iMusic.id – Sebagai promotor hiburan pendatang baru, Askara Nation semakin mengukuhkan posisinya sebagai promotor hiburan kelas dunia dengan menghadirkan konser JISOO ASIA TOUR2025: “LIGHTS, LOVE, ACTION!” di Manila pada 14 Maret 2025 di Smart Araneta Coliseum, Quezon City.
Sebagai perusahaan yang berkomitmen membawa hiburan berkualitas ke panggung global, Askara Nation telah membangun reputasi sebagai promotor yang tidak hanya menyelenggarakan acara, tetapi juga menciptakan pengalaman hiburan yang inovatif, imersif, dan berkualitas tinggi.
Konser ini menjadi langkah terbaru Askara Nation dalam ekspansi internasionalnya, setelah sukses menangani berbagai acara besar di Indonesia. Dengan standar produksi yang tinggi dan tim yang berpengalaman, Askara Nation siap menghadirkan konser yang spektakuler dan tak terlupakan bagi penggemar JISOO di Filipina.
“Sebenarnya Askara Nation sebagai penyelenggara mendapatkan 3 kesempatan menangani konser JISOO ASIA TOUR 2025, di 3 negara. Indonesia, Vietnam, dan Filipina, tapi karena di Indonesia belum siap terkendala regulasi, dan di Vietnam terkendala venue yang belum memadai, maka pagelaran dilaksanakan di Manila, Filipina yang semuanya sudah dalam kondisi yang sangat siap”. Ujar M. Fauzi Ferdiansyah (COO).
Askara Nation bukan sekadar promotor acara, tetapi juga sebuah platform yang menjembatani budaya, industri hiburan, dan audiens global . Didirikan dengan tujuan untuk menghadirkan hiburan kelas dunia sekaligus mengangkat budaya Indonesia ke kancah internasional, Askara Nation telah berkontribusi dalam berbagai proyek besar yang memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam industri hiburan.
Melalui visi “Turning Journey into Experience“, Askara Nation selalu mengutamakan pengalaman yang unik dalam setiap acara yang mereka selenggarakan. Dengan pendekatan yang menggabungkan strategi bisnis, teknologi, dan kreativitas, Askara Nation terus menciptakan standar baru dalam industri hiburan.
Kesuksesan Askara Nation didukung oleh tim profesional dan legendaris di industri hiburan. Mereka adalah orang-orang yang telah menangani berbagai proyek besar, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional.
Tim Askara Nation, Puji Adi Andaya – Production Execution Head, Anita Buchari – PR Corporate & Partnership, Poppy D Kristina – International Affairs Director, Azzust Salim – Creative Development Director, Harry Koko Santoso – Regional Affairs Director, Ryan Bamiftah – Deputy Regional International Affairs.
Dengan tim yang solid di berbagai bidang, Askara Nation berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi dan menciptakan standar baru dalam industri hiburan.
Askara nation memiliki visi Menjadi pemimpin global dalam industri hiburan dengan menghadirkan pengalaman event berkualitas tinggi. Dan juga berkomitmen untuk mengangkat seni dan budaya sebagai elemen utama dalam membangun masyarakat yang lebih kreatif dan kompetitif.
Dari segi misi Askara nation bakal menyelenggarakan konser dan festival kelas dunia dengan konsep yang inovatif dan berkesan. Kemungkinan yang sebesar – besarnya untuk berkolaborasi dengan artis internasional untuk menghadirkan hiburan berkualitas tinggi bagi audiens global. Juga berkomitmen mendorong pertumbuhan industri kreatif Indonesia dan memperkenalkan bakat lokal ke panggung dunia.
JISOO ASIA TOUR 2025: LIGHTS, LOVE, ACTION! DI MANILA Sebagai bagian dari ekspansi globalnya, Askara Nation berperan dalam menghadirkan JISOO ASIA TOUR 2025: “LIGHTS, LOVE, ACTION!” , tur solo pertama JISOO, di Manila pada 14 Maret 2025 di Smart Araneta Coliseum . Konser ini akan menjadi Cinematic Musical Experience , yang menyajikan pertunjukan dengan tata panggung spektakuler, visual yang imersif, serta konsep penceritaan yang mendalam. Album terbaru JISOO, Amortage , yang telah dirilis pada 14 Februari 2025 , menjadi dasar dari konsep konser ini. Album ini merupakan gabungan dari Amor (cinta) dan Montage , yang menggambarkan perjalanan emosional dalam kisah cinta.
Askara Nation memastikan konser ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi para penggemar JISOO. PAKET PERJALANAN EKSKLUSIF: SOOYA GOES TO MANILA (SGTM) Untuk memberikan pengalaman eksklusif bagi penggemar JISOO di Indonesia, Askara Nation menghadirkan Sooya Goes to Manila (SGTM) —sebuah paket perjalanan khusus bagi fans yang ingin menyaksikan konser ini secara langsung di Manila.
