Connect with us

iMusic

Dwiki Dharmawan Mempersembahkan Album Terbaru “Rumah Batu”. Sarat Dengan Musisi International.

Published

on

iMusic – Menyusul momentum dan sukses album sebelumnya di tahun 2016, Dwiki DharmawanPasar Klewer” – sebuah album yang mendapat ulasan bintang 5 oleh Downbeat, All About Jazz, dan banyak lainnya – MoonJune Records dengan bangga mempersembahkan album baru yang fenomenal oleh keyboardist, komposer dan produser, Dwiki Dharmawan. Menjelajah dari pengaruh jazznya yang luas dan warisan budayanya yang kaya, maestro Indonesia ini menghasilkan karya seni yang memukau lagi!.

Penuh dengan komposisi petualang, aransemen yang gemilang, dan pertunjukan superlatif, album barunya bertajuk Dwiki Dharmawan “Rumah Batu” menjelajah kategorisasi – melampaui genre jazz progresif dan world music. Sementara rasa etnis yang beragam dan cukup berlimpah begitu bersahaja.Versi digital telah dirilis di akhir tahun 2018.

Dengan Produser eksekutif Bagus WIjaya Santosa dan Iga Indrawati (Farabimusic Bali), Di Indonesia Dwiki Dharmawan menggandeng DeMajors untuk merilis CD dan Vinyl yang kini semakin digemari kembali. Dengan dukungan bintang-bintang jazz internasional – termasuk virtuoso Prancis keturunan Vietnam, Nguyên Lê, pada gitar; bassis flamenco fretless yang legendaris, Carles Benavent dari Spanyol, pemain suling luar biasa, juga dari Indonesia, Sa’at Syah, musisi kawakan Inggris, Yaron Stavi [pada akustik bass ,drummer terkemuka Asaf Sirkis – rekaman ini menawarkan pandangan dan kejeniusan Dwiki sebagai pemain, arranger dan penulis lagu.

Album ini direkam di La Casa Murada sebuah studio yang terletak di lokasi yang tenang dan indah dari kawasan anggur Catalonia di Penedès, Spanyol, rekaman live di studio ini mengartikulasikan evolusi jazz yang berkelanjutan di abad ke-21.

Dwiki Dharmawan adalah salah satu tokoh musik Indonesia yang terkemuka : keyboardist multigenre, komposer, produser, aktivis perdamaian dan ikon budaya. Dengan karir yang membentang lebih dari 35 tahun dan pertunjukan di lebih dari 70 negara, Dwiki tetap menjadi salah satu insan industri yang populer dan direspek di negaranya.

Pada debutnya untuk MoonJune, para pendengar disuguhi musik musikal eksotis tingkat tinggi – menampilkan fusion, jazz dan tokoh-tokoh rock progresif, Chad Wackerman dan Jimmy Haslip, serta pemain biola legendaris, Jerry Goodman, bergabung dengan gitaris Indonesia, Dewa Budjana dan Tohpati. “So Far, So Close” menampilkan komposisi, pengaturan, dan pertunjukan yang penuh petualangan. Pecinta “era keemasan” fusion (dari pertengahan ’70 -an hingga pertengahan ’80-an) menemukan banyak hal untuk membuat mereka terpesona .

Rilis album selanjutnya, “Pasar Klewer,” melaju lebih tinggi – membuat Dwiki mendapat ulasan bintang 5 yang didambakan di majalah Downbeat yang ikonik, All About Jazz yang banyak dibaca dan sangat dihormati, serta review dari yang dihormati kritikus musik di seluruh dunia. Album ganda ini membintangi bintang-bintang bintang musik progresif yang sedang naik daun, termasuk beberapa karya gitar dunia lain dari musisi Inggris Mark Wingfield dan Nicolas Meier, dan beberapa karya yang luar biasa oleh seniman internasional terkenal, Gilad Atzmon .

Tumbuh di Bandung, Jawa Barat, rumah Dwiki terletak di belakang Konservatorium Musik Bandung. Secara teratur, dia mampir untuk melihat siswa menari dengan musik gamelan dan Angklung. Pengalaman ini sebagai seorang pemuda mengukir jalan yang memulai perjalanan panjang. Dwiki mempelajari musik klasik selama lima tahun sebelum mulai mengejar jazz pada usia 13, transisi yang membuatnya mengenal musik jazz mulai dari John Coltrane, Miles Davis dan Charlie Parker, hingga Weather Report dan Return To Forever.

Sebagai duta budaya negaranya yang tak kenal lelah, Dwiki terus menjelajah ke seluruh wilayah Indonesia yang luas dan beragam – menjelajahi, mendokumentasikan, dan merayakan keanekaragaman budaya Indonesia, sambil berjuang demi revitalisasi dan pemaparan lebih lanjut ke seluruh dunia. Dia merangkul banyak penyebab wilayah regional, membawa perhatian di mana diperlukan dan bekerja tanpa pamrih.

Keterlibatannya dalam mempromosikan Budaya dan Pariwisata Indonesia di seluruh dunia mencerminkan dukungannya bagi bangsanya. Dia juga menjabat sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (2003-2009), Ketua AMI Awards (Indonesian Music Awards) dan Ketua Lembaga Manajemen Kolektif PAPPRI (LMK PAPPRI).

