iLive
Inilah 20 Lagu Queen Yang Tidak Kalah Kerennya Dari Bohemian Rhapsody dan We Will Rock You
Published
8 years agoon
By
iMusiciMusic – Tidak dipungkiri bahwa grup Rock asal London, Inggris, Queen, merupakan salah satu ikon musik Rock dunia. Selain memiliki frontman super karismatik, (alm) Freddie Mercury, kuartet ini juga memiliki pustaka lagu yang sangat klasik nan ngetop.
Bohemian Rhapsody, We Will Rock You, We Are The Champions, Killer Queen dan Don’t Stop Me Now, adalah beberapa hit milik band ini yang tidak mungkin tidak kita ketahui.
Namun terlepas lagu-lagu tersebut enak dan hit banget, kenyataannya Mercury cs memiliki segudang lagu lagu lainnya lagi yang tidak kalah enak dan kerennya dari hit-hit yang telah disebutkan tersebut. Dan berikut adalah 20 lagu diantaranya.
- Back Chat (Hot Space, 1982)
Terlepas dicerca habis-habisan dan bahkan drummer Roger Taylor dan gitaris Brian May, juga tidak menyukai albumnya, tapi bukan berarti kualitas lagu-lagu di dalamnya, lantas benar-benar mengecewakan.
Selain memiliki lagu cinta indah Las Palabras De Amor serta tribute terhadap (alm) John Lennon melalui Life is Real, Hot Space juga memiliki lagu Rock-Funk yang melodinya sangat adiktif ini.
Vokal Freddie yang mantap yang dikombinasikan oleh betotan bass John Deacon dan sayatan gitar May yang sangat funky, membuat kita serasa seperti sedang berjoget asik di lantai disko.
- ‘39 (A Night at the Opera, 1975)
Lagu yang liriknya mengisahkan kisah fiktif penjelajah luar angkasa yang ketika pulang ke bumi sangat terkejut karena seluruh rekan terdekat mereka telah menua dan bahkan meninggal ini, memiliki rangkaian melodi yang sangat adem untuk didengar. Cocok didengar bagi kita yang memang ingin menghilangkan kepenatan.
- In Only Seven Days (Jazz, 1978)
Lagu yang mengisahkan kisah cinta kilat 7 hari ini, ditulis oleh Deacon dengan deskripsi naratif yang sangat indah. Ditambah lagi dengan permainan vokal Freddie yang sukses menceritakan isi lagunya, membuat kita serasa menyaksikan sebuah film drama romantis-depresif khas Hollywood.
- Delilah (Innuendo, 1991)
Lagu ini ditulis oleh Freddie sebagai bentuk tribute dan kasih sayangnya terhadap kucing peliharaannya yang bernama sama. Mendengarkan lagu ini, membuat kita juga makin gemas dan sayang saja dengan kucing peliharaan kita yang ada di rumah.
- Lazing on Sunday Afternoon (A Night at the Opera, 1975)
Seperti kita tahu, Freddie adalah sosok vokalis yang besar dan terlatih secara klasikal. Oleh karenanya, tidak heran apabila influens musik klasik kebangsawanan Inggris sangat terasa di lagu ini.
Dengarkan lagu ini di sore hari sambil menenggak secangkir the hangat. Dijamin kita bakalan serasa seperti bangsawan Inggris yang sedang bersantai elegan.
- Dreamer’s Ball (Jazz, 1978)
Lagu yang menurut May adalah bentuk tribute-nya terhadap si “Raja”, Elvis Presley, merupakan lagu yang benar-benar sangat “dreamy” dengan balutan irama Jazz klasik tahun 30 dan 40an. Mendengar lagu ini membuat kita serasa sedang berada di klub Jazz elegan di era tersebut.
- One Year of Love (A Kind of Magic, 1986)
Lagu balada yang juga merupakan soundtrack dari film petualangan fantasi hit 80an, The Highlander (1986) ini, adalah salah satu karya terindah dari seorang John Deacon. Terasa banget bahwa ketika menggubah lagunya, Deacon mencurahkan seluruh emosi di dalam tubuhnya.
