Connect with us

iMusic

“Julien Baker” Luncurkan Single Terbaru Dan Video Lirik “Heatwave”.

Published

on

iMusic – Julien Baker membagikan “Heatwave,” sebuah single dari album Little Oblivions, rilis hari Jumat, 26 Februari lalu. Lagu ini merupakan kelanjutan dari single-single Baker sebelumnya, “Hardline,” “Faith Healer”, dan “Favor” yang menampilkan kolaborator boygenius Phoebe Bridgers dan Lucy Dacus.

NPR Music juga akan mengadakan acara listening party pada pukul 2 PM EST di channel NPR Music YouTube, menampilkan Julien Baker bersama bintang tamu spesial Mackenzie Scott (aka Torres) dan jurnalis Jewly Hight mendiskusikan albumnya. Ia juga baru saja mengumumkan konser pertamanya untuk promosi album ini yang akan tayang pada 25 Maret mendatang. Konser ini akan ditayangkan dari Analog, Nashville (di Hotel Hutton) via STAGED, seri konser visual dari Audiotree.

Little Oblivions masuk ke daftar ‘11 Things To Look Forward to In 2021’ dari The New York Times yang menyebutnya “Menakjubkan sekali melihat penulis lagu yang tetap jujur apa adanya meskipun penontonnya bertambah… Ia menaikkan musiknya ke ruang yang lebih besar, dikelilingi band rock yang gitar dan drumnya keras, tetapi ia tidak bersembunyi di balik mereka. Ia tetap bersinar sendiri.”

Rolling Stone menambahkan “Little Oblivions bukan hanya karya yang paling kaya dan paling pop sepanjang karir Julien, tetapi juga yang paling jujur dan apa adanya.” Variety juga menambahkan, “Meskipun ia tetap mempertahankan gaya penulisan lagu yang autobiografis dan katarsis, aransemen lagu-lagu di album ini jauh lebih kaya dengan berbagai instrumen, yang hampir semuanya dimainkan oleh Julien sendiri. Tanpa ingin membandingkan, kalau di 2020 ada Punisher dari Bridgers, 2021 ini bisa dibilang milik Little Oblivions.”

Julien Baker juga membawakan ‘Faith Healer’ di The Late Show With Stephen Colbert. Syuting penampilan ini dilakukan di Nashville, dan Baker didampingi full band yang mempertegas suara megah yang ia bawakan di albumnya. Stereogum menyebut penampilan ini “luar biasa” sedangkan Rolling Stone berkomentar, “Baker dan band membawakan lagu yang luar biasa ini, menuntunnya menuju chorus akhirnya yang menggugah, ‘Oh faith healer, come put your hands all over me,’ Baker bernyanyi, menampilkan suaranya yang luar biasa.”

‘Faith Healer’ merupakan perkenalan perdana Little Oblivions dengan palet musik yang luas dan menularkan keberanian, sebuah transformasi suara bagi Julien yang karya-karya sebelumnya lebih intim. Little Oblivions direkam di kampung halaman Baker di Memphis, Tennessee sejak Desember 2019 hingga Januari 2020, dibantu engineer Calvin Lauber dan mixing oleh Craig Silvey (The National, Florence & the Machine, Arcade Fire) yang keduanya juga bekerja sama dengan Baker di album Turn Out the Lights (2017).

Permainan gitar dan piano memukau dari Baker dipadukan dengan bass, drum, synthesizer, banjo, dan mandolin — semua instrumen tersebut dimainkan oleh Baker sendiri. Album ini menjadi autobiografi untuk pengalaman hidup yang ia jalani dan pengamatannya akan sekelilingnya, menunjukkan kepiawaian Baker dalam bercerita.

Di bulan Oktober lalu, pengumuman rilis Little Oblivions masuk ke top 20 trending di Twitter dan beberapa album edisi spesial yang dijual terbatas (via Matador Records, Vinyl Me Please, Magnolia Record Club, 6131 Records, dan Spotify) lansung terjual ludes. Pre-order album ini mencapai 6000 eksemplar dan hingga saat ini, “Faith Healer” sudah didengarkan lebih dari 2 juta kali.