Program ini dirancang untuk memastikan kenyamanan dan kemudahan perjalanan para penggemar dengan berbagai fasilitas eksklusif. Tersedia tiga pilihan paket dengan kuota terbatas hanya 60 peserta (20 orang per paket) : 1. Purple Package (VIP 1) – IDR 16.000.000 2. Black Package (VIP 2) – IDR 15.000.000 3. Pink Package (Patron) – IDR 14.000.000 Setiap paket mencakup: Tiket Fan Con, Tiket pesawat pulang-pergi, Akomodasi hotel bintang 3 (3 hari 2 malam), Transportasi lokal, Merchandise resmi, Souvenir eksklusif, Akses roaming Program ini memberikan kesempatan bagi para fans untuk menikmati perjalanan eksklusif dan pengalaman tak terlupakan saat menyaksikan JISOO secara langsung di Manila.
Pengumuman tiket pre-sale dan general sale akan diumumkan melalui website askaragantarinusantara.com juga sosial media Askara Nation dan pembelian melalui www.ticketnet.com.ph , TicketNet outlets, dan TicketNet Box Office . Untuk informasi lebih lanjut tentang JISOO ASIA TOUR 2025: LIGHTS, LOVE, ACTION! di Manila serta program SGTM.
iMusic.id – Menjelang peringatan Hari Musik Nasional yang jatuh pada 9 Maret, sejumlah pelaku industri musik lintas generasi berkumpul dalam forum diskusi bertajuk “Beda Masa Satu Rasa” di CC Cafe at Nancy’s Place, Kamis (5/3).
Forum ini menghadirkan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha sebagai keynote speaker bersama musisi dan produser Harry Koko Santoso.
Acara tersebut menjadi ruang diskusi hangat bagi para musisi, produser, hingga pegiat industri kreatif untuk membahas dinamika industri musik Indonesia yang terus berubah seiring perkembangan teknologi digital.
Musisi Sekarang Harus Jadi Brand
Dalam paparannya, Giring Ganesha menyoroti perubahan besar dalam industri musik saat ini. Menurutnya, musisi tidak lagi hanya fokus menciptakan lagu, tetapi juga harus memahami strategi promosi hingga bisnis musik.
“Sekarang musik tidak hanya bicara siapa penciptanya atau siapa penyanyinya. Artis atau band harus memahami banyak hal, mulai dari bisnis musik, storytelling karya, sampai memaksimalkan media sosial,” ujar Giring Ganesha di acara Diskusi “Beda Masa Satu Rasa” di CC Cafe at Nancy’s Place, Kamis (5/3).
Ia juga menegaskan bahwa musisi masa kini harus mampu membangun identitas sebagai sebuah merek.
“Musisi juga harus bisa mengelola brand-nya sendiri, mempromosikan karya, bahkan menjual merchandise,” tambahnya.
Musik Daerah Justru Meledak di Era Digital
Menariknya, Giring juga menyoroti fenomena musik daerah yang justru semakin populer di berbagai platform digital.
Menurutnya, banyak lagu berbahasa daerah yang kini mampu meraih puluhan hingga ratusan juta penonton.
“Di era sekarang musik berbahasa daerah memiliki peminat yang sangat besar. Banyak karya dari berbagai daerah yang jumlah penontonnya mencapai ratusan juta,” kata Giring.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keberagaman budaya Indonesia bisa menjadi kekuatan besar di industri musik global.
Banyak Musisi Senior Ikut Diskusi
Forum diskusi ini juga dihadiri sejumlah tokoh industri musik, di antaranya Connie Constantia, Tony TSA, Oleg Sanchabakhtiar, Gideon Momongan, Firdaus Fadlil, Jimmy Turangan, Liza Maria, dan Erby Dwitoro.
Komposer dan konduktor ternama Addie MS juga terlihat hadir dalam diskusi tersebut.
Acara yang dimoderatori oleh Lodewyk Ticoalu ini semakin meriah dengan penampilan musik dari Connie Constantia.
Sekaligus Perkenalkan Komunitas Musik Baru
Forum ini juga menjadi momen perkenalan komunitas Cita Svara Indonesia (CSI) kepada publik.
Organisasi ini didirikan oleh Harry Koko Santoso, Peter F. Momor, dan Connie Constantia yang telah lama berkecimpung di dunia musik sejak era 1980–1990-an.
CSI hadir sebagai wadah kolaborasi bagi para pelaku industri musik untuk memperkuat ekosistem musik nasional sekaligus menjaga identitas budaya Indonesia.
Forum “Beda Masa Satu Rasa” ini diharapkan bisa menjadi ruang dialog penting bagi generasi lama dan baru untuk saling berbagi pengalaman serta melahirkan ide segar demi kemajuan industri musik Tanah Air menjelang Hari Musik Nasional. (EH)
iMusic.id – Kabar Duka datang dari dunia musik tanah air, Lucky Widja salah satu Vokalis Element Meninggal dunia pada Minggu malam (25/1) di Rumah Sakit Halim.
