Connect with us

iMusic

“Noui” merilis EP pertamanya dengan judul “innerchild”.

Published

on

iMusic – Sebuah proses penemuan identitas diri” noui, penyanyi-penulis lagu kelahiran Indonesia, 17 Juli 1996 yang saat ini tinggal di Singapura, dengan bangga mengumumkan EP pertamanya.

Setelah sebelumnya merilis tiga single “everytime we fall”, “hometonone” dan “reverie (the sweeter it is) with A. Nayaka”, noui masih terus memberikan pendengarnya lebih banyak cerita tentang penemuan identitas diri melalui musiknya dan akhirnya merilis mini album pertamanya yang berjudul “innerchild”.

“innerchild” hadir dengan 6 lagu, termasuk 3 single pertamanya dan akan dirilis di seluruh dunia pada 8 April 2022. Sebagai seseorang yang berfokus pada sisi baik dari tragedi, noui ingin meningkatkan kesadaran dan mendorong orang untuk meromantisasi dan menghargai setiap saat mereka sepanjang hidup mereka.

Dengan sedikit tambahan nilai filosofi dalam musiknya, ia berharap dapat memberikan semacam harapan dan kebersamaan bagi pendengarnya, atau bahkan mengubah cara mereka hidup dan memandang sesuatu melalui musiknya. Oleh karena itu, ia selalu menyembunyikan makna dalam lagu-lagunya, terutama tentang kebenaran keberadaan, momen, dan kegilaan, yang dituangkannya dalam EP ini.

Judul EP “innerchild” terinspirasi dari pengalaman pribadi noui yang sudah dituangkan di setiap track di EP ini. “innerchild” menceritakan masa kecil seseorang yang tertutup oleh trauma, dan peristiwa yang terkadang sulit dicerna. Peristiwa-peristiwa itu mengarah pada perjalanan penemuan diri.

Dikompilasi menjadi satu emosi, lagu di sini menceritakan lebih dari sekadar memenuhi mata, tetapi juga perjalanan spiritual & mentalnya selama bertahun-tahun. noui bertujuan untuk memberikan emosi berbeda yang disampaikan dalam cerita yang berbeda dari masing-masing 6 lagu kepada pendengarnya. “innerchild” di-master oleh Star Delta @ United Kingdom.

girl of the earth” sebagai fokus track dalam EP ini diambil dari perjalanan spiritual noui sendiri yang menunjukkan keyakinannya tentang dunia. Lagu ini adalah dialog pribadi di dalamnya yang membuatnya mempertanyakan realitasnya.

noui percaya pada manusia ada entitas yang lebih baik, yang ada di semua manusia, bahkan di alam semesta, yang selalu membantu membimbing kita ke jalan kita. Dia percaya awal dari entitas ini adalah satu, satu asal.

Selama masa pertumbuhannya, dia bertemu dengan ‘makhluk’ yang terlihat sebagai teman imajiner atau kadang-kadang memanifestasikan dirinya dalam episode kelumpuhan tidurnya. Interaksi antara dia dan ‘makhluk’ segera menjadi bagian dari dirinya. Keyakinan dan keingintahuan baru muncul sejak mereka berdua terhubung, membuka pikirannya pada sesuatu yang lebih dalam.

noui yang melankolis dan penuh perasaan membawa getaran yang cukup berbeda dari lagu-lagu sebelumnya di trek ini, di mana ia mengeksplorasi lebih banyak suara elektronik dan memberikan sentuhan yang lebih up-beat.

Lagu lain dari EP, “CYNIC” menceritakan sebuah kisah ketika noui mengalami cinta yang beracun, di mana dia mengidealkan hal-hal buruk yang dialami dalam suatu hubungan sebagai hal yang normal. noui juga mengutip dari Wanda, dari Bojack Horseman “Ketika anda melihat sesuatu melalui kacamata berwarna mawar, semua bendera merah hanya terlihat seperti bendera”.