Album ini menjadi follow-upnya untuk album keduanya di tahun 2017 dan album pertamanya di Matador, Turn Out The Lights. The New York Times memuji LP ini sebagai “karya seorang penulis lagu yang beresonansi dengan penonton internasional, album kedua yang langka, membentang melampaui debut yang murni menjadi luar biasa”. The Sunday Times juga menyebutnya sebagai “paduan vokal, aransemen yang kaya, dan post-mortem tentang cinta, kehilangan, kehancuran, dan penerimaan”. Baker juga membawakan lagu-lagu dari album tersebut di Late Show with Stephen Colbert dan CBS This Morning.

Pada tahun 2018, Baker membentuk boygenius bersama Phobe Bridgers dan Lucy Dacus. EP boygenius dan tur Amerika mereka menjadi salah satu yang banyak dibicarakan oleh komunitas musik pada tahun 2018, melejitkan nama Baker sebagai salah satu musisi era ini.

Baker langsung menarik perhatian publik pada tahun 2015 saat debutnya dengan Sprained Ankle. Direkam hanya dalam beberapa hari, album ini merupakan meditasi yang hampa tetapi penuh harapan tentang identitas, kecanduan, kepercayaan, kesungguhan, dan pengakuan dosa. MOJO menyebutnya, “menenangkan sekaligus mengusik lewat katarsisnya,” semenara Pitchfork mendeskripsikannya, “kalau kamu mencari lagu pengakuan dosa yang jujur, Sprained Ankle adalah yang kamu cari.” Album ini juga masuk ke berbagai list akhir tahun.

The New Yorker mendeskripsikan Baker sebagai performer yang intens dan penuh penghayatan. “Penampilannya hening, syahdu. Suara yang kamu dengar di antara lagu hanya jemarinya yang sibuk menyetem gitar serta bisik-bisik di antara teman dan penonton yang menunggu Baker untuk bernyanyi lagi.”

Baker sudah berkolaborasi dengan Frightened Rabbit, Matt Berninger, Becca Mancari, dan Mary Lambert untuk lagu-lagu rekamannya. Sementara itu, ia juga berkolaborasi di panggung bersama Justin Vernon, The National, Sharon Van Etten, Ben Gibbard, Hayley Williams, dan banyak lagi.

Simak pula essay tentang album ini yang ditulis oleh penyair, penulis, dan kritikus budaya Hanif Abdurraqib (Go Ahead In The Rain, They Can’t Kill Us Should They Kill Us, A Fortune For Your Disaster). Little Oblivions Kalau kamu cukup beruntung di masa depan, kecemasanmu hari ini akan menjadi memori romantis di masa depan. Aku berharap, orang-orang yang mendengarkan album ini, di masa depan mengingat apa yang pernah mereka alami saat ini. Dunia yang, entah kapan itu akan terjadi, didefinisikan oleh kerja keras orang-orang yang terus memperjuangkan hak mereka. Dunia yang juga tidak mengabaikan kaum yang terpinggirkan.

Untuk saat ini, mari mendengarkan album baru Julien Baker yang menawarkan pemahaman baru terhadap dunia, dengan sentuhan yang khas. Pada saat artikel ini ditulis, aku tidak ingin bertemu orang yang aku cintai dan aku rindukan, tetapi mereka selalu ada. Di era dimana orang bisa menyapa lewat layar seperti kita menyapa lewat jendela. Era dimana kita bisa saling menjangkau. Era dimana sentuhan terasa seperti ilusi. Jika kita kurang beruntung, seumur hidup mungkin kita akan terus menerus merasakan sakit yang tak kunjung usai.

Pergumulan batin menjadi efek samping waktu, dan akan terus menjadi efek samping atas apapun yang akan terjadi nanti. Karena itu, ketika aku mendengar Julien Baker untuk pertama kali, aku penasaran bagaimana bisa seorang musisi melewati introspeksi diri yang tanpa henti. Aku pernah kesepian, pernah sendiri, pernah terisolasi. Banyak musisi yang tentu sudah paham dengan kondisi ini. Apa yang berbisik di celah-celah watu ketika orang sendiri. Julien Baker adalah salah satu musisi yang seperti itu. Seorang penulis yang meneliti kekacauan mereka sendiri, bukan demi mencari jawaban, tapi terkadang hanya untuk mencari jalan keluar. Bagaikan mercusuar untuk mengatasi kekacauan yang lebih baru, lebih besar.

