinya yang sudah lama tertunda, walaupun tanpa disadari skenario situasi hubungan mereka mendekati titik toxic. Tetapi kasih sayang dan dukungan satu sama lain menjadi kekuatan untuk terus menggapai mimpi melalui pembuktian keberhasilan dalam karir.
Disampaikan penuh kehangatan, kekeluargaan, dengan balutan komedi yang menghibur, diiringi lagu “Melompat Lebih Tinggi” dari Sheila on 7 yang di cover ulang oleh Kiesha Alvaro, “Lihat Kebunku (Taman Bunga)” dari Aku Jeje, “Satu Tuju” dari Raissa Anggiani, “Just Like A Star” dari Michael Aldi & Cornellia Nadya yang di cover ulang oleh Kiesha Alvaro & Arla Ailani, juga satu lagu yang diciptakan khusus dan dinyanyikan oleh Kiesha Alvaro, berjudul “Oxtella”.

Selain Kiesha Alvaro dan Arla Ailani, Film “Shaka Oh Shaka”menghadirkan deretan pemain yang piawai memerankan karakter-karakter mereka di Film, di antaranya: Artika Sari Devi, Vira Yuniar, Joshua Suherman, Maisha Kanna, Dennis Adishwara, Teuku Ryzki, Amel Carla, Adzana Ashel, Mazaya Amania, Altaaf Akavi, Sadana Agung, Arie Nugroho, Leya Princy, Nicholas Calame, Adzando Davema, Clairine Clay, Kiki Narendra, Lam Ting, Baim, Ben Kasyafani, Shakeel Fauzi, Shaqueena Medina, Alfian Phang, Desthalia Florenza, Farel Alvarez dan lain-lain.
Chand Parwez Servia selaku produser menyampaikan, “Film “Shaka Oh Shaka”mengangkat tema yang sangat dekat dengan banyak penonton. Bagaimana kita pernah memiliki khayalan untuk dapat berinteraksi secara langsung dengan idola kita, dan mengetahui apa yang terjadi di belakang panggung. Karakter Shaka dan Ocel juga menjadi representasi untuk kita memperjuangkan mimpi, meskipun hambatan hadir silih berganti.
Sutradara Dinna Jasanti membungkus permasalahan ini dengan sudut pandang baru yang apik, berangkat dari skenario Rino Sarjono yang diadaptasi dari novel best seller karya Jocelyn Suherman.”

“Shaka Oh Shaka”adalah cerita tentang impian, kenyataan dan cinta. Hubungan romantis yang tumbuh dari rasa kagum dengan seorang idola menjadi rasa cinta sebagai pasangan. Seiring waktu, rasa sayang bertumbuh di antara realitas kehidupan yang semakin menantang. Padahal yang akan mempertahankan cinta adalah keyakinan dan keberanian untuk tetap berkembang dan saling mendukung.”, Dinna Jasanti selaku Sutradara menambahkan.
Jocelyn Suherman selaku penulis novel menyampaikan “Film “Shaka Oh Shaka”ini proses pengembangan cerita yang sangat panjang, cerita yang awalnya saya tulis sebagai ekspresi rasa cinta saya untuk idola saya, ditulis ke dalam novel, dan sekarang menjadi film. Semoga Film ini dapat mewakili penonton yang memiliki idola, dengan dinamika keseruannya.”
“Film “Shaka Oh Shaka”ini sangat berarti bagi kami, karakter Shaka memberikan pelajaran untuk saya, tentang eksistensi juga pembuktian dalam berkarya dan memperjuangkan cinta. Tentang pengorbanan dan pengkhianatan, sekaligus pengingat pasang surut karir yang dipadukan sebagai rangkaian kisah tentang terus bertumbuh.” Ungkap Kiesha Alvaro.

