Connect with us

iMusic

Satu Karya Musik Terbaru Dari “Rangga Mahesa” Berjudul  “Tanda”.

Published

on

iMusic.id – Satu karya musik terbaru untuk barisan patah hati berjudul “TANDA” baru saja dirilis oleh Rangga Mahesa! Industri musik Pop Indonesia akan kembali diramaikan dengan lagu karya seniman independen bertemakan perjalanan cinta penuh tantangan.

Lagu Tanda menceritakan tentang seseorang yang mempertanyakan perasaan kepada orang terkasih, meminta kejelasan atas perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan mereka. Lagu ini berasal dari pengalaman pribadi sang penulis, yang Ia yakini seringkali dialami oleh banyak pasangan di era romansa modern.

“Pernahkah dalam hubunganmu, yang awalnya terasa sangat indah, perlahan memudar tanpa penjelasan? Begitu perlahan, sampai tak terasa, hubungan itu hilang dengan sendirinya. Harus apa?”

Pertanyaan ini seringkali muncul dan menghantui para pencari cinta. Rangga Mahesa sebagai penulis, ikut mengalami hal serupa. Saat hubungannya seringkali kandas tanpa kejelasan. Dan setelah berdiskusi dengan beberapa teman dan kerabatnya, banyak sekali yang mengalami hal serupa. Sesusah itukah mengungkapkan rasa?

Lagu Tanda merepresentasikan pendambaan akan kejelasan, ada tidaknya rasa cinta di antara sebuah hubungan. Jika memang tidak ada, sebaiknya bilang dan berikan tanda yang jelas, agar keduanya bisa saling melanjutkan hidup mencari cinta yang sesungguhnya.

Rangga Mahesa lahir dan besar di Pontianak, 9 Juni 1996. Ia menekuni seni olah vokal sejak usia yang sangat muda yakni 12 tahun.

Keseriusannya dalam bernyanyi semakin terasah ketika ia melanjutkan studinya di Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Setelah menjuarai kompetisi internal yakni Bintang Pop UI, Rangga bergabung berasa tim vokal grup Vocademia UI untuk misi budaya dan kompetisi di tingkat internasional. Bersama Vocademia UI, Rangga memenangkan medali emas di Busan, Korea Selatan pada tahun 2015 dan Barcelona, Spanyol pada tahun 2017. Rangga juga bergabung dengan Paduan Suara Paragita UI dan berkolaborasi dengan paduan suara ternama lainnya.

Lulus dari Pendidikan formal, tak membuat Rangga berhenti menekuni passionnya dalam bermusik. Rangga bergabung dengan Jakarta Movin dengan menjadi bagian dari Ensamble dalam Musikal Petualangan Sherina dan meneruskan bakat dan hobinya sampai hari ini. Di sinilah Ia kemudian bertemu dengan orang-orang terbaik di dunia seni sebagai mentor dan teman baik untuk berbagi ilmu.

Di luar dunia seni, Rangga juga masih bekerja sebagai pegawai kantoran. Baginya menjaga keseimbangan antara kedua dunia ini adalah suatu tantangan tersendiri dan merupakan nilai unik yang Ia miliki. Ia ingin membuktikan bahwa mimpinya dalam bermusik tetap bisa tercapai bersamaan dengan menjalani realita kehidupan sebagai pekerja kantoran. (FE)

iMusic

Clownsuffer rilis single cadas berjudul “Drag Me Out”

Published

on

iMusic.id – Clownsuffer resmi memperkenalkan “Drag Me Out” sebagai debut single mereka di ranah modern metalcore. Lagu ini bukan sekadar langkah awal dalam diskografi, melainkan pembuka dari rangkaian album yang telah mereka siapkan secara menyeluruh sejak terbentuk pada 2023.

Clownsuffer terdiri dari Iyas (Vocal), Kittink (Lead Guitar), Agam (Guitar), Toro (Bass), dan Hendra (Drum). Materi yang mereka kembangkan dirancang sebagai satu kesatuan karya yang saling terhubung, sehingga setiap rilisan menjadi bagian dari alur musikal dan emosional yang lebih luas.

Di balik “Drag Me Out” terdapat fase personal yang tidak ringan bagi para personel Clownsuffer. Selama proses penulisan dan produksi, masing-masing menghadapi dinamika hidup yang cukup kompleks. Tekanan tersebut tidak dihindari, melainkan diterjemahkan menjadi energi kreatif. Lagu ini lahir dari pengalaman yang nyata, bukan sekadar gagasan konseptual.

Secara musikal, “Drag Me Out” tampil dengan intensitas konstan Clownsuffer dari awal hingga akhir, menghadirkan struktur padat dan minim jeda yang menciptakan sensasi terdesak. Riff agresif, dinamika yang rapat, serta vokal yang ekspresif membangun atmosfer yang selaras dengan lirik tentang konflik internal, keterjebakan dalam pilihan, dan dorongan untuk merebut kembali kendali.

Lagu ini tidak hadir sebagai permintaan untuk diselamatkan, melainkan sebagai pernyataan untuk keluar dengan kesadaran dan keberanian. Single ini menjadi pintu masuk menuju rilisan berikutnya. Alih-alih melepas album secara penuh, Clownsuffer memilih strategi perilisan bertahap, memperkenalkan setiap lagu sebagai bagian dari narasi yang berkembang secara berkelanjutan.