Sulit untuk mengungkapkan perasaan ini dengan kata-kata. Little Oblivions adalah album yang melangkah ke dalam perasaan itu dan mengembangkannya. Mulai dari gelombang nada di “Hardline” yang mengguncang batin, hentakan terus-menerus yang penuh kasih di “Relative Fiction” hingga “Crying Wolf “.

Mendengarkan album ini terasa seperti mengemudi di terik mentari yang cepat berubah menjadi pemandangan dingin dan hujan lebat. Begitu pun secara lirik. Ada penulis yang berusaha menggedor pintu pendengarnya, meneriakkan kesedihan mereka. Tapi ada juga penulis yang berasumsi bahwa yang mendengarkan sudah tahu bagaimana rasanya bangkit dari patah hati, atau bagaimana kamu berteriak ke kegelapan yang abadi dan hanya mendengar gema. Little Oblivions adalah album yang merincikan semua perjuangan, semua teriakan. Album yang tidak menjanjikan pemulihan. Karena kesempatan untuk pulih dari himpitan kesulitan tidak ada jaminan. Ya, kehidupan yang terus tumbuh tanpa jaminan. Tapi kita sungguh beruntung masih hidup, walaup hidup dalam kekacauan kita sendiri.

Proyek besar Julien Baker, seperti yang selalu kuproyeksikan pada diriku sendiri, adalah pertanyaan utama tentang apa yang dilakukan seseorang yang mengalami banyak tragedi dalam hidup, tidak pernah mereka minta, tetapi harus dimanfaatkan. Aku sudah lama tidak berharap dengan dunia yang begitu brutal dan tidak kenal ampun, tetapi musik mampu membawaku kembali memiliki harapan. Apakah ini lagu untuk bertahan hidup, atau lagu tentang konsep ulang diri yang lebih baik? Aku masih berharap bahwa di ujung kehancuran diri kita masih ada pintu. Dan melalui pintu yang terbuka itu, pohon tinggi menjulang menaungi hal yang kita cintai dengan keteduhannya.

Sebuah bangku dan di atasnya, jaket milik seseorang yang telah meninggalkan kita. Burung yang bernyanyi merdu. Sudut kecil di bumi yang belum hancur atau menghilang. Aku bisa yakin dengan harapan seperti ini. Mendengar seseorang yang berjuang mati-matian tetapi tetap bisa bersyukur dengan keadaan menyadarkanku bahwa sesuatu yang indah akan hadir jika kita tetap berjuang.

Julien, aku sungguh senang mendengarkanmu lagi. Kini, dengan semua keletihan dan kebahagiaan kita. Aku rindu bagaimana dunia merefleksikan diriku. Sekarang, aku membuat dinding dari cermin. Aku sangat berterima kasih telah mendengar kebisingan yang jauh lebih baik dari rintihan bayangku sendiri. Julien, kamu berhasil melakukannya lagi. Kamu adalah pesulap. Kamu adalah pembuat cermin.

Terima kasih telah membuat kami sekali lagi melihatmu melakukan manuver introspeksi diri, baik yang menyenangkan maupun tidak. Aku ingin di masa depan, ada orang-rang yang mengingat bagaimana album ini hadir di waktu kita semua ingin bangkit. Keika membayangkan orang, kota, negara, meluas. Ketika di kesendirian, ada orang-orang yang ingin disentuh mereka yang tidak bisa disentuh. Terima kasih, Julien, untuk semua ini. Kotak kaca kecil ini akan jauh lebih bermanfaat untuk seseorang menyelami kedukaan mereka sendiri. Kerajaan kecil dari pecahan sinar matahari, perlahan menyinari kegelapan. (FE)

iMusic

Maton Guitar Resmi di Indonesia, Gandeng Tohpati hingga The Overtunes Jadi Brand Ambassador

Published

on

By

iMusic.id – Maton Guitar produsen gitar asal Australia yang melegenda dengan craftsmanship dan karakter tone khasnya, resmi melebarkan sayapnya di Indonesia pada tahun 2025 ini. Perusahaan ini konsisten memproduksi gitar akustik dan gitar elektrik dengan standar kualitas tinggi, memadukan kayu pilihan Australia dengan pengerjaan presisi. Suara hangat dan kuat yang dihasilkan Maton Guitar membuatnya digemari banyak musisi internasional, termasuk gitaris virtuoso Tommy Emmanuel.

