Connect with us

iMusic

Sandhy Sondoro dan Dwiki Dharmawan luncurkan single kolaborasi “Gemilang”

Published

on

iMusic.id – Siapa yang tidak kenal dengan sosok penyanyi yang satu ini. Setelah merilis lagu “Tiba-Tiba Cinta” pada tahun 2023 lalu, Sandhy Sondoro kembali meluncurkan karya barunya di tahun 2024. Tidak sendirian, kali ini Sandhy Sondoro berkolaborasi dengan komposer ternama tanah air, Dwiki Dharmawan, merilis lagu “Gemilang”. Lagu “Gemilang” sendiri merupakan lagu karya Dwiki Dharmawan yang liriknya ditulis oleh Mira Lesmana. Lagu “Gemilang” pertama kali dirilis di tahun 1987 dan dibawakan oleh band Krakatau dimana Dwiki Dharmawan menjadi salah satu personilnya. Di kemudian hari, lagu “Gemilang” juga pernah dirilis oleh penyanyi Andien dan grup band RAN.

Meski lagu “Gemilang” pernah dirilis dalam beberapa versi, namun ada yang berbeda dengan versi yang dinyanyikan oleh Sandhy Sondoro. Musisi yang telah malang melintang sampai ke benua Eropa tersebut, menjadikan lagu “Gemilang” ke nuansa yang lebih sederhana namun berkelas. Suara khas Sandy Sondoro terdengar padu dengan permainan keyboard dari Dwiki Dharmawan menjadikan lagu “Gemilang” versi baru ini seperti karya yang fresh. Dalam acara konferensi pers dan peluncuran lagu “Gemilang” yang berlangsung pada hari Rabu, 12 Juni 2024 di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, pelantun hits “Malam Biru” tersebut mengungkapkan,

“Lagu ini direkam secara live. Awalnya lagi jam session saja di studio sama Dwiki Darmawan tetapi kemudian terpikir kenapa tidak direkam dan dirilis saja sekalian. Jadi waktu itu lagi main ke showroom Melodia, terus yang punya kenapa berpikiri, kenapa gak bikin aja sekalian rekaman dan video sekalian. Jadi yang dilihat di video itu adalah langsung ‘one take’ lagu sekalian videonya. Terus ada dimixing sedikit dan dimastering sendiri oleh Mas Dwiki. Mengenai kolaborasi ini rencananya akan berlanjut dengan DDSS (Dwiki Dharmawan – Sandhy Sondoro ).

Sementara Dwiki Dharmawan juga menceritakan tentang lagu “Gemilang”, “Saya pertama kali menciptakan lagu ini pada tahun 1985 saat masih remaja, masih 17 tahun. Lagu ini menceritakan tentang kegemilangan dan memberi semangat dalam memecahkan masalah jiwa remaja untuk mencapai dunia mereka. Saya rasa lagu ini masih relevan untuk dinyanyikan setiap generasi. Tahun ini menjadi tahun ke-40 saya di industri musik, jadi sekaligus untuk merayakan itu saya akan meriis beberapa single yang berhubungan dengan perjalanan musik saya.”

Dwiki Dharmawan juga mengungkapkan alasan mengajak Sandhy Sondoro berkolaborasi, “Saya suka sama suaranya Sandhy. Saya juga suka lagu-lagu karyanya Sandy. Kebetulan waktu itu ketemu, Sandhy juga bilang dia paling suka lagu karya saya yang berjudul “Gemilang”. Dan Sandhy menyanyikan lagu ini chordnya sama persis dengan versi aslinya. Tidak ada yang dirubah.”

Ketika ditanyakan apa yang membedakan versi baru lagu “Gemilang”, Sandhy Sondoro mengungkapkan, “Yang pasti di lagu ini yang punya lagu langsung ikutan. Mungkin anak jaman sekarang gak tahu siapa sih yang bikin lagu “Gemilang”. Nah sekarang ada orangnya langsung yang ikutan.”

Lagu “Gemilang” kolaborasi Sandhy Sondoro dan Dwiki Dharwaman sudah bisa didengar di berbagai platform musik digital seperti Spotify, Deezer, YouTube Music dan Langit Musik mulai 31 Mei 2024 lalu.

iMusic

Donny Fattah tutup usia, para pecinta musik rock nasional berduka

Published

on

iMusic.id – Bassis legendaris sekaligus salah satu pendiri grup rock God Bless, Donny Fattah, meninggal dunia pada Sabtu (7/3) di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, dalam usia 76 tahun.

Kabar duka tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi God Bless pada pukul 11.40 WIB.

“Berita duka cita. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah meninggal dunia Donny Fattah, bassist sekaligus salah seorang pendiri God Bless, saudara kami tercinta, di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta,” tulis akun tersebut.

Manajemen band itu juga memohon maaf atas segala kesalahan almarhum serta mendoakan agar amal dan kebaikan Donny diterima di sisi Tuhan.

Donny Fattah dikenal sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan musik rock Indonesia. Bersama Ahmad Albar, Ian Antono, dan sejumlah musisi lainnya, ia mendirikan God Bless pada 1973 yang kemudian menjadi salah satu band rock paling berpengaruh di Tanah Air.

Sejumlah album God Bless yang dirilis pada era 1970–1980-an menjadi tonggak perkembangan musik rock Indonesia, di antaranya God Bless (1975), Cermin (1980) dan Semut Hitam (1988).

Selain dikenal sebagai pemain bass, Donny juga terlibat dalam proses penciptaan berbagai lagu God Bless yang kemudian menjadi karya penting dalam katalog musik band tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Donny diketahui menjalani perawatan akibat sejumlah masalah kesehatan, antara lain serkopenia, penyumbatan vaskular serta penyakit autoimun. Ia juga mengonsumsi obat jantung setelah menjalani pemasangan ring pada 2012.