Sahabat yang sekaligus menjadi partner bernyanyinya, Ferdy Tahier mengungkap rasa duka yang mendalam.
“Selamat jalan sahabat gw, ade gw, partner gw di panggung, lo udah tenang, gak sakit lagi, ga butuh cuci darah lagi, gak perlu oxygen lagi,” tulis Ferdy Tahier dalam postingan di Instagram pribadinya @ferdy_tahier, Minggu (25/1).
“Lo happy sekarang udah muda lagi, tenang di sana ya ki. Gw sendirian di panggung nyanyinya sekarang. Semoga gw bisa ya nyanyi sendiri. Semoga lo husnul khatimah. Sampai ketemu lagi kita ya brader,” lanjut dia.
Rencananya, jenazah Lucky Widja akan dimakamkan di TPU Jeruk Purut pada Senin 26 Januari 2026 siang.
Lucky Widjatmoko atau Lucky Element adalah aktor, penyanyi, penulis lagu, dan produser musik Indonesia. Ia merupakan personel dari grup musik Element. Lucky meninggal pada 25 Januari 2026 dalam usia 49 tahun. Selamat Jalan Lucky..
iMusic.id – Band Base Jam berkolaborasi dengan penulis Ramzy Has, meluncurkan buku biografi berjudul “Dari Band Sepele Hingga Tiga Dekade” pada 15 Januari 2026, bertepatan dengan hari ulang tahun band ke-32 tahun.
Buku ini ber-isi-kan cerita pasang surut perjalanan band dari awal terbentuk di 1994, hingga mampu terus eksis hingga kini. Base Jam sendiri pada era 90an mengalami masa keemasan dengan melahirkan banyak lagu popular seperti “Bermimpi”, “Jatuh Cinta”, “Takkan Berpaling Cinta”, dan tentu saja lagu evergreen “Bukan Pujangga”.
Di usianya 32 tahun saat ini, Base Jam masih terus eksis dan berkarya dengan formasi terakhir Sita Citrasari (Bass), Sigit Wardana (Vokal), Oni Fathoni (Gitar), Alvin Kurniawan (Vokal), dan Jeane Phialsa (Drum).
Cerita di buku biografi ini tak hanya dari sudut pandang para member saat ini, namun juga dari para personil yang pernah bergabung dan para profesional yang pernah berkolaborasi dengan Base Jam seperti mantan vokalis Adon (mantan vokalis), Anya (mantan pemain keyboard), Indrawati Widjaja (Musica Studios, label rekaman Base Jam di era 90an), hingga Dody Is (pemain bas Kahitna yang pernah menjadi music director beberapa album Base Jam).
Dalam bab-bab awal buku ini misalnya, Anya mengungkapkan bahwa pada awalnya ia menolak ajakan Aris (mantan gitaris) untuk membuat lirik yang Anya tulis di buku catatan pribadinya menjadi sebuah lagu. “Ah, gak mau! Gue gak pede (percaya diri)!“ kenang Anya.
Lirik yang dimaksud adalah kumpulan kata dari lagu “Bermimpi”, lagu yang pada cerita perjalanan Base Jam selanjutnya, menjadi lagu perdana yang mempopulerkan Base Jam kepada publik Tanah Air.
Sementara Sigit mengenang betapa terkejutnya dia untuk pertama kalinya mendengar lagu “Bermimpi” yang menjadi single pertama band, diputar di radio. Saat itu ia masih setengah tertidur, dan samar-samar mendengar lagu ini di radio yang berada tak jauh dari tempat tidurnya.
Sementara dalam bab “Base “Bukan Pujangga” Jam”, para personil saat itu, hingga Dody Is, saling melengkapi cerita tentang proses pembuatan lagu “Bukan Pujangga” yang ternyata diciptakan dalam keadaan kepepet, dan aransemen lagunya yang mengalami perdebatan.
Sita, pemain bass Base Jam yang setia menggawangi band ini dari lahir hingga kini mengatakan bahwa buku biografi merupakan salah satu bentuk legacy dari Base Jam. “Melihat ke belakang 32 tahun itu tidak sebentar. Banyak sekali cerita yang sudah dilalui dan semoga pembelajaran ini bisa diambil hikmahnya oleh banyak orang, dari berbagai latar belakang. Betapa perjalanan itu ada pasang surut, ada kompromi dan tentu ada keberhasilan”, ujar Sita.
Sementara Ramzy Has selaku penulis mengaku proses penulisan buku cukup menantang karena perlu mendapatkan cerita dengan banyak pihak untuk mendapatkan ragam perspektif sehingga isi buku bisa semakin kaya.
“Menulis buku ini perlu waktu dua tahun!” ungkapnya. Buku “Dari Band Sepele Hingga Tiga Dekade” sudah beredar dan dapat dibeli dengan mengunjungi link pembelian yang ada pada halaman profil akun Instagram @basejamofficial.