Sebagai distributor resmi Maton guitar di Indonesia berada di bawah naungan Navanti Musika sebuah perusahaan yang lahir dari passion tiga penggiat musik & bisnis: Ivan Tandyo, Pongky Prasetyo, dan Harry Senlitonga. Untuk memudahkan akses para musisi, Navanti menunjuk Melodia Musik sebagai authorized dealer pertama.

“Industri musik Indonesia sedang berkembang pesat. Banyak musisi muda kita butuh instrumen berkualitas untuk mendukung kreativitas mereka. Maton hadir untuk menjawab kebutuhan itu. Kenapa akhirnya Maton Guitar, awalonya saya bilang, Abram, kalau mau beli Ampli Gitar dimana ? dia bilang harus ke Melodia, fun, gitu, udah paling top. Terus, akhirnya saya ke sini, nih, main ke atas. Saya beli Ampli namanya Godin. Keren banget, tuh, Ampli. Ampli di Alkosik, Gitar, bagus. Sampai saya tenteng ke Australia satu, saya beli lagi balik. Nah, saya balik lagi ke sini, tuh, saya bawa Meton, saya. Meton gitar yang saya beli di Australia.  Saya main di atas, cuma tujuannya buat ngetes Ampli. Dan temen-temen dari Melodia, kru Melodia pada kelilingin saya, Mas, gitar apaan nih? Kok enak banget? Mas, gitar apa? Gitar apa? Sambil bingung. Masa lu gak tau Meton? Dari situ akhirnya otak bisnis muncul,” ungkap Ivan Tandyo, Co-Founder Navanti Musika saat Grand Launching Maton Guitar di Melodia, Jakarta, (Rabu (20/8/2025).

“Saya kontak David dan direspon. Waktu saya masuk pabriknya saya kaget. Saya melihat bagaimana gitar ini dibuat out of passion. It’s not commercial. This is passion for almost 80 years. Nah saya ini suka beli gitar. Dari dulu saya beli macam-macam. Tapi saya suka banget gitar. Saya udah pakai Taylor. Saya pakai Martin. Ini masih ada di rumah. Saya pakai Gibson, Trier, Hummingbird. Saya udah pakai semua. Waktu saya datang ke satu toko di sana, Australia. Namanya Acoustic Center. Terus ada orang ini memang pakar. Dia punya podcast tentang music segala macam. Saya tanya, eh… gue pengen ditambah koleksi buat so what do you think the best guitar dia nih acoustic center tuh lengkap sekali mungkin kayak melodianya gitu gede banget.” tambahnya.

Menurut David Steedman (Head of Maton Australia) Maton adalah bisnis keluarga, sekarang sudah memasuki generasi ketiga, didirikan oleh Bill, Vera, dan Reg May. Pada tahun 1946, Maton telah melewati generasi kedua, Linger dan Neville Kitchen, dan sekarang juga memasuki generasi ketiga, di mana saya berada di pihak yang sama. Saya bagian dari generasi ketiga karena ini adalah gitar buatan tangan keluarga di Australia, jadi gitar keluarga, buatan tangan di Australia.

“Dan sungguh luar biasa menyambut Indonesia ke dalam keluarga Maton. Terutama Navanti dan Melodian Music, serta semua orang di sini, memainkan peran kunci dalam meluncurkan produk kami di pasar Indonesia. Ivan dan seluruh tim Navanti berada di posisi yang unik untuk meraih kesuksesan dalam kemitraan ini. Mereka sebagian besar non-Indonesia. Lokasi mereka sebagian besar di Australia, dan hal itu memberi mereka wawasan yang luar biasa tentang apa yang kami lakukan dan bagaimana kami melakukannya.”ujar David

“Mereka terus-menerus mengunjungi pabrik kami untuk mempelajari apa yang kami lakukan dan bagaimana kami melakukannya. Mereka benar-benar mendalami segala hal yang terlibat dalam menciptakan gitar-gitar indah kami yang Anda lihat di sini. Mereka melihat kecintaan, teknik, dan masukan yang diberikan pada setiap gitar kami. Hal itu membantu mereka mewariskannya. Itulah yang kami lakukan.”katanya

Dalam debut Maton Guitar di indonesia mengandeng tiga Musisi Indonesia sebagai brand ambassador yaitu Tohpati, The Overtunes dan Sid Mohede. Kehadiran para musisi lintas generasi ini memperkuat pesan bahwa Maton Guitar tidak hanya untuk kalangan tertentu, tetapi untuk semua pecinta musik yang mendambakan instrumen otentik.

