Connect with us

iMovies

Film “Darah Daging” Siap Untuk Tayang, 5 Desember 2019 diseluruh bioskop tanah air.

Published

on

iMusic – Jakarta, 2 Desember 2019 — Apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar kata Darah Daging? Apakah persaudaraan? Kasih sayang? Atau keluarga? Di film DARAH DAGINGhasil karya debut sutradara muda Sarjono Sutrisno ketiga kalimat yang terlintas itu membaur menjadi satu: kekuatan cinta. Diproduksi oleh Skylar Pictures, DARAH DAGING adalah sebuah film drama-laga yang bercerita tentang persaudaraan, kekeluargaan, serta cinta dan kasih sayang seorang ibu yang tulus.

Pada acara Konferensi Pers yang digelar tanggal 2 Desember 2019 pukul 16.00 WIB di Epicentrum XXI, sutradara Sarjono Sutrisno mengatakan “Film ini adalah surat cinta saya untuk ibu saya dan saya berharap film ini bisa digunakan untuk mengatakan “I love you, mom” untuk anak-anak yang kebingungan untuk mengungkapkan kasih saying kepada ibu mereka. “Ibu menjadi peran yang penting dalam film ini, film ini menjadi bukti untuk seberapa jauh seorang anak rela untuk berkorban demi ibunya ataupun orang-orang yang dikasihinya”.

Peran kuat perempuan dalam keluarga serta persaudaraan yang dibalut dengan kemasan drama laga menjadi subjek utama film ini. Hal ini sangat dirasakan oleh Karina Suwandi, aktris hebat yang sudah pernah menjadi berbagai variasi karakter ibu di industri perfilman Indonesia, yang di film ini berperan sebagai Ibu Nurmala. “Sejak proses reading film ini, saya sudah merasakan perbedaan berakting di DARAH DAGING dengan film lainnya. Selain arahan dari sutradara, kita juga diminta untuk menginterpretasi karakter dengan pendalaman kita pribadi sehingga karakter menjadi sangat natural. Hal ini membuat chemistry antara pemain pun bisa terbangun secara organik. Saya pun kemudian bisa merasakan sayangnya anak-anak kepada ibu dan sebaliknya. Mereka semua sudah seperti anak saya sendiri” ujar Karina Suwandi mengenai perannya sebagai Nurmala, sosok ibu dalam film DARAH DAGING.

Tidak hanya unsur laga saja yang penting dalam film ini, namun unsur drama dan kekuatan akting juga menjadi kunci utama demi kepentingan berjalannya cerita dalam film ini. Seperti yang Donny Alamsyah katakan “Di sini saya tidak hanya menonjolkan kekuatan fisik, tapi justru lebih dituntut kedalaman karakter lewat ekspresi yang jauh lebih menantang dari film sebelumnya”. Lawan main Donny dalam film ini, Tanta Ginting menambahkan “DARAH DAGING ini film yang full action tapi diimbangi dengan unsur drama, jadi gak cuma actionnya aja yang bisa dinikmati tapi sisi penceritaannya juga. Pecinta drama dan action akan sangat menikmati film dengan dua genre yang melebur jadi satu ini.”

DARAH DAGING dibintangi oleh deretan aktor dan aktris papan atas Indonesia seperti Ario Bayu (Nominasi Piala Citra Aktor Utama Terbaik Festival Film Indonesia 2014), Donny Alamsyah (Nominasi Piala Citra Aktor Utama Terbaik Festival Film Indonesia 2008), Tanta Ginting (Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung 2016), Karina Suwandi (Nominasi Piala Citra Pemeran Pendukung Wanita Terbaik Festival Film Indonesia 2018) dan Estelle Linden (film Valentine, Mereka Yang Tak Terlihat, BFF, Mia). Selain itu DARAH DAGING juga menampilkan akting perdana layar lebar bagi aktor dan aktris muda Indonesia seperti Arnold Leonard (sinetron Mermaid In Love, Fatih Di Kampung Jawara), Rangga Nattra (film pendek Kasih Ibu) dan Dianda Sabrina (sinetron Mahluk Manis Dalam Bis, Cinta Suci)

Film DARAH DAGING dapat disaksikan di bioskop terdekat anda mulai tanggal 5 Desember 2019. 