- It’s Late (News of the World, 1977)
Merupakan salah satu lagu Queen favorit saya, It’s Late benar-benar merupakan sebuah lagu Rock yang terdengar seperti perkawinan antara I’ve Got a Feeling milik The Beatles dengan sound Rock Alternatif 90an ala Melissa Etheridge. Benar-benar badass deh lagunya.
- Rock It (Prime Jive) (The Game, 1980)
Baru bangun tidur dan butuh lagu yang langsung bikin “on”? Maka dengarkanlah lagu yang dibuka oleh suara lantang Freddie ini. Suaranya yang lantang digabung komposisi lagunya yang dibangun secara perlahan hingga mencapai klimaks, benar-benar membuat kita langsung bersemangat untuk langsung beraktivitas.
- Scandal (The Miracle, 1989)
Kalau mau tahu mengapa Queen kerap dianggap salah satu band Rock jenius, maka lagu ini bisa menjadi jawabannya. Scandal diramu dengan sangat keren sehingga membuat irama lagunya sangat pas dengan tema lagunya berpusat pada curahan hati keempat anggota Queen yang kala itu sedang menghadapi masalah pelik dalam kehidupan pribadi masing-masing.
- More of That Jazz (Jazz, 1978)
Lagu Power Rock yang digubah Taylor ini keren dan unik banget. Selain melodinya terdengar sangat macho, juga di akhir lagu, diperdengarkan lagi rekap lagu-lagu keren yang ada di dalam albumnya ini.
- Is This The World We Created (The Works, 1984)
Lagu indah nan menyentuh ini, membuat kita langsung kepingin ikut peduli / beramal dengan mereka-mereka yang hidup kekurangan di sekitar kita. Benar-benar menyentuh dan emosional.
Terlepas versi albumnya enak, tapi saya sarankan, untuk mendengarkan versi live-nya. Pasalnya ketika lagu ini dibawakan secara langsung, Queen menampilkannya secara “naked” alias cuma menggunakan petikan gitar akustik yang benar-benar terdengar syahdu.
- Party / Khassogi’s Ship (The Miracle, 1989)
Bagi kalian yang mungkin lupa, sebenarnya Party / Khassogi’s Ship, adalah dua lagu nyambung yang ditampilkan secara terpisah di albumnya. Mungkin pada awalnya kita berpikir penerapan ini agak aneh. Tapi itulah justru seni-nya.
Dengarkan lagu ini di CD atau (kalau masih memiliki) cassette tape. Dan rasakan seni sekaligus kejeniusan Queen dalam memisahkan kedua lagu yang saling berkaitan ini.
- Stone Cold Crazy (Sheer Heart Attack, 1974)
Lagu yang juga kerap dianggap sebagai salah satu pionir genre Trash Metal ini, benar-benar lagu yang bisa bikin adrenalin naik hingga 1000%. Keras, badass dan “laki” banget.
- My Life Has Been Saved (Made in Heaven, 1995)
Lagu yang terdapat di album rilisan Queen pasca meninggalnya Fredie ini, sangatlah terasa menyegarkan. Mendengarkan lagunya membuat kita serasa kepingin cepat-cepat liburan dan menghabiskan waktu bersantai di tepi pantai.
- A Winter’s Tale (Made in Heaven, 1995)
Juga diambil dari album Made in Heaven, A Winter’s Tale bisa dibilang lumayan 11-12 dengan My Life Has Been Saved. Bedanya, kalau My Life membuat kita serasa seperti sedang berada di musim panas, maka sesuai judulnya, lagu ini membuat kita serasa seperti sedang berada di musim dingin yang sejuk dan menyegarkan hati. Mantap!
- No-One but You (Only the Good Die Young) (Queen Rocks, 1997)
Sesuai judulnya, lagu ini digubah untuk mengenang sosok Freddie. Namun, ketika mantan Putri Inggris, Diana, meninggal dunia, lagu ini juga menjadi lagu tribute bagi The Princess of Wales tersebut.
Selain membuat kita juga ikut mengenang keduanya, ketika mendengar lagu ini, kitapun juga menjadi ikut kagum sendiri dengan lantunan suara May dan Taylor yang benar-benar terdengar maksimal dan emosional ketika menyanyikan lirik masing-masing.
