iMusic.id – New chaséiro, grup vokal asal jakarta hadir diblantika musik tanah air dengan melepas mini album (EP) ditahun 2023 ini.
New chaséiro adalah transformasi dari Chaseiro All Stars. Perubahan nama itu tidak membuat niat awal melanjutkan perjalanan musik grup vokal legendaris Chaseiro yang dibentuk tahun 1975 silam oleh Chandra Darusman dan kawan – kawan menjadi pupus.
Grup New chaséiro digawangi oleh Rafi Sudirman, Albert Fakdawer, Kafin Sulthan dan Rega Dauna. Tak hanya punya bakat vokal yang indah, mereka juga piawai memainkan alat musik.
“Waktu memilih anak-anak ini kami juga dibantu Nino RAN. Tadinya mau gelar audisi terbuka, tapi akhirnya ini saja yang dipilih. Tak hanya punya kemampuan vokal dan bisa memainkan instrumental, anak-anak ini humble dan mau belajar. Itu tentu kriteria terpenting,” kata Candra Darusman saat peluncuran EP New chaséiro di kawasan Ciledug, Senin (3/7/2023).
Dipercaya mengemban nama Chaseiro diakui Kafin Sulthan membuat beban tersendiri. Namun, mereka menganggap hal itu sebagai tantangan baru dan sebagai salah satu pembelajaran didunia musik.
“Beban tentunya ada karena Chaseiro punya nama. Yang pasti ini jadi lahan belajar dan taman bermain yang menyenangkan. Ini proyek eksplorasi musik yang menarik. Itu kenapa kami mau bergabung,” tambah Kafin.
“Saya seneng banget bisa bergabung bersama-sama dengan New chaséiro, terutama untuk semua teman-teman Chaseiro memberikan kepada kami tongkat estafet bermusik dan berkarya di industri musik Indonseia. Kita seneng banget karena ini kesempatan yang langka sebenarnya. Ini kesempatan untuk membuat sejarah baru di permusikan Indonesia.” ujar Albert Fakdewer.
New chaséiro pada tahun 2020 bernama Chaseiro All Stars sebagai regenerasi dari grup vokal Chaseiro telah meluncurkan single pertama berjudul Matahari Di Hati serta single kedua Ceria karya dari Candra Darusman dan Rizali Indrakesuma, yang merupakan dua personil dari Chaseiro.
Kini Grup Vokal dengan formasi empat personil merilis sebuah mini album (EP) berjudul “New Chaséiro” yang berisikan lima lagu dengan tiga lagu baru dan dua lagu original Chaseiro dalam aransemen baru.
“Kami ingin menyuguhkan wajah baru dari Chaseiro original di industri musik, dulu Chaseiro original pada masanya juga merupakan grup vokal yang keren dan bagus banget bahkan mereka grup yang menjadi influencer. Dan kami juga punya suasana yang sama, bisa membawa lagu – lagu Chaseiro original di jaman sekarang,”kata Kafin Sulthan
EP New chaséiro hadir dengan warna musik yang fresh dan aransemen murni dari empat personil New chaséiro. Perpaduan aransemen musik dan harmoni vokal serta lirik pada lagu baru maupun lagu lama, membuat sebuah cerita dan keindahan tersendiri pada setiap lagu-lagu yang dipersembahkan oleh New chaséiro.
Proses EP ini dimulai saat awal pandemi covid19 dan melewati proses yang cukup panjang, dikarenakan kesibukan masing masing dari para personil.
“Dengan hasil EP ini kami ingin mempersembahkan serta memperkenalkan karakter bermusik dari Rafi Sudirman, Albert Fakdawer, Kafin Sulthan dan Rega Dauna sebagai personil resmi New chaséiro.”tutup grup vokal ini. (EH).
iMusic.id – Tercatat 1,5 tahun setelah merilis EP / Mini Album “Into the Void”, Marryanne, Unit Shoegaze / Alternative asal Cirebon yang saat ini digawangi oleh Oya (Vocal), Cyril (Guitar & Vocal), Andhik (Bass), Ares (Drum) dan Erlangga (Guitar) akhirnya melepaskan karya terbarunya dalam bentuk Maxi Single yang bertajuk “Feel the Pain”. Dirilis pada 27 Februari 2026, Maxi Single ini menandai perjalanan Marryanne di tahun 2026 setelah menyelesaikan tour kedua mereka “Distant Light Tour” yang menyambangi beberapa kota di Pulau Jawa.
