Jakarta, April 2026 — Bayu Randu kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai produser musik melalui proyek terbarunya bersama band rock Gerimis. Mengusung konsep “band baru muka lama”, proyek ini mempertemukan musisi-musisi berpengalaman dengan karakter kuat dalam satu formasi yang solid. Bayu menyebut tantangan terbesar dalam proyek ini adalah menyatukan identitas musikal para personel yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
“Tantangannya justru di situ—mereka semua sudah punya karakter masing-masing yang nggak bisa diubah. Jadi fokusnya bagaimana bikin semuanya bisa ngeblend dalam satu orkestrasi musik yang tetap modern,” ujarnya.
Gerimis sendiri terbentuk pada Februari 2026 dan bergerak cepat. Dalam waktu dua bulan, band ini telah merilis single perdana “So Lonely” pada 22 April 2026 melalui Musicblast.id dan berbagai platform digital. Band ini dihuni oleh deretan musisi senior dengan rekam jejak panjang di skena musik Indonesia. Di lini vokal, Amirzidane (Muhammad Amirudin) dikenal pernah terlibat dengan Slank (sebagai kru dan proyek Jaddah Slank), serta menjadi vokalis Keraton dan solois.
Di sektor gitar, Luciano (Bule) merupakan sound engineer sejak tahun 2000 sekaligus gitaris The Sign, didampingi Ary. Sementara itu, lini ritme diisi oleh Jaka Jackers (Jaka Hidayat), mantan drummer Wahh Band, Power Slaves, dan BIP, berpadu dengan Obin, bassist dari Steven Jam. Menambah kekuatan musikal, Gerimis juga melibatkan Adrian Sidharta sebagai featuring—figur penting dalam sejarah awal Slank yang dikenal sebagai kibordis pada formasi awal (formasi ke-3 hingga ke-5). Kehadirannya menghadirkan warna keyboard bernuansa vintage yang memperkuat karakter lagu.
Dalam proyek ini, Bayu tidak hanya bertindak sebagai produser, tetapi juga menjalankan hampir seluruh proses produksi secara mandiri—mulai dari recording, mixing, mastering, hingga produksi video klip sebagai kameraman dan editor. “Ini semuanya gue yang kerjain—recording, mixing, mastering, video klip, sampai press release. Waktunya sangat mepet, jadi memang harus jalan sendiri,” tambahnya. Pendekatan ini bukan hal baru. Sebelumnya, Bayu juga dikenal terlibat dalam berbagai proyek band rock Indonesia seperti Edane, Funky Kopral, dan Voodoo.
Single “So Lonely” menjadi representasi arah musikal Gerimis—perpaduan nuansa rock klasik dengan sentuhan produksi modern. Untuk strategi promosi, Bayu mengandalkan pendekatan berbasis data digital. “Kita lihat dulu dari data dan algoritma—lagu ini bergeraknya ke mana, siapa yang dengerin. Setelah kelihatan pasarnya, baru kita gas lebih jauh,” jelasnya.Melalui proyek ini, Bayu Randu kembali menegaskan pendekatannya sebagai produser—menggabungkan pengalaman musisi senior dengan arah sound yang relevan bagi pendengar masa kini.
Clownsuffer resmi memperkenalkan single debut mereka bertajuk “Drag Me Out”, menandai langkah awal di ranah modern metalcore dengan pendekatan yang intens dan konseptual. Lagu ini bukan sekadar rilisan pembuka, melainkan bagian dari rangkaian karya yang telah mereka siapkan sejak terbentuk pada 2023.
Band ini digawangi oleh Iyas (vokal), Kittink (lead guitar), Agam (guitar), Toro (bass), dan Hendra (drum). Sejak awal, Clownsuffer merancang materi mereka sebagai satu kesatuan naratif, di mana setiap lagu saling terhubung dalam alur musikal dan emosional yang berkelanjutan.
“Drag Me Out” lahir dari fase personal yang tidak mudah. Dalam proses penulisan hingga produksi, para personel menghadapi dinamika hidup yang kompleks. Alih-alih dihindari, tekanan tersebut justru diolah menjadi energi kreatif yang membentuk karakter kuat dalam lagu ini.