- Was it All Worth it (The Miracle, 1989)
Kata “Grande” bukan hanya mendeskripsikan salah satu nama vokalis wanita top saat ini, Grande juga merupakan kata untuk mendeskripsikan feel dari hampir sebagian besar lagu-lagu Queen.
Dan Was it all Worth it, merupakan lagu yang terdengar paling Grande / megah di dalam pustaka lagu Queen. Selain terasa megah, yang membuat kita juga senang dengan lagu ini, adalah disebutkannya salah satu provinsi top di Indonesia, Bali.
Entahlah, apakah Freddie cs ketika menciptakan lagu ini mereka baru pulang dari pulau dewata tersebut atau hanya sekedar mendengar saja. Apapaun itu, yang jelas kita pastinya langsung merasa sangat intrigue ketika Bali disebut di lagu ini.
- The Prophet’s Song (A Night at the Opera, 1975)
Seperti kita tahu, salah satu kelebihan Queen dibandingkan rekan-rekan band Rock-nya yang lain, adalah band ini mengedepankan aspek operatik /choir yang terpadu dengan sangat indah dan harmonis.
Dan dari sekian banyak lagu Queen yang mengedepankan aspek tersebut, The Prophet’s Song, adalah lagu yang benar-benar sempurna dalam menerapkan aspek signature Queen tersebut.
Dari awal sampai akhir, paduan choir keempat anggotanya sukses membuat kita seperti sedang ditransfer ke dunia yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Keren dan jenius banget deh.
- Mother Love (Made in Heaven, 1995)
Rasanya tidak ada lagu Queen yang lebih pantas untuk menempati posisi puncak selain lagu yang digubah bersama oleh Freddie dan May ini. Bagaimana tidak? Lagu ini merupakan lagu terakhir yang dinyanyaikan oleh Freddie sebelum AIDS mengambil nyawanya.
Dan gilanya, Freddie yang ketika menyanyikannnya sudah benar-benar sakit parah, masih bisa mencapai nada-nada super tinggi yang ada di lagu ini. WOW keren gak tuh? Sayang, Freddie hanya bisa menyelesaikan setengah dari lagunya.
Freddie yang kala itu berniat istirahat sejenak sebelum melanjutkan lagi, sayangnya tidak kembali ke recording booth karena penyakit yang dideritanya sudah tidak bisa ia lawan lagi. Alhasil, lagu ini diselesaikan oleh vokal dari May. Benar-benar bikin merinding lagunya.
Itulah tadi 20 lagu Queen yang tidak kalah kerennya dari Bohemian Rhapsody dan lagu-lagu hit Queen lainnya. Dari seluruh lagu yang ada di daftar, manakah yang merupakan favorit kalian?
(Marviciputra)
You may like
iLive
Putri Ayudya tampil menawan di pentas monolog “Dapur Sumur Tutur”.
Published
2 days agoon
April 28, 2026By
Frans Eko
iMusic.id – Galeri Indonesia Kaya kembali menghadirkan pertunjukan seni melalui pementasan pertunjukan satu orang (one man show) “Dapur Sumur Tutur”, sebuah karya yang menyoroti dinamika perempuan lintas generasi di tengah perubahan nilai dan tradisi. Karya yang diproduseri oleh Nosa Nurmanda dan disutradarai oleh Ben Bening ini dipentaskan oleh Putri Ayudya, seorang aktor yang telah dua kali dinominasikan sebagai Pemeran Wanita Terbaik FFI dan meraih Piala Maya.

Selama kurang lebih satu jam, penikmat seni diajak menyelami kisah tiga generasi perempuan Jawa dalam satu keluarga yang hadir dalam momen sakral peringatan seribu hari wafatnya Eyang Kakung. Melalui sudut pandang YangTi, Ibuk, dan Mbak, pertunjukan ini menghadirkan dialog batin tentang tradisi, relasi keluarga, serta pengalaman yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan pendekatan pertunjukan satu orang yang bersifat imersif, karya ini menghadirkan pengalaman yang intim dan reflektif bagi penonton.
