Connect with us

iMusic

Duo Dance pop asal Bali, Alien Child rilis album kedua bertajuk “Rocket”

Published

on

iMusic.id Alien Child baru saja merilis album panjang keduanya pada awal Juni 2023 ini. Album yang diberi judul “Rocket” ini dirilis dengan semangat girl power yang selalu diusung oleh duo dance pop asal pulau dewata Bali tersebut.

Album “Rocket” digambarkan oleh duo bersaudara Lala Maranda dan Aya Maranda yang tergabung di Alien Child itu sebagai fasilitas mereka meluncur menuju galaksi musik pop dengan balutan sentuhan hip hop yang lebih lebar dari karya – karya mereka sebelumnya.

Alien Child adalah salah satu musisi duo independen paling inovatif dan berkarakter di skena musik Indonesia saat ini. Setelah meluncurkan single pembuka era baru mereka yang bertajuk “Starburst” pada bulan Maret yang lalu, Alien Child akhirnya membuka lebar tirai musikalitas terbaru mereka dengan perilisan album panjang yang diberi nama Rocket.

Album “Rocket” di deskripsikan oleh Alien Child sebagai album “coming-of-age” mereka, Rocket menghadirkan DNA musik dance-pop yang telah menjadi ciri khas mereka sejak album panjang perdana mereka, Takeoff, pada tahun 2018 silam sekaligus menghembuskan variasi genre lain seperti hip hop, electropop, Nu-disco, R&B, dan bahkan country.

Alhasil, tidaklah berlebihan untuk menyimpulkan album Rocket ini sebagai materi Alien Child yang paling ambisius.

“Album ini adalah sesuatu yang kami kerjakan secara perlahan, namun dengan penuh perhatian. Situasi pandemik turut mempengaruhi laju pengerjaan album ini, namun, pada akhirnya, album “Rocket”  ini berhasil terlahir dari wawasan dan pengalaman hidup kami yang semakin bertambah,” ujar Lala dan Aya dari Alien Child.

Setelah sempat mencuri perhatian masyarakat luas saat menjadi bagian dari soundtrack film “Yuni” yang dirilis pada tahun 2021 silam. Alien Child pun melirik beberapa referensi unik sebagai inspirasi untuk album terbaru mereka ini; para musisi sayap kiri seperti Tyler, The Creator, Flume, Brockhampton, dan Rosalia.

Mereka pun bertekad untuk meneguhkan album “Rocket”  sebagai album dance-pop yang lebih dari sekedar normatif. Elemen musik hip hop, utamanya, menjadi benang merah yang menyatukan keseluruhan produksi dari 8 track yang menyusun album Rocket ini. Tentu saja, melahirkan karya musik yang otentik sekaligus futuristik turut menjadi visi dan misi Alien Child.

“Kami sangat suka dengan bagaimana musik hip hop itu selalu menekankan kejujuran, Musik hip hop enggak pernah kehabisan cerita, dan semua cerita tersebut selalu berasal dari jiwa hip hop yang sangatlah otentik dan apa adanya. Sebagai contoh, musisi hip hop seperti Brockhampton dan lagunya yang berjudul ‘Sweet’ ternyata bisa terasa sangat menyentuh di hati”, terang Lala dan Aya dari Alien Child.

“Kami pun ingin album Rocket ini bisa merangkum keseluruhan emosi tersebut: joyful, romantic, political, depressing, expressive, sekaligus emotional.” Tambah Lala dan Aya dari Alien Child

Kebebasan berekspresi oleh kaum Hawa pun menjadi tema besar yang diangkat sebagai tema dan narasi keseluruhan di dalam album Rocket ini, karena itulah konsep girl power seperti ini terasa sangat langka di skena musik Indonesia saat ini.

Setelah peluncuran album “Rocket” ini, Lala Maranda dan Aya Maranda akan bertolak ke Kanada untuk melanjutkan pendidikan mereka. Namun jangan salah: Alien Child akan terus berkarya, di mana pun mereka berada.

“Ibaratnya, kami pindah dapur, tapi kami bakal terus ‘memasak’ karya kami,” celoteh Alien Child.

“Kami sudah bukan lagi musisi remaja. Kami sudah beranjak dewasa, dan itu artinya, sudah saatnya bagi kami untuk semakin serius dengan karir bermusik kami. Perbedaan waktu dan jarak tidak akan menghentikan langkah kami. Justru sebaliknya: perjalanan dan petualangan Alien Child baru saja dimulai.” tutup Lala dan Aya.

