Connect with us

iMusic

“Don’t Control Me” Sebuah Pesan Lantang Untuk Bebas Dari Batasan dan Kekangan, Single Terbaru “Sade Susanto”.

Published

on

iMusic – Jakarta, 11 September 2020 – Penyanyi R&B berusia 20 tahun, Sade Susanto merilis single terbaru berjudul Don’t Control Me. Lagu ini menjadi rilisan pertama Sade Susanto setelah pengumuman resmi dirinya bergabung dengan JUNI Records bulan Agustus lalu. Selain dirilisnya lagu ini di gerai digital, Sade Susanto juga merilis sebuah video klip yang menampilkan keadaan dibalik layar dan suasana serunya Sade Susanto dan tim pada saat melakukan photoshoot untuk rilisan terbarunya. 

“Saya sangat sering mendengarkan EP Checkpoint-nya Sade. Kemudian saya dan tim JUNI pergi bertemu Sade di Yogyakarta, karena dia kuliah di salah satu universitas negeri di sana, untuk mengenal dirinya dan berdiskusi lebih dalam mengenai musiknya,” ungkap Adryanto Pratono, CEO JUNI Records.

Lagu Don’t Control Me terinspirasi dari pengalaman pribadi Sade ketika dirinya tengah patah hati.  Lagu ini pada dasarnya menceritakan tentang keinginan untuk lepas dari perasaan dikekang oleh orang lain. Sade memberikan gambaran ketika kita dikekang oleh seseorang berdampak pada diri sendiri yang berjalan stagnan sehingga tidak mengalami perkembangan dalam kehidupan. Hal tersebut membuat individu tidak memiliki nilai lebih dan seutuhnya, baik dalam kehidupan percintaan, masalah pribadi atau konstruksi sosial masyarakat.

Melalui lirik yang cukup straightforward dan juga catchy, Sade Susanto berusaha menyuarakan isi hatinya untuk menyampaikan pesan empowerment kepada orang-orang yang sedang terjebak dan berusaha keluar dari situasi, entah itu toxic relationship, keluar dari zona nyaman atau stereotip buruk yang biasa melekat. Aransemen lagunya yang easy listening memberikan vibe R&B yang kuat dan kental.

“Semoga lagu ini (Don’t Control Me) bisa menginspirasi banyak orang untuk sadar bahwa hidup kita ya punya kita sendiri. Orang lain tidak memiliki alasan untuk bisa mengatur pilihan kita. Seterusnya aku juga berharap dengan lagu ini dan seterusnya bisa ikut belajar dan berkembang bersama JUNI Records,” ungkap Sade Susanto.

Don’t Control Me kini sudah bisa didengarkan hari ini di layanan digital streaming platforms seperti Spotify, Apple Music, JOOX, Deezer, YouTube Music, Langitmusik dan lain-lain.

Shadia Khansa atau yang biasa diketahui dengan nama panggung Sade Susanto adalah penyanyi sekaligus penulis lagu kelahiran Yogyakarta dan dibesarkan di Semarang. Sade Susanto adalah mahasiswi jurusan hukum yang memulai perjalanan musiknya bersama bernama HILLS, kolektif musik di Semarang.

Nama Sade Susanto sendiri merupakan gabungan dari “Sade”, yang merupakan nama panggilan akrab dari teman-temannya, dan “Susanto” yang diambil dari nama keluarga. Pada awalnya Sade Susanto merasa bahwa bermain musik dan menyanyi itu hanya sekedar hobi saja. Sampai pada suatu dia bergabung dengan kolektif musik Semarang, HILLS, dan berhasil membuat lagu The Man Who Has Hurt Me. Inspirasi dia bermusik sangat berkutat pada genre R&B seperti H.E.R., NIKI, Ella Mai, dan SZA. (FE)

iMusic

Clownsuffer rilis single cadas berjudul “Drag Me Out”

Published

on

iMusic.id – Clownsuffer resmi memperkenalkan “Drag Me Out” sebagai debut single mereka di ranah modern metalcore. Lagu ini bukan sekadar langkah awal dalam diskografi, melainkan pembuka dari rangkaian album yang telah mereka siapkan secara menyeluruh sejak terbentuk pada 2023.

Clownsuffer terdiri dari Iyas (Vocal), Kittink (Lead Guitar), Agam (Guitar), Toro (Bass), dan Hendra (Drum). Materi yang mereka kembangkan dirancang sebagai satu kesatuan karya yang saling terhubung, sehingga setiap rilisan menjadi bagian dari alur musikal dan emosional yang lebih luas.

Di balik “Drag Me Out” terdapat fase personal yang tidak ringan bagi para personel Clownsuffer. Selama proses penulisan dan produksi, masing-masing menghadapi dinamika hidup yang cukup kompleks. Tekanan tersebut tidak dihindari, melainkan diterjemahkan menjadi energi kreatif. Lagu ini lahir dari pengalaman yang nyata, bukan sekadar gagasan konseptual.

Secara musikal, “Drag Me Out” tampil dengan intensitas konstan Clownsuffer dari awal hingga akhir, menghadirkan struktur padat dan minim jeda yang menciptakan sensasi terdesak. Riff agresif, dinamika yang rapat, serta vokal yang ekspresif membangun atmosfer yang selaras dengan lirik tentang konflik internal, keterjebakan dalam pilihan, dan dorongan untuk merebut kembali kendali.