“Pementasan “Dapur Sumur Tutur” hari ini sejalan dengan komitmen Galeri Indonesia Kaya untuk menghadirkan karya seni pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengangkat isu-isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui cerita yang personal dan pendekatan artistik yang kuat, kami berharap pertunjukan ini dapat membuka ruang refleksi bagi penikmat seni tentang dinamika keluarga, peran perempuan, serta perubahan nilai budaya yang terus berlangsung,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.
Pertunjukan “Dapur Sumur Tutur” berangkat dari kegelisahan generasi milenial perempuan Jawa terhadap tradisi yang seringkali diwariskan tanpa pemaknaan ulang. Dalam banyak kisah, nilai-nilai tersebut diteruskan tanpa memahami akar dan konteksnya, sehingga sulit diadaptasi dengan perubahan zaman dan berpotensi menimbulkan generational trauma. Pergeseran ranah perempuan dari konco wingking menjadi mitra sejajar dalam kehidupan modern turut menjadi benang merah dalam pertunjukan ini.

Selain itu, isu sandwich generation dan ageism diangkat sebagai refleksi kondisi sosial saat ini, ketika jumlah populasi lansia terus meningkat, sementara jumlah usia produktif semakin terbatas. Situasi ini membuat generasi muda harus memikul beban ekonomi sekaligus perawatan keluarga yang lebih besar, di tengah keterbatasan akses pekerjaan dan kemandirian bagi kelompok usia lanjut. Dalam konteks ini, perempuan kerap berada di garis depan, tidak terlepas dari nilai dan tradisi yang menempatkan mereka sebagai pengurus utama orang tua di masa tua. Realitas ini mencerminkan kuatnya ekspektasi gender yang menempatkan perempuan sebagai caretaker utama dalam keluarga.
Putri Ayudya selaku aktor tunggaldi pertunjukan ini menuturkan bahwa karya ini lahir dari pengalaman personal dan hasil riset bersama tim kreatif. “Kisah ini berangkat dari kegelisahan sebagai perempuan Jawa generasi milenial. Sebagian materi berasal dari pengalaman pribadi kami dan sebagian lainnya dari riset tentang perempuan Jawa, generational trauma, serta proses reparenting. Judul Dapur Sumur Tutur sendiri menggambarkan perubahan peran perempuan, dari yang semula terbatas di ranah domestik menjadi ruang bertutur dan menyuarakan pengalaman.”
Sementara itu, Nosa Nurmanda sebagai Produser menjelaskan, “Pemilihan tiga generasi perempuan dan latar peringatan seribu hari kematian memiliki makna simbolis. Momen ini adalah ruang refleksi keluarga, ketika duka sudah mengendap dan bisa dimaknai ulang. Di situlah kita melihat bagaimana nilai, luka, dan cara pandang diwariskan antar generasi, terkadang tanpa disadari. Harapannya, melalui pertunjukan ini penonton dapat lebih memahami bahwa tradisi dapat terus hidup dan relevan jika disikapi secara bijaksana.”

Ben Bening selaku Sutradara menambahkan, “Hari ini kita sering merasa perempuan sudah lebih bebas dibandingkan sebelumnya. Namun, pertanyaannya adalah apakah kebebasan itu benar-benar utuh? Apakah perempuan sudah benar-benar bebas dalam menentukan mimpi, pilihan hidup, dan ruang yang ingin ia tempati, baik di pekerjaan, keluarga, maupun dalam tradisi? Pertunjukan ini berangkat dari pertanyaan tersebut, yang bagi kami akan selalu relevan, sudahkah perempuan benar-benar bebas?”
Pertunjukan yang ditulis oleh ketiga kreator ini tidak hanya bertumpu pada kekuatan akting, tetapi juga didukung oleh elemen artistik seperti lagu latar dan efek suara yang dikomposisikan oleh Taufan Iskandar, tata cahaya, serta elemen visual yang ditampilkan melalui layar, yang dikembangkan dengan menggabungkan perspektif personal dan hasil riset masing-masing kreator. Keseluruhan elemen ini dirancang untuk memperkuat atmosfer pementasan dan membantu penonton menyelami emosi serta dinamika antar generasi yang dihadirkan dalam karya ini.