Maxi Single “Feel the Pain” ini berisi 2 lagu yakni “Feel the Pain” dan “Forfeit“. Kedua lagu ini terhubung melalui satu alur emosional, menelusuri cerita yang berkelanjutan, bagaimana amarah yang tak terkendali dapat menyebabkan kehilangan dan bagaimana kehilangan itu tetap membekas lama setelah intensitasnya mereda.
“Feel the Pain” berpusat pada amarah sebagai kekuatan yang menghancurkan. Lagu ini menangkap perasaan terjebak dalam pikiran yang berulang, dimana frustrasi berbalik ke dalam dan identitas mulai kabur. Lagu ini mencerminkan luapan emosi, ketika amarah tidak lagi meledak-ledak, tetapi berat, berulang, dan melelahkan. Pergerakan terasa mendesak namun tanpa arah, didorong oleh intensitas daripada kejelasan.
“Forfeit” melanjutkan cerita setelah amarah mereda, mengungkapkan apa yang tersisa, yakni kehilangan. Dengan latar belakang cahaya lampu kota, lagu ini mengeksplorasi kekosongan yang tertinggal setelah kebisingan mereda. Amarah masih ada, tetapi lebih tenang terjalin dengan kerinduan dan ketidakhadiran. Waktu terasa rapuh, kenangan dikejar daripada dipertahankan, dan koneksi menjadi sesuatu yang ada sebentar sebelum menghilang. Lagu ini merangkul kerentanan, di mana rasa sakit dan keintiman hidup berdampingan dalam momen yang singkat.
Secara musikal, Maxi Single “Feel the Pain” banyak dipengaruhi beberapa musisi, mulai dari Nothing, Life on Venus, Whirr dan Momma. Proses produksinya sendiri berlangsung sejak Agustus hingga Desember 2025.
Maxi Single “Feel the Pain” sudah dapat didengarkan di seluruh Digital Streaming Platform.
iMusic.id – Penyanyi sekaligus penulis lagu asal Indonesia, Jey Denise, resmi merilis single terbarunya berjudul “No. 1 Priority“. Karya ini hadir sebagai sebuah anthem penuh jiwa yang menekankan pentingnya menempatkan diri sendiri sebagai prioritas utama.
Dalam keterangan tertulis, Jey Denise menyampaikan bahwa lagu “No. 1 Priority” merupakan single keduanya. Lagu ini menjadi refleksi perjalanan musikal tentang kemenangan pribadi yang dapat dirasakan oleh banyak orang.
“Saya ingin lagu ini menjadi pengingat bahwa kita berhak menempatkan diri sendiri sebagai prioritas, Konsistensi, keyakinan pada diri sendiri, dan keberanian untuk melawan rasa takut adalah hal-hal yang selalu saya pegang dalam perjalanan musik saya. Lagu ‘No. 1 Priority’ adalah refleksi dari itu semua ucap Jey Denise.
Menurut Jey Denise, single ini dibalut dengan nuansa groove awal 2000-an yang ringan dan menyenangkan. Dengan karakter musik tersebut, ia berharap lagunya bisa menjadi teman di berbagai suasana, baik saat bersantai di sore hari, berjalan bersama pasangan, maupun berkumpul dengan teman-teman.
{“key”:”we2″}
Dalam proses kreatif, Jey Denise mengambil kendali penuh atas produksi dan aransemen lagu. Hal ini menunjukkan komitmen serta keterlibatan mendalam dirinya dalam setiap detail musikal.
Sentuhan akhir dipercayakan kepada Thomas “J.Soul” Burrough yang menghadirkan kualitas terbaik melalui mixing dan mastering, sehingga menghasilkan karya yang solid secara teknis sekaligus kuat dalam pesan.
Jey Denise sendiri bukan nama baru di dunia musik. Ia telah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung di industri ini, dan sejak 2017 dikenal sebagai artis vokal-gitar looping yang tampil rutin di berbagai bar, kafe, dan klub di Jakarta.
Processed with VSCO with we2 preset
Dengan persiapan matang di setiap penampilan, ia membangun reputasi sebagai musisi yang menghadirkan standar baru dalam dunia looping di Indonesia.