Arla Ailani menambahkan “Shaka dan Ocel menghadirkan pembuktian cinta dan mimpi yang seyogianya bisa berjalan beriringan, dengan menjadi yang terbaik untuk pasangan. Sebuah perjalanan berliku dalam menemukan belahan jiwa.”
Nantikan Film “Shaka Oh Shaka”tayang di Bioskop mulai 7 Mei 2026.
iMovies
Film horor “The Bell : Panggilan Untuk Mati” perkenalkan hantu asal Belitung
Published
2 weeks agoon
April 8, 2026By
Frans Eko
iMusic.id – Industri horor Indonesia kembali memanas dengan hadirnya film “The Bell: Panggilan untuk Mati”, film terbaru hasil kolaborasi produksi Sinemata Buana Kreasindo yang resmi merilis poster utamanya. Film ini memperkenalkan Penebok, sosok hantu tanpa kepala dari mitos Belitung yang digambarkan sebagai entitas yang bangkit dan siap menjadi teror baru tahun ini. Film “The Bell: Panggilan untuk Mati” akan tayang di bioskop 7 Mei 2026.

Di tengah tren film horor lokal yang terus mendominasi pasar, “The Bell: Panggilan untuk Mati” hadir dengan pendekatan berbeda : mengangkat folklore yang masih jarang tereksplorasi ke layar lebar. Penebok bukan sekadar figur menyeramkan, tetapi representasi dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat.
Poster “The Bell: Panggilan untuk Mati” yang dirilis memperlihatkan atmosfer gelap dan mencekam, dengan visual Penebok sebagai pusat ancaman. Sosok tanpa kepala berbalut gaun merah ini menghadirkan rasa tidak utuh yang justru memperkuat elemen teror sekaligus membangun identitas horor baru yang kuat.
Sutradara “The Bell: Panggilan untuk Mati”, Jay Sukmo, menyampaikan bahwa film ini ingin memperluas cara pandang penonton terhadap horor Indonesia. “Horor Indonesia sedang berada di fase yang sangat menarik. Penonton tidak hanya mencari rasa takut, tetapi juga cerita yang punya akar budaya. Penebok kami hadirkan sebagai representasi dari kekayaan cerita lokal yang belum banyak diangkat.”
Sementara itu, produser Rendy Gunawan yang berkolaborasi dengan Aris Muda sebagi produser, menekankan pentingnya membangun karakter yang ikonik dalam lanskap horor saat ini.“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang bukan hanya menakutkan, tapi juga punya identitas kuat. Penebok adalah upaya kami menciptakan ikon horor baru yang lahir dari budaya sendiri dan bisa diingat penonton dalam waktu lama.”

Mengambil latar dengan nuansa urban dan mistis khas Belitung, “The Bell: Panggilan untuk Mati” menghadirkan pengalaman horor yang baru dan segar, sekaligus memperkuat posisi cerita lokal di tengah persaingan industri film nasional.
Budi Yulianto selaku produser eksektuif menjelaskan bahwa ide film ini lahir dari pengalaman pribadinya saat berkunjung ke kawasan bersejarah peninggalan Belanda di Bukit Samak, Manggar. Ia merasa Belitung memiliki potensi besar untuk memperkenalkan urban legend yang belum pernah terangkat ke layar lebar, yakni sosok Penebok yang berkaitan erat dengan sejarah kelam pertambangan timah.
“Kami ingin mengangkat urban legend dari masyarakat Belitung ke kancah nasional. Sejak kecil, anak-anak di sana selalu diperingatkan agar tidak main terlalu jauh ke hutan kalau tidak mau diambil oleh Penebok. Kami melalui proses riset yang panjang untuk mengaitkan legenda ini dengan sejarah masa kolonial.”
Sebagai produser, Aris Muda memiliki visi untuk menciptakan ikon horor baru di Indonesia. Baginya, khasanah horor nasional tidak boleh terjebak hanya pada sosok pocong atau kuntilanak, sementara banyak daerah memiliki mitologi yang jauh lebih mencekam seperti Penebok dan misteri lonceng keramat.

Penulis naskah dan sutradara sepakat bahwa kekuatan utama film ini terletak pada jalinan cerita yang emosional, di mana rasa takut dibangun melalui cerita dan atmosfer mencekam, bukan sekadar kejutan visual.
Para pemeran utama melakukan pendalaman karakter yang luar biasa, mulai penguasaan dialek Belitung yang kental hingga memahami filosofi tanggung jawab dalam tradisi setempat.
“The Bell: Panggilan untuk Mati” dibintangi oleh : Ratu Sofya, Bhisma Mulia, Shaloom Razade, Givina Dewi, Mathias Muchus, Septian Dwi Cahyo, Nabil Lunggana dan Maulidan Zuhri.