Pertunjukan “Dapur Sumur Tutur” menjadi penutup rangkaian pertunjukan seni akhir pekan di Galeri Indonesia Kaya sepanjang bulan April. Kedepannya, Galeri Indonesia Kaya akan terus menghadirkan beragam pertunjukan seni setiap akhir pekan dengan informasi lebih lanjut yang dapat diakses melalui situs IndonesiaKaya.com.
iLive
Buitenstage Volume 5 ubah format, Brokenscene, Joanna Andrea dan RANGR tampil seru!
Published
3 weeks agoon
April 11, 2026By
Frans Eko
iMusic.id – Gelaran musik kolektif Buitenstage kembali dalam edisi kelimanya yang berlangsung Kamis malam, 9 April 2026. Bertempat di Kopi Wangsa Bogor, ajang ini sukses menyatukan energi dari tiga kota berbeda melalui penampilan dari Brokenscene (Bogor), Joanna Andrea (Jakarta), dan RANGR (Bandung).

Edisi kali ini menandai babak baru bagi Buitenstage dengan diterapkannya format panggung yang lebih intim dan durasi yang lebih leluasa bagi para penampil.
Hentakan Pop Punk dari Tuan Rumah
Tepat pukul 20:15 WIB, duo MC Ogi (Buitenfest) dan Qenny (Boleh Music) membuka acara dengan antusiasme tinggi. Tanpa membuang waktu, panggung langsung diserahkan kepada Brokenscene, trio pop punk asal Bogor yang baru saja merilis single.

Terinspirasi oleh semangat punk awal 2000-an, Brokenscene langsung memanaskan panggung dengan lagu “We’re Friends Anyway” dari EP perdana mereka (2024). Estafet energi berlanjut melalui “Catastrophic Love“, “Lost Interest“, hingga “Someday (The Sun You Run Into)”. Sebagai pamungkas, mereka membawakan single teranyar “At Least I Don’t Hate You” yang baru saja dirilis. Penampilan mereka menjadi bukti nyata betapa liat dan variatifnya skena musik di Bogor saat ini.
Momen Emosional Joanna Andrea
Suasana berubah menjadi lebih kontemplatif namun catchy saat Joanna Andrea naik ke atas panggung. Membawa konsep full band, solois asal Jakarta ini membawakan deretan karya populernya seperti “Hanya Satu, Lepaskan, Tak Bertahan Lama, Wajah Yang Membawa Aku Pulang” dan “Dinikmati Saja“.

Puncak emosi terjadi saat Joanna membawakan single terbarunya, “Tenanglah” di tengah show. Lagu ini merupakan refleksi jujur Joanna yang sempat nyaris menyerah pada mimpinya di industri musik. Melalui Buitenstage Vol. 5, ia membuktikan bahwa dirinya telah bangkit dengan karakter musikalitas yang jauh lebih matang dan tangguh.
Transformasi Tajam RANGR
Unit alternatif asal Bandung, RANGR, menjadi pemuncak yang sempurna. Sebagai bentuk transformasi dari nama sebelumnya, Ranger, mereka tampil cukup apik dan ekspresif dalam membawakan materi dari EP terbaru bertajuk Masa Depan Kita. Mengawali pertunjukan dengan lagu “Perih”, RANGR yang kali pertama manggung di Kota Bogor ini berhasil membawa penonton menyatu dalam atmosfer musik mereka yang ekspresif.

Selain lagu-lagu pada EP terbaru, RANGR tetap memberikan penghormatan pada akar mereka dengan membawakan lagu “Walau Ku Mencoba” dan cover song beberapa band favorit, sebelum akhirnya menutup malam dengan single terbaru mereka “I’m In Pain” yang baru saja dirilis.
Format Baru: Kualitas di Atas Kuantitas
Mulai edisi kelima ini, Buitenstage secara resmi menerapkan ‘aturan main’ baru dengan hanya menampilkan maksimal tiga band per acara. Langkah strategis ini diambil untuk memberikan pengalaman full show yang maksimal bagi band yang tampil.