“Ada Beberap hal, pertama kebetulan kita kenal baik, dan juga kita nyakin kita mau mereka suka memakai produk kita. Kalau mereka gak suka kita gak mau paksain, . pertama mereka suka dan kedua mereka cocok dengan audiens kita ya akustik gitar,” ujar Harry Senlitonga Founder Navanti Musika.

Tahun ini Maton resmi tersedia di jaringan toko Melodia Musik dan saat ini baru 6 tipe dari 10 tipe yang akan masuk ke Indonesia. 6 tipe gitar Maton tersebut adalah Mini Maton, SRS Maton, 808 Maton, Performance Maton, Trobador Maton, dan EM 6 Maton, dengan rage harga 22 juta rupiah – 70 juta rupiah. (EH).

Continue Reading

iMusic

Take Over X John Paul Ivan tampil lebih pop punk di album terbaru

Published

on

iMusic.id – Take Over kembali merilis karya baru dalam format EP yang di beri judul “IV”. Masih mengusung brand Take Over X John Paul Ivan, judul “IV” ini merupakan penanda dari jumlah EP yang telah mereka rilis dan album ini adalah album ke empat dari Take Over X John Paul Ivan sepanjang karir mereka melepas karya.

“Ini adalah album ke 4 dari kita yang berformat EP / mini album setelah EP “Take Over” di 2019, yang berlanjut berlanjut ke EP kedua “V.2” di 2021 dan EP ketiga bertajuk “Treble” pada tahun 2023”, terang John Paul Ivan mewakili Take Over.

“Nama Take Over X John Paul Ivan sendiri kita pertahankan sebagai gimmick dan trademark kita di industri musik Indonesia”, tambah John Paul Ivan yang dikenal juga dengan nama JPI.

Memuat 5 track list lagu baru di album “IV” ini, John Paul Ivan (gitar), Joe (drum), Windy Saraswati (vokal), Cynthia Divka (bass) dan Bagus Wyet (gitar) mencoba konsep musik berbeda untuk bisa di terima oleh kalangan gen z,

“Di album ini Take Over X John Paul Ivan memainkan musik rock yang mengarah ke genre pop punk, hal ini kita lakukan bukan tanpa berbagai pertimbangan, kita sudah melakukan survey dan ternyata musik pop punk itu lah yang disukai gen z saat ini”, ujar JPI.

“Dari empat EP Take Over X John Paul Ivan semuanya memiliki perbedaan konsep musik. Walaupun kita tetap memainkan musik rock, tapi ada beberapa perbedaan dari mulai album pertama sampai keempat. Intinya kita memainkan alternative rock lah”, tambah JPI lagi.

Pada EP terbaru ini Take Over X John Paul Ivan memperkenalkan 5 lagu yaitu : “Aku Muak, Lestari Indonesia, Si Paling Benar, Stop” dan “Terbang Tinggi Garuda Ku” dengan lagu “Lestari Indonesia” di plot sebagai fokus single nya yang video musiknya sudah bisa disimak melalui channel Youtube Wave Music Records yang juga merupakan label mereka bernaung saat ini.

“Lagu “Lestari Indonesia” adalah lagu yang bertemakan nasionalisme dan kecintaan akan negara kita, kita harus tetap bisa memberikan vibe yang positif bagi semuanya, walau kita tau sikon Indonesia sebenarnya tidak dalam kondisi yang baik-baik saja”, tutur JPI.

“Perbedaan yang sangat kelihatan di EP ke empat ini adalah di album ini kita tidak menyisipkan lagu yang berirama slow / ballad, kita memberikan full lagu energik berdistorsi. Kita membalut musik yang sudah bernuansa pop punk tapi dengan isian musik yang dimainkan secara natural, bukan dengan isi-isian looping dan squencer”, terang JPI yang juga bertindak sebagai Produser, arranger dan quality control di proses mixing dan masteringnya.

Take Over bukanlah band baru, mereka adalah band alumni dari Rock Festival se lndonesia ke X (terakhir) tahun 2004 yang menyabet juara 2 dan juga meraih penghargaan vokalis terbaik atas nama vokalis saat itu, Damar Teguh. Berevolusi di tahun 2017 dengan mengganti konsep musik dan personelnya dengan masuknya Windy Saraswati sebagai vokalis dan lalu merilis single berjudul “Jangan Modus”. JPI lalu bergabung dan memproduseri tiga EP Take Over.