Lagu ini tidak hadir sebagai permintaan untuk diselamatkan, melainkan sebagai pernyataan untuk keluar dengan kesadaran dan keberanian. Single ini menjadi pintu masuk menuju rilisan berikutnya. Alih-alih melepas album secara penuh, Clownsuffer memilih strategi perilisan bertahap, memperkenalkan setiap lagu sebagai bagian dari narasi yang berkembang secara berkelanjutan.

Aspek visual menjadi elemen penting dalam identitas proyek ini. Artwork untuk “Drag Me Out” digarap oleh @lime_hystrixx, young illustrator yang menghadirkan visual simbolik melalui elemen mata, tangan, ular, dan rantai sebagai representasi tekanan serta pembebasan. Proses kreatif berlangsung kolaboratif antara band, ilustrator, producer, serta tim mixing & mastering guna menjaga kesinambungan konseptual di setiap rilisan.

“Drag Me Out” kini telah tersedia di berbagai platform streaming digital. Melalui rilisan ini, Clownsuffer menegaskan posisinya sebagai band modern metalcore dengan visi jangka Panjang, membangun karya yang tidak hanya intens secara musikal, tetapi juga memiliki fondasi naratif dan konseptual yang jelas sejak awal.

Continue Reading

iMusic

Donny Fattah tutup usia, para pecinta musik rock nasional berduka

Published

on

iMusic.id – Bassis legendaris sekaligus salah satu pendiri grup rock God Bless, Donny Fattah, meninggal dunia pada Sabtu (7/3) di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, dalam usia 76 tahun.

Kabar duka tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi God Bless pada pukul 11.40 WIB.

“Berita duka cita. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah meninggal dunia Donny Fattah, bassist sekaligus salah seorang pendiri God Bless, saudara kami tercinta, di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta,” tulis akun tersebut.

Manajemen band itu juga memohon maaf atas segala kesalahan almarhum serta mendoakan agar amal dan kebaikan Donny diterima di sisi Tuhan.

Donny Fattah dikenal sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan musik rock Indonesia. Bersama Ahmad Albar, Ian Antono, dan sejumlah musisi lainnya, ia mendirikan God Bless pada 1973 yang kemudian menjadi salah satu band rock paling berpengaruh di Tanah Air.

Sejumlah album God Bless yang dirilis pada era 1970–1980-an menjadi tonggak perkembangan musik rock Indonesia, di antaranya God Bless (1975), Cermin (1980) dan Semut Hitam (1988).

Selain dikenal sebagai pemain bass, Donny juga terlibat dalam proses penciptaan berbagai lagu God Bless yang kemudian menjadi karya penting dalam katalog musik band tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Donny diketahui menjalani perawatan akibat sejumlah masalah kesehatan, antara lain serkopenia, penyumbatan vaskular serta penyakit autoimun. Ia juga mengonsumsi obat jantung setelah menjalani pemasangan ring pada 2012.

Meski kondisi kesehatannya menurun, Donny tetap berusaha tampil bersama God Bless dalam sejumlah kesempatan.

Kepergian Donny Fattah meninggalkan duka bagi keluarga, rekan musisi, serta para penggemar musik rock Indonesia. Ucapan belasungkawa pun mengalir di berbagai platform media sosial.

Warisan karya dan kontribusinya dalam musik rock Indonesia diperkirakan akan terus dikenang oleh generasi berikutnya (RR)

Continue Reading

iMusic

Cinta berawal dari layar hp di single “Layar Hati” nya Billkiss.

Published

on

iMusic.id – Band pop Billkiss kembali menghadirkan karya terbaru berjudul “Layar Hati”, sebuah lagu manis yang mengangkat kisah cinta yang berawal dari dunia digital. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang jatuh hati pada pandangan pertama melalui media sosial, perasaan yang awalnya hanya hadir lewat layar, namun perlahan tumbuh menjadi nyata.

Dalam cerita yang dihadirkan melalui lagu ini, sosok yang semula hanya bisa dipandangi dari layar handphone akhirnya hadir dalam kehidupan nyata. Ia menjadi teman berbagi cerita, hingga pada akhirnya menjelma menjadi teman hidup selamanya.

“Layar Hati” ditulis oleh Helvi Eriyanti, bassist Billkiss. Proses rekaman lagu ini dilakukan di Lancar Jaya Studio, dengan dukungan musisi Acoy Rocker Kasarunk dan Band Omom yang turut membantu dalam proses aransemen. Sementara itu, proses mixing juga dikerjakan oleh Acoy di studio yang sama.

Meski proses penciptaannya terbilang cukup singkat, lagu ini lahir dari fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang saat ini. Helvi mengungkapkan bahwa di era digital, tidak sedikit kisah cinta yang bermula dari percakapan di media sosial atau pertemuan melalui layar ponsel.

“Banyak orang sekarang yang menemukan cinta dari layar handphone. Awalnya cuma chatting, saling melihat lewat media sosial, tapi lama-lama bisa jadi hubungan yang nyata. Dari situ ide lagu ini muncul,” ujar Helvi.

Sementara itu, Maulin, vokalis Billkiss, berharap lagu ini bisa menjadi lagu yang dekat dengan pengalaman para pendengarnya.

“Kisahnya sangat relate dengan kehidupan sekarang. Semoga ‘Layar Hati’ bisa diterima dengan baik dan menjadi soundtrack dalam perjalanan cinta banyak orang,” kata Maulin.

Masih mengusung genre pop dengan nuansa manis dan ceria, “Layar Hati” menghadirkan warna musik khas Billkiss yang hangat, ringan, dan penuh rasa cinta.

Single “Layar Hati” kini sudah dapat dinikmati di berbagai digital streaming platform.

Continue Reading