“Kami ingin band yang tampil mendapatkan pengalaman panggung yang sesuai dengan konsep yang mereka usung. Dengan hanya tiga band, mereka tidak perlu terburu-buru oleh durasi terbatas yang biasanya terjadi jika kita memainkan 4 – 5 band dalam satu edisi,” jelas Nanang Yuswanto, salah satu penggagas Buitenstage.

Senada dengan hal tersebut, Fransiscus Eko dari Cadaazz Pustaka Musik menekankan pentingnya sinergi antara musisi, panggung, dan media.
“Konsep dasar Buitenstage adalah menciptakan gigs se-intim mungkin tanpa jarak antara musisi dan penonton, didukung oleh rekan-rekan jurnalis musik. Kami ingin Buitenstage menjadi etalase dan ruang bagi musisi untuk memperkenalkan karya baru mereka dengan konsep panggung yang sebaik-baiknya,” tambah Eko.
Buitenstage yang diinisiasi oleh Buitenfest dan Cadaazz Pustaka Musik serta didukung oleh media-media musik ini tidak hanya menjadi sekadar panggung pertunjukan, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai ruang tumbuh bagi ekosistem musik independen yang sehat, di mana karya baru dihargai dan diapresiasi secara mendalam di jantung kota Bogor.
iLive
Band – band cadas tampil di “Thrash Attack”, simak line up nya!
Published
3 weeks agoon
April 6, 2026By
Frans Eko
iMusic.id – “Thrash Attack” adalah sebuah perhelatan konser musik yang di gagas sebagai ruang pengembangan dan penguatan ekosistem musik metal. Acara yang digagas dan digelar oleh Surau Kreasi Indonesia ini menjadi pertemuan bagi musisi, komunitas dan penikmat musik keras untuk saling terhubung, berkolaborasi serta memperluas jaringan skena.

Di selenggarakan di Fairway Café, Bogor pada hari Sabtu, 9 Mei 2026, “Thrash Attack” melibatkan dan menampilkan band – band thrash nasional maupun internasional. Menghadirkan 302 (Malaysia), Antologi (Singapura), Inheritors (Malang), Divine (Jakarta), Fragor (Bogor), Traxion (Jakarta), Backsight (Bandung), Tantrum (Kab.Bogor) dan Rain of Doom (Bogor), gigs ini tidak hanya mendorong tidak hanya mendorong pertumbuhan skena metal lokal, namun juga membawa semangat pertukaran budaya dan solidaritas antara komunitas underground Asia.
Sambil memperkuat posisi kota Bogor dalam peta musik keras Nasional, konser musik “Thrash Attack” ini dilahirkan oleh Surau Kreasi Indonesia sebagai bentuk komitmen untuk menciptakan karya dan program yang relevan, berkelanjutan, serta memberikan dampak positif bagi industri kreatif dan bagi komunitas yang terlibat.
Surau Kreasi Indonesia adalah ruang kreatif yang berfokus pada pengembangan ide, karya dan kolaborasi lintas sektor industri kreatif. Surau Kreasi Indonesia hadir sebagai ruang yang mengintegrasikan kreatifitas, profesionalisme dan nilai kolaboratif. Surau Kreasi Indonesia menaungi “Surau Creative” yang bergerak di bidang event organizer yang mengerjakan gigs “Thrash Attack”, “Surau Records” sebagai label rekaman, management talent dan pengembangan talenta musik, “Bogor Underline” sebagai media yang mengangkat budaya, komunitas dan dinamika kreatif lokal serta “Nocturn” yang berfokus pada clothing dan merchandise.

Konser “Thrash Attack” didukung oleh media partner dan komunitas – komunitas kreatif seperti : Bogor Underline, Buitenzorg Metalheads, Kisruh, Kaset.id, Cadaazzdotcom, iMusic.id, Cadaazz Pustaka Musik, Intip Musik, Aku Punya Musik, JRP Production, Jam’s Music Store, Battle Vest Assault dan Fairway Café, Bogor.
Sampai jumpa di “Thrash Attack” wahai para metalhead!!
WE AWAIT YOUR ARRIVAL!
THRASH TOGETHER, ATTACK TOGETHER!!