Kini, kariernya merambah panggung internasional dengan tampil sebagai musisi di kapal pesiar berbasis Amerika Serikat. Langkah ini menjadikannya salah satu solois perempuan pertama dari Indonesia yang menorehkan prestasi di jalur tersebut.
Popularitasnya semakin meningkat setelah konten mengenai kehidupannya sebagai musisi di kapal pesiar viral di media sosial, khususnya Instagram.
Processed with VSCO with we2 preset
Sebelum merilis “No. 1 Priority”, Jey Denise telah memperkenalkan single perdananya berjudul “Lemme Out” pada Juli 2024.
Lagu tersebut memperlihatkan konsistensinya dalam menghadirkan karya yang relevan dengan perkembangan musik modern, sekaligus memperkuat posisinya sebagai musisi independen yang produktif.
Dengan dua rilisan ini, Jey semakin menegaskan identitasnya sebagai musisi yang mampu menyatukan pengalaman personal dengan tema universal yang menginspirasi.
Saat ini, single “No. 1 Priority” milik Jey Denise sudah tersedia dan dapat didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital.
iMusic.id – Difki Khalif dan Prinsa Mandagie berkolaborasi dalam proyek spesial untuk menghidupkan kembali lagu populer era 2000-an, “Seandainya”. Kolaborasi ini menjadi ruang eksplorasi musikal bagi keduanya, sekaligus menghadirkan interpretasi baru atas lagu yang telah melekat di memori banyak pendengar.
Proyek ini terwujud melalui kolaborasi lintas label antara Musica Studios dan Sony Music yang membuka ruang bagi para artis untuk menafsir ulang karya-karya populer. Dari beberapa pilihan lagu, Prinsa Mandagie menjatuhkan hati pada “Seandainya”, karya band era 2000-an Vierratale (yang sebelumnya dikenal sebagai Vierra).
“Banyak orang tumbuh bersama lagu ini, termasuk aku,” ungkap Prinsa Mandagie. Lagu tersebut memang menjadi salah satu anthem galau yang mewarnai masa remaja generasi 2000-an.
Kolaborasi Prinsa Mandagie dengan Difki Khalif, yang memiliki latar belakang sebagai anak band, menjadi elemen penting dalam proses kreatif ini. Sebagai dua solois dengan karakter vokal berbeda, mereka menjalani workshop untuk menemukan chemistry serta pembagian bagian vokal yang paling harmonis.
“Kami memang punya range suara berbeda, jadi workshop membantu kami menentukan siapa menyanyikan bagian mana supaya tetap harmonis,” jelas Difki.
Meski berasal dari latar musikal yang berbeda, keduanya justru menemukan energi baru dalam proyek ini. Aransemen “Seandainya” dibuat lebih emosional dan segar dengan tambahan sentuhan orkestra, memperkuat karakter pop-rock yang ingin mereka hadirkan.
Bagi Prinsa, pengalaman ini terasa berbeda dari karya-karyanya yang biasanya bernuansa dewasa dan sentimental. “Tantangannya bukan hanya membawakan ulang, tapi bagaimana membuatnya terasa segar, tetap akrab, namun punya warna kami sendiri,” katanya.
Kolaborasi ini juga menjadi ruang belajar bagi keduanya. Prinsa mengeksplorasi sisi lain dari jangkauan vokalnya, sementara Difki beradaptasi dengan dinamika duet yang menjadi pengalaman baru baginya. Proses harmonisasi vokal dirancang oleh Barsena Bestandhi, yang memastikan dua warna suara berbeda tersebut dapat menyatu dengan mulus.
Proses kreatifnya tidak selalu mudah. Mereka mencoba berbagai opsi pembagian suara, menyesuaikan range dan karakter masing-masing hingga menemukan keseimbangan yang tepat. Perbedaan justru menjadi kekuatan yang membuat versi ini terasa segar dan unik.
Momen paling berkesan terjadi saat sesi preview akhir. Ketika aransemen lengkap termasuk elemen orkestra mulai terdengar utuh, keduanya merasakan lagu ini menemukan bentuk barunya: emosional, enerjik, namun tetap mempertahankan esensi lagu aslinya. Seperti yang diungkapkan Prinsa, “Ini bisa jadi versi yang berbeda, tapi tetap familiar.”
“Seandainya” versi Difki Khalif dan Prinsa Mandagie sudah dapat dinikmati di seluruh platform musik digital di Februari 2026.