Secara musikal, Clownsuffer menghadirkan intensitas yang konsisten dari awal hingga akhir. Struktur yang padat dengan minim jeda, riff agresif, serta dinamika rapat menciptakan sensasi terdesak yang selaras dengan tema lirik—tentang konflik internal, keterjebakan, dan dorongan untuk merebut kembali kendali atas diri sendiri.
Menariknya, lagu ini tidak diposisikan sebagai permintaan untuk diselamatkan, melainkan sebagai pernyataan untuk keluar dari tekanan dengan kesadaran dan keberanian. Pendekatan ini memperkuat identitas Clownsuffer sebagai band yang tidak hanya mengedepankan intensitas musikal, tetapi juga kedalaman naratif.
Dalam strategi rilisnya, Clownsuffer memilih untuk tidak langsung merilis album penuh. Mereka akan memperkenalkan karya secara bertahap, menjadikan setiap rilisan sebagai bagian dari cerita yang terus berkembang.
Dari sisi visual, artwork “Drag Me Out” turut memperkuat konsep yang diusung. Digarap oleh ilustrator @lime_hystrixx, visualnya memadukan simbol seperti mata, tangan, ular, dan rantai—merepresentasikan tekanan sekaligus pembebasan.
Saat ini, “Drag Me Out” sudah tersedia di berbagai platform streaming digital. Clownsuffer juga tengah menyiapkan video klip resmi serta lini merchandise sebagai bagian dari pengembangan identitas mereka ke depan.
Dengan rilisan ini, Clownsuffer menegaskan posisinya sebagai salah satu nama baru di skena modern metalcore yang patut diperhitungkan—menggabungkan intensitas, konsep, dan visi jangka panjang dalam satu paket yang solid.
iMusic.id – Di usianya yang ke-48 tahun, Teater Koma berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation menghadirkan pementasan teater terbaru bertajuk “Mencari Semar”, sebuah lakon fantasi yang menggabungkan mitologi Jawa dengan narasi futuristik. Pementasan ini akan berlangsung pada 13 – 17 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur dan akan memadukan kekuatan cerita, kekayaan visual, musik, tarian dan teknologi panggung dalam satu pengalaman teatrikal yang imersif.
“Kami percaya bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyentuh, menginspirasi, dan menjembatani generasi dalam mengenal kekayaan budaya bangsa. Komitmen kami untuk membangun ekosistem seni pertunjukan di Indonesia terwujud melalui berbagai dukungan, salah satunya kepada Teater Koma yang selama puluhan tahun konsisten menghadirkan karya-karya berkualitas yang merefleksikan kehidupan dan kebudayaan bangsa, dan kami bangga menjadi bagian dari perjalanan ini. Kami berharap seni pertunjukan Indonesia dapat terus tumbuh dan menjadi tuan rumah yang sejati di negeri sendiri,” ujar Billy Gamaliel, Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation.
Ditulis dan disutradarai oleh Rangga Riantiarno (Teater Koma), “Mencari Semar”mengisahkan tentang Semar, sang punakawan bijak yang menyimpan pusaka sakti bernama Jimat Kalimasada dalam tubuhnya di masa pensiunnya. Seiring berjalannya waktu, Kekaisaran Nimacha, sebuah peradaban futuristik yang hidup berdasarkan Perintah Utama menghadapi ancaman kepunahan akibat Perintah yang telah berkali-kali ditulis ulang, lima Agen diutus untuk mencari jalan keluar. Mereka menemukan catatan sejarah tentang Kalimasada dan meyakini bahwa jimat itu mampu menulis ulang Perintah Utama. Demi menguasainya, para Agen ditugaskan untuk mencari Semar dan membawanya ke Ruang Putih, ruang ilusi yang dirancang untuk menarik keluar Kalimasada.