Aspek visual menjadi elemen penting dalam identitas proyek ini. Artwork untuk “Drag Me Out” digarap oleh @lime_hystrixx, young illustrator yang menghadirkan visual simbolik melalui elemen mata, tangan, ular, dan rantai sebagai representasi tekanan serta pembebasan. Proses kreatif berlangsung kolaboratif antara band, ilustrator, producer, serta tim mixing & mastering guna menjaga kesinambungan konseptual di setiap rilisan.

“Drag Me Out” kini telah tersedia di berbagai platform streaming digital. Melalui rilisan ini, Clownsuffer menegaskan posisinya sebagai band modern metalcore dengan visi jangka Panjang, membangun karya yang tidak hanya intens secara musikal, tetapi juga memiliki fondasi naratif dan konseptual yang jelas sejak awal.

Continue Reading

iMusic

Donny Fattah tutup usia, para pecinta musik rock nasional berduka

Published

on

iMusic.id – Bassis legendaris sekaligus salah satu pendiri grup rock God Bless, Donny Fattah, meninggal dunia pada Sabtu (7/3) di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, dalam usia 76 tahun.

Kabar duka tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi God Bless pada pukul 11.40 WIB.

“Berita duka cita. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah meninggal dunia Donny Fattah, bassist sekaligus salah seorang pendiri God Bless, saudara kami tercinta, di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta,” tulis akun tersebut.

Manajemen band itu juga memohon maaf atas segala kesalahan almarhum serta mendoakan agar amal dan kebaikan Donny diterima di sisi Tuhan.

Donny Fattah dikenal sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan musik rock Indonesia. Bersama Ahmad Albar, Ian Antono, dan sejumlah musisi lainnya, ia mendirikan God Bless pada 1973 yang kemudian menjadi salah satu band rock paling berpengaruh di Tanah Air.

Sejumlah album God Bless yang dirilis pada era 1970–1980-an menjadi tonggak perkembangan musik rock Indonesia, di antaranya God Bless (1975), Cermin (1980) dan Semut Hitam (1988).

Selain dikenal sebagai pemain bass, Donny juga terlibat dalam proses penciptaan berbagai lagu God Bless yang kemudian menjadi karya penting dalam katalog musik band tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Donny diketahui menjalani perawatan akibat sejumlah masalah kesehatan, antara lain serkopenia, penyumbatan vaskular serta penyakit autoimun. Ia juga mengonsumsi obat jantung setelah menjalani pemasangan ring pada 2012.

Meski kondisi kesehatannya menurun, Donny tetap berusaha tampil bersama God Bless dalam sejumlah kesempatan.

Kepergian Donny Fattah meninggalkan duka bagi keluarga, rekan musisi, serta para penggemar musik rock Indonesia. Ucapan belasungkawa pun mengalir di berbagai platform media sosial.

Warisan karya dan kontribusinya dalam musik rock Indonesia diperkirakan akan terus dikenang oleh generasi berikutnya (RR)

Continue Reading

iMusic

Cinta berawal dari layar hp di single “Layar Hati” nya Billkiss.

Published

on

iMusic.id – Band pop Billkiss kembali menghadirkan karya terbaru berjudul “Layar Hati”, sebuah lagu manis yang mengangkat kisah cinta yang berawal dari dunia digital. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang jatuh hati pada pandangan pertama melalui media sosial, perasaan yang awalnya hanya hadir lewat layar, namun perlahan tumbuh menjadi nyata.

Dalam cerita yang dihadirkan melalui lagu ini, sosok yang semula hanya bisa dipandangi dari layar handphone akhirnya hadir dalam kehidupan nyata. Ia menjadi teman berbagi cerita, hingga pada akhirnya menjelma menjadi teman hidup selamanya.

“Layar Hati” ditulis oleh Helvi Eriyanti, bassist Billkiss. Proses rekaman lagu ini dilakukan di Lancar Jaya Studio, dengan dukungan musisi Acoy Rocker Kasarunk dan Band Omom yang turut membantu dalam proses aransemen. Sementara itu, proses mixing juga dikerjakan oleh Acoy di studio yang sama.

Meski proses penciptaannya terbilang cukup singkat, lagu ini lahir dari fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang saat ini. Helvi mengungkapkan bahwa di era digital, tidak sedikit kisah cinta yang bermula dari percakapan di media sosial atau pertemuan melalui layar ponsel.

“Banyak orang sekarang yang menemukan cinta dari layar handphone. Awalnya cuma chatting, saling melihat lewat media sosial, tapi lama-lama bisa jadi hubungan yang nyata. Dari situ ide lagu ini muncul,” ujar Helvi.

Sementara itu, Maulin, vokalis Billkiss, berharap lagu ini bisa menjadi lagu yang dekat dengan pengalaman para pendengarnya.

“Kisahnya sangat relate dengan kehidupan sekarang. Semoga ‘Layar Hati’ bisa diterima dengan baik dan menjadi soundtrack dalam perjalanan cinta banyak orang,” kata Maulin.

Masih mengusung genre pop dengan nuansa manis dan ceria, “Layar Hati” menghadirkan warna musik khas Billkiss yang hangat, ringan, dan penuh rasa cinta.

Single “Layar Hati” kini sudah dapat dinikmati di berbagai digital streaming platform.

Continue Reading