Meski kondisi kesehatannya menurun, Donny tetap berusaha tampil bersama God Bless dalam sejumlah kesempatan.

Kepergian Donny Fattah meninggalkan duka bagi keluarga, rekan musisi, serta para penggemar musik rock Indonesia. Ucapan belasungkawa pun mengalir di berbagai platform media sosial.

Warisan karya dan kontribusinya dalam musik rock Indonesia diperkirakan akan terus dikenang oleh generasi berikutnya (RR)

Continue Reading

iMusic

Cinta berawal dari layar hp di single “Layar Hati” nya Billkiss.

Published

on

iMusic.id – Band pop Billkiss kembali menghadirkan karya terbaru berjudul “Layar Hati”, sebuah lagu manis yang mengangkat kisah cinta yang berawal dari dunia digital. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang jatuh hati pada pandangan pertama melalui media sosial, perasaan yang awalnya hanya hadir lewat layar, namun perlahan tumbuh menjadi nyata.

Dalam cerita yang dihadirkan melalui lagu ini, sosok yang semula hanya bisa dipandangi dari layar handphone akhirnya hadir dalam kehidupan nyata. Ia menjadi teman berbagi cerita, hingga pada akhirnya menjelma menjadi teman hidup selamanya.

“Layar Hati” ditulis oleh Helvi Eriyanti, bassist Billkiss. Proses rekaman lagu ini dilakukan di Lancar Jaya Studio, dengan dukungan musisi Acoy Rocker Kasarunk dan Band Omom yang turut membantu dalam proses aransemen. Sementara itu, proses mixing juga dikerjakan oleh Acoy di studio yang sama.

Meski proses penciptaannya terbilang cukup singkat, lagu ini lahir dari fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang saat ini. Helvi mengungkapkan bahwa di era digital, tidak sedikit kisah cinta yang bermula dari percakapan di media sosial atau pertemuan melalui layar ponsel.

“Banyak orang sekarang yang menemukan cinta dari layar handphone. Awalnya cuma chatting, saling melihat lewat media sosial, tapi lama-lama bisa jadi hubungan yang nyata. Dari situ ide lagu ini muncul,” ujar Helvi.

Sementara itu, Maulin, vokalis Billkiss, berharap lagu ini bisa menjadi lagu yang dekat dengan pengalaman para pendengarnya.

“Kisahnya sangat relate dengan kehidupan sekarang. Semoga ‘Layar Hati’ bisa diterima dengan baik dan menjadi soundtrack dalam perjalanan cinta banyak orang,” kata Maulin.

Masih mengusung genre pop dengan nuansa manis dan ceria, “Layar Hati” menghadirkan warna musik khas Billkiss yang hangat, ringan, dan penuh rasa cinta.

Single “Layar Hati” kini sudah dapat dinikmati di berbagai digital streaming platform.

Continue Reading

iMusic

Inheritors coba mengakali kematian di single “Cheating Death”

Published

on

iMusic.id – Unit thrash metal asal Malang, Inheritors, kembali melanjutkan fase comeback mereka di 2026 lewat single baru berjudul “Cheating Death”. Lagu ini lahir dari refleksi personal para personelnya yang pernah berada di ambang kematian, sekaligus kegemaran kolektif mereka terhadap tema horor dan thriller seperti film Final Destination. “Cheating Death” berbicara tentang ilusi manusia yang merasa bisa mengakali kematian, padahal kematian selalu menemukan jalannya sendiri.

“Cheating Death” menandai sisi Inheritors yang paling gelap dan buas sejauh ini. Riff thrash cepat dengan nuansa old school proto-death thrash metal akhir 80-an dipadukan dengan komposisi yang lebih padat, groove yang lebih kejam, serta breakdown dan solo gitar yang agresif. Referensi era Kill ’Em All (Metallica) hingga Pleasure to Kill (Kreator) terasa kuat, dan juga spirit Sepultura era awal menjadi benang merah utama, namun diramu tanpa terjebak nostalgia mentah.

Single ini juga menjadi debut resmi Galih sebagai gitaris baru Inheritors, menjadikan formasi ini untuk pertama kalinya menggunakan dua gitaris. Meski datang dari latar non-thrash, Galih justru membawa pendekatan yang lebih eksploratif dan segar, memperkaya karakter riff dan solo tanpa mengaburkan identitas gelap Inheritors. Kehadirannya membuat sound band terasa lebih padat, heavier, dan terbuka ke materi-materi yang lebih luas.

Saat ini Inheritors di perkuat oleh : Dion (Lead Vocals), Patrick (Lead Guitars), Galih (Rhythm Guitars), Obed (Bass Guitars, Backing Vocals) dan Rufa (Drums, Percussion).

“Cheating Death” merupakan bagian dari strategi rilis single bertahap menuju album penuh perdana Inheritors. Album tersebut direncanakan menjadi kolase perkembangan thrash metal, dari era 80-an hingga 2000-an, dengan tiap lagu membawa karakter dan pendekatan yang berbeda. Setelah delapan tahun hiatus, Inheritors menegaskan bahwa musik kini menjadi medium katarsis, penyaluran energi negatif, sekaligus warisan yang ingin mereka tinggalkan.

Dengan bagian-bagian yang dirancang untuk memicu moshpit sejak intro hingga akhir lagu, “Cheating Death” adalah pernyataan bahwa Inheritors belum selesai. Mereka mungkin tidak bisa mencurangi takdir, tapi mereka bisa menantangnya dengan distorsi, kecepatan, dan kegelapan.

Continue Reading