Sebagai pendukung gigih dari edukasi musik Indonesia generasi berikutnya, Dwiki mengelola Farabi Music Education Center. Berperan sebagai mentor, ia membantu mendidik dan mempromosikan talenta muda Indonesia menuju evolusi jazz yang berkelanjutan di abad ke-21 dan membentuk mendorong lahirnya banyak praktisi muda yang paling menjanjikan.

Asosiasi Dwiki dengan MoonJune Records yang berbasis di New York, sebuah label independent dengan sejarah panjang yang telah menghasilkan musik progresif, jazz dan world music terus berlanjut, dengan beberapa album baru yang lebih menggetarkan di cakrawala. Produser Musik Leonardo “MoonJune” Pavkovic mengatakan :

“Sama hebatnya dengan Pasar Klewer, saya pikir Dwiki telah melangkah lebih jauh ke dalam wilayah jazz yang belum dijelajahi dengan album baru (‘ Rumah Batu ‘). Saya telah menjadi penggemar berat jazz selama hidup saya – setelah mendengarkan ribuan dan ribuan album … ini adalah salah satu album jazz terhebat dan paling inovatif yang pernah saya dengar – oleh artis mana pun! “. (FE)

iMusic

Band experimental rock asal Tapin, Kalimantan luncurkan single “L.E.S”

Published

on

iMusic.id Pluviophile adalah band experimental rock yang berasal dari Tapin, Kalimantan Selatan. Nama band ini memiliki arti “pencinta hujan,” yang mencerminkan kecintaan para anggotanya terhadap hujan. Band ini terdiri dari Ayu (vokal), Pudhal (gitar), Mike (bass), dan Iki (drum).

Menurut Pluviophile, hujan memiliki kekuatan untuk membangkitkan berbagai memori, baik yang penuh luka maupun tawa. Terinspirasi oleh kenangan-kenangan tersebut, mereka menuangkannya ke dalam musik, menciptakan karya-karya yang layak diapresiasi.

Salah satu karya terbaru Pluviophile adalah lagu berjudul “L.E.S“, yang dirilis dalam bentuk video musik pada 2 Juni 2024 lalu. Lagu ini menceritakan tentang kehilangan seseorang yang sangat berkesan dalam hidup salah satu anggota Pluviophile. Hujan menghidupkan kembali memori tentang kebiasaan-kebiasaan kecil yang orang tersebut sering lakukan, makanan kesukaan, obrolan-obrolan ringan di meja makan, dan segala hal tentang orang tersebut.

Proses pembuatan lagu dari Pluviophile ini dilakukan secara mandiri, dengan bantuan Nizam sebagai videografer untuk pembuatan video musiknya, serta dukungan beberapa teman lainnya.

Secara umum, “L.E.S” bisa dinikmati oleh siapa saja yang pernah merasakan kehilangan. Lewat lagu ini, Pluviophile ingin menyampaikan bahwa betapa tidak mudahnya menghadapi fase ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi sampai pada fase dimana kita mau tidak mau harus mengikhlaskannya. Sebab hidup memang sementara, namun memori akan kekal sebagaimana adanya.

“L.E.S” sudah tersedia di seluruh platform musik digital dan video musiknya bisa dinikmati di kanal YouTube Pluviophile. Selamat menikmati.

Continue Reading

iMusic

“Lurnts” Skena Emotional Rock Perkenalkan Single Terbarunya “I Gave My Best”.

Published

on

iMusic.id – Dengan rasa antusias yang besar, Lurnts memperkenalkan dan merilis sebuah lagu yang dibuat dengan passion dan refleksi diri. Lagu ini berjudul “I Gave My Best,” dan menceritakan tentang kompleksitas cinta, duka, dan ketabahan.

Lurnts, band yang mengusung genre Emotional Rock dibentuk pada bulan July tahun 2020 di Jakarta, Indonesia dan terbilang cukup unik, dimulai dari membuat konten jamming secara online di masa pandemi hingga membuat karya/lagu sendiri, Lurnts adalah nama kedua setelah sebelumnya band ini diberi nama Nerve, yang hanya ber’anggotakan 3 orang, Agusalim Luckman ( Vocal ), Reiza Yudha Putra ( Bass ), Elfa Aditya( Drum ).

Single pertama Lurnts rilis pada tahun 2021 dengan judul lagu “Rain In August” yang bercerita tentang bagaimana seorang laki-laki bertumbuh dan menangisi beban hidupnya karena dia merasa dipermalukan oleh hidup.

Kemudian masuk Dondon sebagai gitaris untuk melengkapi posisi yang kosong. Kami membuat single di tahun 2022 dengan judul “Peluru Terakhir”.

Ditengah perjalanan bermusik Lurnts, karena kesibukan dan jadwal yang cukup padat, akhirnya Dondon memutuskan untuk hengkang dari band. Namun dengan keluarnya Dondon, tidak membuat kami berhenti dalam bermusik dan berkarya.