Ikuti akun Instagram @skylar.pictures serta Twitter @Skylar_Pictures untuk mengetahui berbagai informasi serta jadwal nonton bareng bersama para cast and crew film DARAH DAGING. (FE)

iMovies

Film “Suzzanna : Santet Dosa Di Atas Dosa” sajikan Spiritual journey Suzzanna

Published

on

iMusic.id – Soraya Intercine Films merilis official poster film horor terbaru “SUZZANNA: SANTET Dosa Di Atas Dosa”. Official film poster tersebut menampilkan visual yang mencekam sekaligus akan memperlihatkan kualitas produksi yang meningkat dari film yang sudah sangat dinanti pada Lebaran tahun ini.

“SUZZANNA: SANTET Dosa Di Atas Dosa” menjadi film terbaru dari waralaba Suzzanna, yang secara produksi dan kualitas penceritaan semakin meningkat. Di samping itu, cerita dan karakter di film ini juga berbeda dari dua film Suzzanna sebelumnya yang sangat sukses.

“Di film “SUZZANNA: SANTET Dosa Di Atas Dosa” saya belajar dari kekurangan yang ada di dua film sebelumnya. Kami mencoba memperbaiki sebaik mungkin sehingga mencapai kualitas karya yang menurut kami perfect. Soraya Intercine Films ingin menghadirkan sebuah hiburan horor klasik pada Lebaran 2026, dengan sentuhan inovatif dan produksi grande untuk mendukung karakter atmosfer ceritanya yang sudah sangat kuat,” ujar produser Sunil Soraya.

Film “SUZZANNA: SANTET Dosa Di Atas Dosa” diproduseri oleh Sunil Soraya, disutradarai Azhar Kinoi Lubis, dan naskahnya ditulis oleh Ferry Lesmana, Jujur Prananto, dan Sunil Soraya.

Bagi Luna Maya, ini menjadi ketiga kalinya memerankan karakter Suzzanna. Sebelumnya, Luna dengan sukses menghidupkan kembali IP Suzzanna lewat perannya di “Suzzanna: Bernapas dalam Kubur” (2018) dan “Suzzanna: Malam Jumat Kliwon” (2023).

“Setiap cerita Suzzanna berbeda. Namun, di film “SUZZANNA: SANTET Dosa Di Atas Dosa” aku tidak bertransformasi menjadi hantu. Di sini karakterku akan melewati spiritual journey yang membuatnya menjadi sosok yang sangat gelap,” kata Luna Maya.

Selain Luna Maya dan Reza Rahadian, film ini turut dibintangi Clift Sangra, Djenar Maesa Ayu, Restu Triandi, Iwa K., Budi Bima, Yatti Surachman, Adi Bing Slamet, Azis Gagap, Ence Bagus, Nunung, dan El Manik.Sebelumnya, universe Suzzanna dari Soraya Intercine Films telah meraih

kesuksesan. Di antaranya, film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018) meraih sukses blockbuster dengan raihan 3 juta lebih penonton. Selanjutnya, Suzzanna: Malam Jumat Kliwon (2023) juga meraih sukses blockbuster dengan raihan 2 juta lebih penonton.

Tonton film “:SUZZANNA: SANTET Dosa Di Atas Dosa” pada Lebaran 2026! Di jaringan bioskop Indonesia. Ikuti informasi terbaru tentang film “SUZZANNA: SANTET Dosa Di Atas Dosa” melalui akun Instagram resmi @sorayaintercinefilms dan @filmsuzzanna.official.

Continue Reading

iMovies

Film “Para Perasuk” disambut standing ovation meriah di Sundance International Film festival 2026

Published

on

iMusic.id – Film terbaru Wregas Bhanuteja persembahan Rekata Studio, “Para Perasuk” (Levitating) baru saja menggelar penayangan perdana (world premiere) di Sundance International Film Festival 2026. Dalam penayangan perdana pada 24 Januari 2026 waktu Amerika Serikat, Para Perasuk mendapat sambutan meriah hingga standing ovation dari para penonton!

Sambutan ini menjadi awal baik perjalanan film “Para Perasuk” yang juga akan segera tayang di bioskop Indonesia. “Para Perasuk” dibintangi Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Bryan Domani, Chicco Kurniawan, serta superstar internasional Anggun.