Di EP terbarunya ini Take Over X John Paul Ivan juga memperkenalkan energi baru di posisi bassis dengan merekrut Cynthia Difka (Geger) sebagai personil tetap.

“Cynthia sudah bergabung sejak akhir 2023, awalnya karena bassis yang lama mengundurkan diri, lalu saya mencari penggantinya dan saya pikir Take Over ini butuh tambahan personil yang wangi – wangi menemani Windy yang juga merupakan vokalis Geger, akhirnya pilihan jatuh ke Cynthia”, canda JPI.

Continue Reading

iMusic

Kerispatih luncurkan album baru bertajuk “Fase Tiga”

Published

on

iMusic.id – Menyisakan tiga personil, band pop Kerispatih luncurkan album baru bertajuk “Fase Tiga”. Ketiga anggota yang masih bertahan yaitu : Fandy Santoso (Vokal), Arief Morada (gitar) dan Antonius Suryo (drum) masih sangat excited mempertahankan Kerispatih dengan memproduksi dan merilis album baru tersebut.

Di produksi oleh Formula Music dan di distribusikan oleh Jagonya Musik & Sport Indonesia (JMSI) melalui KFC Indonesia, yang menarik dari album ke 9 Kerispatih ini adalah format album mereka yang dirilis dalam bentuk CD Digital, dimana masyarakat bisa membeli album ini dengan cara mendownload aplikasi jagonya Musik : KFC Dgital dan lalu tinggal meng-scan album “Fase Tiga” tersebut.

Waqlaupun ditinggal  tiga personil mereka yaitu Sammy Simorangkir (vokalis, 2010), Badai (Keyboardis ,2016) dan Andika (Bassist, 2018) yang sudah tutup usia, para personil Kerispatih tersisa tetap bertahan memasuki fase baru dengan format trio, oleh karena itu judul album mereka adalah “Fase Tiga”, dimana melalui album ini mereka merayakan pasang surut perjalanan Kerispatih di industri musik Tanah Air.

“Fase satu kan masih ada Sammy. Fase dua Badai masih ada, Andika masih ada. Nah, sekarang tinggal kami bertiga. Makanya namanya Fase Tiga,” kata Arief gitaris Kerispatih dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu (13/8/2025).

“Album “Fase Tiga” jadi pembuktian bahwa Kerispatih masih tetap berkarya meski sudah ditinggalkan Sammy Simorangkir dan Badai”, tambah Arief.

“Ini album pertama setelah saya gabung di Kerispatih. Sebelumnya, hanya single single saja. Pasti jadi pembuktian. Cuma semua rezekinya kami serahkan kepada Tuhan,” ucap Fandy Santoso sang vokalis.

Di album terbaru ini, Kerispatih benar – benar bekerja keras dengan menyelesaikan proses pembuatannya hanya dalam waktu 2 minggu. Pihak Formula Music menginformasikan pada insan pers bahwa proses produksi album “Fase Tiga” ini memang sangat cepat dan luar biasa. Dedikasi trio Kerispatih benar – benar total dalam menggarap album ini.

Masih mengusung tema cinta namun lebih umum, para personil Kerispatih menyatakan ada sedikit perbedaan konsep musik di Kerispatih sejak mereka mulai menjalani Kerispatih dengan format trio,

“Kalau sebelumnya kan, di era Badai, keyboard yang lebih dominan. Tapi sekarang karena Arief jadi arranger juga, gitarnya terasa lebih dominan,” kata Fandy.

Aibum “Kerispatih – Fase Tiga” berisi 10 track lagu dengan lagu berjudul “Terbaik Untukmu” dipilih sebagai single pembuka. 10 lagu tersebut diharapkan akan mengobati kerinduan fans Kerispatih yang selama ini sudah menanti karya – karya terbaru Fandy, Arif dan Anton. Penggemar Kerispatih pasti meleleh sekaligus menyisakan kesan manis lewat melodi dan lirik yang dinyanyikan Fandy di album ini.

CD Album “Kerispatih – Fase Tiga” sudah tersedia di 700 lebih gerai KFC di seluruh Indonesia.

Continue Reading