Album yang terdiri dari 8 track ini sudah bisa dinikmati di digital streaming platform mulai Jumat, 2 Juni 2023 lalu.

iMusic

Vikri and My Magic Friend “Pengen Ini Itu” di single terbarunya

Published

on

iMusic.idVikri Rahmat, seniman serba bisa yang sebelumnya dikenal dengan nama Vikri Rasta, kembali merilis karya musik berupa single berjudul “Pengen Ini Itu” lewat moniker Vikri and My Magic Friend, pada Jumat, 21 Juni 2024.

Dalam liriknya, lagu “Pengen Ini Itu” mengusung tema mengenai fenomena “crab mentality” alias mental kepiting, sebuah istilah yang menggambarkan sikap individu maupun kolektif yang menghalangi keberhasilan orang lain.

“Kalau ada beberapa ekor kepiting di sebuah ember, kepiting-kepiting itu enggak akan membiarkan satu pun kepiting lain naik ke atas. Fenomena seperti itu yang belakangan kita jumpai di lingkungan kita,” kata Vikri Rahmat.

“Sikap enggak suka melihat sesama kita berhasil dengan mimpinya, secara enggak sadar tumbuh di mental orang-orang terdekat kita, entah teman, sahabat, atau bahkan keluarga sekali pun,” tuturnya.

Digarap dengan musik sederhana, single “Pengen Ini Itu” hadir dengan lirik jenaka namun kontemplatif. Menggunakan formula notasi repetitif, lagu ini demikian mudah melekat di ingatan para pendengarnya.

Single “Pengen Ini Itu” menjadi lagu kedua setelah “Nasihat Bapak” dari rangkaian tembang yang bakal tersemat di album kedua Vikri and My Magic Friend bertajuk “Renung“. Nantinya, album tersebut diagendakan untuk dirilis pada akhir tahun 2024 ini.

Proses produksi lagu-lagu di album kedua ini dilakukan di studio Rockesroll, Bogor, dan melibatkan rekan terdekat Vikri Rahmat, di antaranya Acoy (Band Om Om), Petrus Pesa, Ahmad Saharie hingga Beraldy Dean alias Bebe.

“Album Renung akan berisi 9 trek, ‘Nasihat Bapak’ dan ‘Pengen Ini Itu’ dirilis sebagai dua single pembuka. Sesuai judulnya, album ini membawa tema yang mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah hidup kita sudah berjalan ke arah yang lebih baik atau belum,” kata Vikri.

Saat ini, single “Pengen Ini Itu” sudah bisa didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital mulai Jumat, 21 Juni 2024.

Selain dilepas dalam format audio, single “Pengen Ini Itu” juga hadir dalam format video lirik yang tayang di saluran YouTube Vikri and My Magic Friend. []

Tentang Vikri and My Magic Friend

Vikri and My Magic Friend merupakan proyek musik solo dari Vikri Rahmat, seorang komedian tunggal atau komika, aktor, dan musisi yang sebelumnya dikenal dengan nama Vikri Rasta.

Mengusung genre folk pop, Vikri and My Magic Friend yang dibentuk pada 2010 silam ini tercatat telah melahirkan satu buah album penuh bertajuk “Sederhana“. Album tersebut direkam sejak 2011 namun baru dirilis pada tahun 2016 lalu.

Lirik filosofis dan pembawaan Vikri Rahmat yang jenaka menjadi ciri khas Vikri and My Magic Friend di atas panggung.

Pada tahun 2023 lalu selepas merilis single “Nasihat Bapak”, Vikri and My Magic Friend pernah menggelar tur “Jangan Manja Tur 2023” menyusuri 12 kota sepanjang pulau Jawa melalui jalur darat menggunakan camper van.

Rencananya, Vikri bakal kembali melakukan tur keduanya dalam waktu dekat setelah single “Pengen Ini Itu” dirilis.

Continue Reading

iMusic

Bumiy, Musisi indie asal Sumbar luncurkan single “Prasasti”

Published

on

iMusic.id Bumiy, melahirkan satu single dengan style baru yang lebih segar, dengan judul “Prasasti” pada tanggal 21 Juni 2024 ini di semua platform musik.

“Prasasti” ditulis dengan apik oleh Budi Irwandi dan Bumiy sebagai co-writer. Dikemas bersama Mohd. Deni Januar sebagai Music Producer dan Arranger mengusung style musik 80an, namun diberi sentuhan warna-warna sound lebih baru yang ber-genre city pop. Untuk memaksimalkan perekaman vokal dengan style 80an, Bumiy mengajak Alfitra “Ajo” Mahyon sebagai Vocal Director.