Di tahun 2023 kami kembali merilis single berjudul “Mati Lalu Hidup Kembali”. Dengan bantuan Karis Karisma (DeadSquad) kita dibawa kembali ke masa-masa Emotional Rock tahun 2000an akan tetapi lagu ini menjadi sangat fresh di telinga.

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, Mondy Mamentu/Monski yang sempat menggantikan Didit Saad di band Bunga akhirnya bergabung dengan Lurnts dan tak lama kemudian pada tahun 2024 kami kembali merilis single berjudul “I Gave My Best”.

Di Single terbaru ini formasi Lurnts lengkap menjadi : Agusalim Luckman (Vocal), Elfa Aditya (Drum), Mondy Mamentu (Guitar) dan Reiza Yudha Putra (Bass). Dan dibantu oleh salah satu penyanyi yang lulus dari Indonesian Idol “Ahmad Abdul”, tidak hanya bernyanyi di lagu ini, namun ikut serta juga dalam proses penulisan lirik serta notasinya.

Lirik dari “I Gave My Best” mengisahkan perjalanan kebenaran dan kerentanan. Mereka bercerita tentang momen sebelum dan setelah cinta, tentang bayangan yang dihasilkan oleh cahaya bulan dan badai yang berkecamuk dalam jiwa kita. Ini adalah cerita tentang menghadapi ujian, mengatasi mimpi buruk, dan mencari ketenangan di tengah keputus-asaan.

Melalui lagu ini, Lurnts mengajak masuk ke kedalaman emosi manusia, naik turunnya hubungan, dan kekuatan yang ditemukan dalam melangkah maju. Ini adalah cerminan dari pengalaman pribadi yang dijalin dalam melodi dan harmoni yang menggugah jiwa.

Kami berharap lagu ini menyentuh hati pendengar, membangkitkan introspeksi, dan mengingatkan kita semua akan kekuatan ketabahan dan penemuan diri. Terima kasih telah bergabung dalam perjalanan musik ini. (FE)

Continue Reading

iMusic

Penyanyi Muda “Made Aurelia” Rilis Kembali Lagu “Asmara” Dengan Vibes Centil.

Published

on

iMusic.id – Penyanyi muda berbakat, Made Aurelia, dengan bangga mengumumkan perilisan ulang lagu legendaris ‘Asmara‘ yang dipopulerkan oleh Aura Kasih. Lagu yang kaya akan nuansa cinta dan keceriaan ini kembali dihadirkan dengan sentuhan segar yang relevan dengan generasi masa kini.

Dalam sesi wawancara, Aurel berbagi pandangannya mengenai proyek remake ini serta tantangan yang dihadapinya. Bagi Aurel, Melakukan remake lagu ‘Asmara’ merupakan suatu hal besar. Lagu ini harus didengarkan oleh generasi masa kini, mengingat saat ini jarang sekali ada lagu-lagu yang vibes-nya ‘centil’,” ujar Aurel dengan penuh antusias.

Aurel memastikan bahwa remake ini tetap mempertahankan nuansa dan emosi asli dari lagu ‘Asmara’. “Nuansa dan emosi lagu ‘Asmara’ yang sekarang tidak terlalu berubah dari versi aslinya, hanya dibuat lebih bersemangat,” jelasnya. Bagian favorit Aurel dari lagu ini adalah pada bagian reff. “Bagian favorit saya adalah reff karena lirik dan nadanya sangat melekat di kepala,” ungkapnya.

Aurel merasa bahwa lirik dan melodi lagu ‘Asmara’ sangat cocok untuk menghidupkan kembali suasana cinta yang ceria di era sekarang. “Saya ingin merilis kembali lagu-lagu dengan vibe centil di era sekarang karena lirik dari ‘Asmara’ ini sangat menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta,” tambah Aurel.

Terdapat beberapa perbedaan dalam versi remake ini, terutama pada aransemen dan vibes lagunya. “Perbedaannya terletak pada aransemen dan vibes lagu,” kata Aurel. Ia menyadari, “Menurut saya, versi remake ini membuat orang yang mendengarnya merasa lebih berbunga-bunga,” ujarnya sambil tersenyum.

Aurel mengakui adanya tantangan dalam proses rekaman, “Tidak ada tekanan, hanya tantangan dalam proses rekaman karena banyak bagian backing vocal yang cukup rumit,” jelasnya.

Dalam menyampaikan emosi dan pesan lagu, Aurel menggunakan pendekatan personal. “Pendekatan saya terhadap lagu ini adalah dengan menyanyikannya setiap hari, dan sebelum dirilis, saya sudah sering membawakan lagu ini di berbagai acara,” ungkapnya.

Aurel berharap bahwa pendengar dapat menikmati versi ‘Asmara’ remake ini. “Semoga para pendengar lagu ‘Asmara’ bisa menikmati versi remake ini dan dapat menemani masa jatuh cinta kalian setiap hari,” tutup Aurel.

Dengan kehadiran remake ini, Aurel berharap lagu ‘Asmara’ dapat terus bertahan lama di era gempuran lagu-lagu galau dan tetap menjadi bagian dari momen-momen romantis para pendengar. (FE)

Continue Reading