“Lakon ini mencoba menggambarkan dunia masa depan yang kehilangan arah, lalu mencari kembali kebijaksanaan yang berasal dari masa lampau. Semar bukan sekadar tokoh pewayangan, ia adalah simbol suara rakyat, penjaga keseimbangan, dan cerminan nilai-nilai luhur yang hari ini makin dibutuhkan,” terang Rangga Riantiarno, penulis naskah dan sutradara dari Teater Koma.
Pementasan yang merupakan produksi Teater Koma ke 235 ini menjadi proyek kolaboratif lintas disiplin yang menghadirkan tata panggung modern serta visual yang kaya akan imajinasi. Di bawah arahan Deden Bulqini sebagai Skenografer, pementasan “Mencari Semar”menggabungkan set panggung futuristik, tata cahaya dinamis, elemen multimedia, hingga proyeksi visual interaktif yang memungkinkan suasana berubah drastis seiring pergerakan waktu dan ruang dalam cerita. Unsur-unsur tersebut dihadirkan bukan hanya sebagai latar, tetapi sebagai bagian dalam menciptakan pengalaman panggung yang imersif dan komunikatif dengan penonton.
“Dalam “Mencari Semar”, kami mencoba mendekatkan konsep skenografi ke arah pengalaman visual yang responsif. Artinya, set tidak hanya memperkuat suasana, tetapi juga menjadi bagian dari dramaturgi. Dengan bantuan teknologi proyeksi, elemen suara, dan tata cahaya yang dirancang menyatu, kami menghadirkan dimensi waktu yang tidak statis, sejalan dengan cerita tentang Semar yang terjebak dalam putaran waktu. Ini adalah upaya kami untuk membawa penonton tidak hanya melihat, tapi ikut merasa terperangkap dalam dunia Semar,” ujar Deden Bulqini, Skenografer “Mencari Semar”
Di saat bersamaan, elemen khas Teater Koma tetap hadir kuat, mulai dari kostum penuh warna, nyanyian jenaka, hingga tarian teatrikal dan humor cerdas yang relevan dengan keadaan saat ini. Dengan pendekatan visual yang sinematik dan struktur panggung yang fleksibel, pementasan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman teater yang segar, relevan, dan memikat lintas generasi.
“Melalui “Mencari Semar”, kami ingin terus merayakan panggung sebagai ruang kebebasan berekspresi. Ini adalah kolaborasi antara imajinasi, kecintaan pada budaya, dan keberanian untuk menghadapi masa depan dengan berpegang dengan nilai-nilai budaya lokal. Kami mengajak penonton untuk ikut dalam perjalanan fantastis ini, dan semoga pesan-pesan yang kami sampaikan bisa menggugah hati dan pikiran,” ujar Ratna Riantiarno, produser pementasan ini.
Pementasan Mencari Semar akan berlangsung setiap hari mulai 13 hingga 17 Agustus 2025, pukul 19.30 WIB, dengan dua pertunjukan khusus di hari Sabtu (16 Agustus) pada pukul 13.30 dan 19.30, serta Minggu (17 Agustus) pukul 13.30 WIB. Tiket pertunjukan sudah tersedia dan dapat diperoleh melalui situs resmi Teater Koma dan melalui platform pembelian tiket. Harga tiket bervariasi mulai dari Rp100.000 hingga Rp850.000.
iMusic.id – Sashana Indonesia, berinisiatif menyelenggarakan “Indonesia Music Summit 2025” (IMUST) yang akan berkomitmen untuk menciptakan platform yang tidak hanya memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga mendorong inovasi dan kerja sama yang kolektif.
Sashana Indonesia atau juga Sashana.ID, yang merupakan singkatan dari Sangita Sabha Nusantara, berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti perhimpunan atau komunitas insan musik. Sashana.ID adalah wadah dan forum komunikasi serta kolaborasi bagi para pelaku musik di Indonesia. Sashana.ID berkomitmen untuk menjadi pendorong utama dalam pengembangan industri musik di Indonesia, guna membangun kemajuan ekosistem industri musik yang sehat, profesional, dan berkelanjutan.