“Banyak detailing vokal dengan style 80an yang saya banyak missed, dengan dipandu oleh Ajo, lebih dapet aja tarikan vokalnya, terutama di bagian reff.” aku Bumiy.

Dibantu oleh Muthiara Firdaus sebagai Backing Vocal dan Irene Redmar Irawan sebagai Mixing dan Mastering Engineer, membuat lagu “Prasasti” nya Bumiy ini terasa lebih kaya dan penuh.

Seniman asal Sumatera Barat, Iwan Nurhadi, juga berkontribusi dalam Artwork Prasasti, yang merupakan salah satu lukisannya dengan gaya abstract minimalist yang secara pengambilan objek serta bentuk pada karyanya sederhana dan simbolik. Dengan memadupadankan warna-warna cerah, karya Iwan untuk artwork “Prasasti” ini menambah kesan yang mendalam.

“Prasasti” berkisah tentang pentingnya untuk membuat sebuah kenangan dalam sebuah kebersamaan sehingga menjadi abadi walaupun berpisah nantinya. Sesuai dengan judulnya, “Prasasti”  menjemput kembali ingatan pada musik-musik tahun 80an.

Prasasti adalah sebuah lagu yang bisa dinikmati oleh semua generasi dan akan menjadi pembuka jalan menuju album “Kidung Malaikat” yang masih dalam proses penggarapan yang diharapkan akan dirilis di awal tahun 2025.

Music Video “Prasasti”  akan tayang seminggu setelah lagu rilis, dengan disutradarai oleh Dhika Rizki dan dibintangi oleh talent-talent muda yang menampilkan koreografi segar dan nuansa harmonis lintas generasi.

Bumiy, musisi indie asal Sumatera Barat yang dikenal dengan karakter vokal nya yang nostalgic dan romantic, memulai karirnya di industri musik sejak tahun 2020. Pada tahun 2022, karya pertamanya yang berjudul “Rasa” diangkat menjadi sebuah film pendek oleh Ethics Pictures. Ia juga sukses menggelar showcase-nya di Fabriek Bloc Padang pada akhir tahun 2022 dengan tema “Membumiy : Merayakan Kenangan”.

Continue Reading

iMusic

Band experimental rock asal Tapin, Kalimantan luncurkan single “L.E.S”

Published

on

iMusic.id Pluviophile adalah band experimental rock yang berasal dari Tapin, Kalimantan Selatan. Nama band ini memiliki arti “pencinta hujan,” yang mencerminkan kecintaan para anggotanya terhadap hujan. Band ini terdiri dari Ayu (vokal), Pudhal (gitar), Mike (bass), dan Iki (drum).

Menurut Pluviophile, hujan memiliki kekuatan untuk membangkitkan berbagai memori, baik yang penuh luka maupun tawa. Terinspirasi oleh kenangan-kenangan tersebut, mereka menuangkannya ke dalam musik, menciptakan karya-karya yang layak diapresiasi.

Salah satu karya terbaru Pluviophile adalah lagu berjudul “L.E.S“, yang dirilis dalam bentuk video musik pada 2 Juni 2024 lalu. Lagu ini menceritakan tentang kehilangan seseorang yang sangat berkesan dalam hidup salah satu anggota Pluviophile. Hujan menghidupkan kembali memori tentang kebiasaan-kebiasaan kecil yang orang tersebut sering lakukan, makanan kesukaan, obrolan-obrolan ringan di meja makan, dan segala hal tentang orang tersebut.

Proses pembuatan lagu dari Pluviophile ini dilakukan secara mandiri, dengan bantuan Nizam sebagai videografer untuk pembuatan video musiknya, serta dukungan beberapa teman lainnya.

Secara umum, “L.E.S” bisa dinikmati oleh siapa saja yang pernah merasakan kehilangan. Lewat lagu ini, Pluviophile ingin menyampaikan bahwa betapa tidak mudahnya menghadapi fase ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi sampai pada fase dimana kita mau tidak mau harus mengikhlaskannya. Sebab hidup memang sementara, namun memori akan kekal sebagaimana adanya.

“L.E.S” sudah tersedia di seluruh platform musik digital dan video musiknya bisa dinikmati di kanal YouTube Pluviophile. Selamat menikmati.

Continue Reading