Di Sundance 2026, “Para Perasuk” juga berkompetisi di program World Cinema Dramatic Competition. Menandai pertama kalinya film Indonesia terseleksi di program tersebut sejak 13 tahun terakhir.

“Kami memulai langkah pertama film “Para Perasuk” di Sundance Film Festival dengan penuh semangat. Harapannya semoga film Para Perasuk bisa bertemu dengan lebih banyak penonton dari berbagai negara setelah ini,” ujar produser Iman Usman.

Di film “Para Perasuk”, Wregas mengeksplorasi kisah pencarian obsesif dari anak muda bernama Bayu untuk menjadi perantara roh, di saat kekuatan dari luar tengah mengancam desanya. Di film ini, Wregas juga dengan piawai mengeksplorasi fenomena kerasukan menjadi sebuah pengalaman komunal masyarakat, alih-alih sekadar sebagai sesuatu yang eksotis.

“Kerasukan dan adanya ritual sambetan di film ini ditampilkan sebagai pengalaman komunal sehari-hari, momen-momen di mana orang-orang keluar dari rutinitas mereka, melepaskan tekanan, dan terhubung kembali dengan sesama,” ujar Wregas Bhanuteja.

“Saya merasa sangat berterima kasih karya terbaru kami diterima dengan baik oleh audiens internasional, termasuk di Sundance, dan semoga nanti juga mendapat sambutan yang baik dari penonton Indonesia,” tambah Wregas.

Selain mendapat sambutan yang hangat dengan standing ovation dari para penonton, film “Para Perasuk” juga mendapat ulasan kritis yang positif. Media internasional Screen Daily menulis Anggun sebagai sosok yang memukau, dan film ini memberikan pencerahan.

“Kisah quasi-coming-of-age yang energetik dari (Wregas) Bhanuteja ini memberikan pencerahan sekaligus kecerdasan secara artistik,” tulis ulasan Screen Daily.

Tak hanya media, penonton umum juga menyambut film ini secara positif di Sundance.

“Luar biasa keren. Harus ditonton dengan pengalaman menonton di bioskop,”kata akun Letterboxd bradf13.

“Benar-benar jenius! Menonton film ini secara spontan tanpa ekspektasi tinggi, dan ternyata saya sangat terpukau oleh ceritanya yang imajinatif sekaligus kuat. Film ini jauh lebih ramah penonton daripada yang saya duga. Jajaran pemerannya luar biasa dan sangat mendalami peran, sementara fokus sutradara Wregas Bhanuteja pada ritme dan keajaiban benar-benar memikat hati dan imajinasi saya,” kata akun Letterboxd SWeidman112.

Sundance International Film Festival adalah salah satu festival film legendaris di Amerika Serikat yang pertama kali berlangsung pada 1978. Festival film ini merupakan festival film independen terbesar di dunia. 

Sundance 2026 berlangsung pada 22 Januari–1 Februari 2026. Film Para Perasuk terpilih dari total 16.201 film submissions (termasuk 2.579 film panjang internasional) dari 164 negara.

Di Sundance, Para Perasuk berkompetisi dengan total 9 film lainnya di program World Cinema Dramatic Competition. Sebelumnya, film pendek karya Wregas Bhanuteja, Tak Ada yang Gila di Kota Ini juga pernah berkompetisi di Sundance 2020 di program International Narrative Short Films.

Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film Para Perasuk melalui akun Instagram resmi @filmparaperasuk dan @rekatastudio. Tonton film Para Perasuk di bioskop Indonesia segera!

Continue Reading

iMovies

Tayang saat ini, Film “Esok Tanpa Ibu” di sutradarai orang Malaysia

Published

on

iMusic.id – Film “Esok Tanpa Ibu” (Mothernet) hadir sebagai kisah yang akan menghangatkan penonton Indonesia lewat sebuah kontras ketika kecerdasan buatan (AI) berupaya menggantikan peran seorang Ibu untuk mengasihi dan memberikan empati kepada seorang anak remaja yang kehilangan Ibunya yang tengah mengalami koma berkepanjangan.