IMUST digelar bertujuan menjadi wadah strategis untuk memperkuat ekosistem kreatif, melindungi hak cipta, dan merayakan keberagaman budaya Indonesia. Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk pencipta lagu, penyanyi, produser, dan promotor, acara ini bertujuan untuk menghasilkan masukan yang konstruktif bagi para pembuat kebijakan. Melalui sinergi yang terjalin, diharapkan masa depan industri musik Indonesia akan lebih kondusif dan kompetitif, menciptakan ruang bagi pertumbuhan dan perkembangan yang berkelanjutan. Dengan dukungan dari seluruh elemen, IMUST akan menjadi langkah awal menuju revitalisasi dan penguatan tata kelola industri musik di tanah air.
Dalam upaya memperkuat upaya jalinan temu pikir diatas, “Indonesia Music Summit 2025” (IMUST) akan diselenggarakan pada bulan Oktober 2025 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Untuk itu, sangat penting bagi semua pihak untuk fokus pada penguatan ekosistem kreatif, yang mencakup perlindungan hak cipta, pemanfaatan teknologi digital, dan pelestarian keberagaman budaya.
Dhani ‘Pette’ Widjanarko, salah satu pendiri Sashana Indonesia dan Project Director IMUST 2025, menegaskan, “Sashana Indonesia adalah ruang dialog untuk merumuskan kembali tata kelola menuju ekosistem yang lebih baik.”
IMUST 2025 akan menjadi platform untuk berbagai kegiatan, seperti workshop, seminar, diskusi panel, pameran, dan pertunjukan musik. Keterlibatan pemerintah dalam kebijakan yang mendukung pengembangan industri musik, termasuk insentif bagi musisi dan pelaku industri, sangat diperlukan untuk mencapai tujuan ini.
Harry “Koko” Santoso, seorang pelaku industri musik Indonesia, mengajak semua pihak untuk bersatu dalam kebaikan, “Mari kita bergandeng tangan dalam kebaikan, agar kebaikan dapat menjadi Ibu bagi musik Indonesia.”
Amin Abdullah, Direktur Musik pada Kementerian Ekonomi Kreatif / Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia yang juga hadir di konferensi pers tersebut turut menyuarakan dukungannya. Menurut Amin, ada dua permasalahan di industri musik yang harus segera diselesaikan. Pertama adalah masalah royalti, dan yang kedua adalah perizinan konser.
“IMUST bukan hanya perlu menyuarakan, tapi juga harus mengakselerasikannya. We start from what we have, not start from what we want,” ujar Amin, sambil menawarkan kesediaannya untuk dilibatkan dalam perumusan.
Dukungan senada juga disampaikan oleh Cholil Mahmud, mewakili Federasi Serikat Musisi Indonesia (FESMI). Musisi yang juga dikenal luas sebagai vokalis dan gitaris trio Efek Rumah Kaca ini menyatakan bahwa jika FESMI diundang, maka dengan senang hati akan turut memberikan sumbang pikiran dalam IMUST jika diperlukan.
Apalagi, Cholil melihat saat ini banyak musisi muda yang tumbuh pesat dengan segala kemudahan teknologi digital, namun tidak terlalu ter-update dengan masalah hak cipta, atau royalti, dan sebagainya.
‘Sepertinya itu nanti perlu diperdalam di IMUST. Perlu sosialisasi. Ribut-ribut itu biasa, tapi mungkin kalau tidak ribut akan lebih baik. Jadi kami menyambut baik segala upaya yang dilakukan oleh Sashana dan IMUST. Semoga ini tidak mulai dari nol banget, sehingga kita bisa langsung mengambil langkah-langkah penting untuk ke depannya.”
Industri musik Indonesia saat ini berada di persimpangan antara tantangan dan peluang yang signifikan. Dalam menghadapi dinamika global dan perubahan perilaku konsumen, kolaborasi yang solid di antara semua elemen industri menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing.
Dengan IMUST 2025, diharapkan industri musik Indonesia dapat berdaulat secara utuh dan mewujudkan masa depan yang lebih baik di tanah air.