Dibintangi Ali Fikry, Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, Aisha Nurra Datau dan Bima Sena, Film “Esok Tanpa Ibu” (Mothernet) akan tayang di bioskop mulai 22 Januari 2026. Film ini diproduksi oleh BASE Entertainment, Beacon Film, Refinery Media, dan didukung oleh Singapore Film Commission (SFC) dan Infocomm Media Development Authority (IMDA).

Selain berperan, Dian Sastrowardoyo juga memproduseri film ini bersama Shanty Harmayn. Disutradarai oleh sutradara asal Malaysia Ho Wi-ding, naskah film ini ditulis oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief. Film “Esok Tanpa Ibu” (Mothernet) menampilkan sebuah kisah yang personal, saat perasaan kehilangan dan duka dari seorang remaja bernama Rama/Cimot dan seorang suami menjadi satu-satunya yang tersisa dalam sebuah keluarga, keduanya mencoba untuk menjalin hubungan yang dekat. Namun, kecanggungan membuat keduanya justru semakin berjarak. Sebuah situasi yang sebelumnya selalu direkatkan oleh kehadiran sang Ibu.

Dalam film “Esok Tanpa Ibu”, Kehilangan sosok Ibu yang mengalami koma di usia yang sangat muda, membuat Cimot akhirnya mencoba segala cara. Termasuk dengan menggantikan peran Ibu lewat sebuah kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus oleh temannya. i-BU, AI yang dipersonalisasi untuk Cimot, mampu memahami perasaannya, mengetahui hal-hal yang ia sukai, dan menemani percakapan seperti Ibunya saat masih sehat.

“BASE Entertainment selalu berupaya menghadirkan kebaruan dalam cerita yang kami sajikan. Melalui film terbaru “Esok Tanpa Ibu” (Mothernet), kami ingin membicarakan duka dan relasi keluarga dengan bahasa yang relevan dengan hari ini dalam konteks teknologi AI yang kini sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Kami berharap kisah yang sangat personal ini dapat beresonansi secara universal dengan penontonnya,” ujar produser Shanty Harmayn.

Bagi produser dan pemeran Ibu, Dian Sastrowardoyo, film “Esok Tanpa Ibu” (Mothernet) membicarakan hal-hal yang mendasar tentang hubungan manusia di tengah perkembangan pesat teknologi.

“Ini adalah film keluarga yang mempertanyakan tentang autentisitas koneksi manusia di dunia yang sangat modern, di saat teknologi sudah sangat dekat seperti sekarang. Ketika teknologi hadir di ruang paling privat. Bagaimana manusia modern, yang beda generasi antara anak dan Bapak menghadapi duka, dengan atau tanpa bantuan teknologi,” kata Dian Sastrowardoyo.

Di film ini, penonton juga akan melihat transformasi Ali Fikry sebagai salah satu pemeran remaja berbakat saat ini. Perannya sebagai Rama atau Cimot mampu mengimbangi peran dari dua aktor seniornya, Dian Sastrowardoyo dan dan Ringgo Agus Rahman. Ali dengan sangat baik menampilkan berbagai lapisan emosi kedukaan yang dihadapi karakter Cimot.

“Apa yang aku eksplorasi di sini adalah remaja yang mencari tahu, ketika dia tiba-tiba kehilangan sosok Ibu, yang setiap harinya selalu ada buat dia. i-BU yang digunakan Cimot di film ini menjadi coping mechanism-nya, tempat yang nyaman untuk menggantikan peran Ibu. Tapi dia juga percaya, i-BU tidak bisa menggantikan Ibunya, hanya jadi sosok baru baginya,” kata Ali Fikry.

Sebagai bagian dari proses perilisan film, “Esok Tanpa Ibu” (Mothernet) juga didukung melalui kolaborasi promosi dengan Samsung Galaxy dan Telkomsel. Kolaborasi ini mengusung pendekatan Advertorial Sponsorship serta pemanfaatan kekayaan cerita (IP Utilization) dari film “Esok Tanpa Ibu” (Mothernet), sehingga memungkinkan aktivasi yang lebih kreatif, relevan, dan terintegrasi dengan karakter serta dunia cerita dalam film.

Tonton film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) mulai 22 Januari 2026 di bioskop Indonesia! Ikuti perkembangan terbaru film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) melalui akun Instagram @base.id & @filmesoktanpaibu.

Continue Reading