Sedangkan “cactus” menceritakan tentang cinta tanpa syarat, dan hubungan antara dua manusia. Jenis ‘cinta’ yang meskipun terpisah, mereka masih bisa tumbuh bersama. Melalui single debutnya, “everytime we fall”, noui mengingatkan pendengarnya bahwa waktu kita dapat berakhir kapan saja, dan kita mungkin hanya memiliki hari ini untuk hidup dengan seseorang seperti teman, keluarga, kekasih, dan apa pun yang kita sayangi.

Mau tidak mau, tidak bisa dihindari. Lagu tersebut diciptakan dan terinspirasi dari perasaan sedih yang dialami noui saat kehilangan ayahnya. noui ingin mendorong pendengar untuk jatuh cinta dengan setiap momen yang mereka miliki dengan siapa pun atau apa pun, dan meromantisasi setiap momen dalam hidup.

Untuk merangkul dan menikmati hari ini, dan melepaskan kesempatan untuk memiliki penyesalan. Sementara, “hometonone”, noui bernyanyi tentang menemukan arti rumah dan menemukan pelipur lara dalam ketidakpastian. Hidup suka memberi kejutan, terkadang menghasilkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Orang mungkin merasa seolah-olah mereka tidak memiliki rumah ketika mereka dipaksa untuk menyendiri. Ini adalah saat mereka akan mulai menemukan arti dari apa pun yang membuat seseorang merasa betah. Dan terakhir, “reverie (the sweeter it is) with A. Nayaka” adalah salah satu lagu kolaborasi dengan Ariel Nayaka.

reverie bercerita tentang seorang anak yang diabaikan dan disalahpahami, dan takut untuk membawa esensi sejatinya ke masa dewasa. Mempengaruhi hubungan interpersonalnya di mana dia pikir orang akan meninggalkannya ketika dia mengungkapkannya.

Dia menyanyikan curahan hatinya tentang ingatan masa kecilnya, trauma masa kecilnya yang dia alami yang memengaruhi hubungan interpersonalnya di masa dewasanya. Memberitahu orang bahwa dia bersama (pasangan/teman) bahwa dia sangat hancur. Hancur ke titik dimana menakutkan untuk memikirkan hal-hal bahagia dan hanya dapat kembali ke apa yang mereka anggap normal: imajinasi mereka yang mengerikan – kebahagiaan misalnya ketergantungan bersama, posesif, menghindari cinta.

Akhirnya berada dalam hubungan yang beracun, atau persahabatan yang beracun, tetapi pada saat yang sama juga penuh dengan keingintahuan masa kecil tentang cinta, masih murni.

Ditulis dengan indah oleh noui, dan bertujuan untuk bercerita tentang pengalamannya melalui musik, dan liriknya, noui berharap pesan yang disampaikan dari lagu-lagu tersebut dapat menyentuh Anda dengan tulus. (FE)

iMusic

Ikaputri hadirkan single remake berjudul “Sadis”

Published

on

iMusic.id – Penyanyi yang Sudha 7 tahun vakum, Ikaputri kembali hadir memperkenalkan single remake karya Bebi Romeo berjudul “Sadis”. Kehadiran kembali penyanyi senior tersebut tentu saja membawa misi yang me-reposisi karirnya di tengah gelombang industri digital saat ini.

Bukan sekadar nostalgia, Ikaputri membawa tesis baru tentang bagaimana sebaiknya seorang talenta me-reposisi kariernya di tengah disrupsi digital. Dalam kacamata business thinking, Ikaputri tidak sekadar menyanyi namun ia juga sedang mengelola aset intelektual dan personal branding dengan ketajaman seorang eksekutif yang paham akan nilai market durability.

​Ikaputri dengan pengalaman dan rekam jejaknya sebagai penyanyi yang sudah punya jam terbang tinggi mengaku cukup tertantang untuk bisa membawakan lagu “Sadis” melebihi atau paling tidak menyamai vibe Afgan, solois yang telah menyatu dan sukses dengan lagu ini,

“Tantangan membawakan ulang lagu ini cukup berat, karena setelah Afgan juga ada Citra Scholastika yang mendaur ulang lagu ini dengan baik. Saya berusaha masuk ke dalam lagu ini melalui penghayatan versi saya dengan ditambah saran dan ide dari produser saya plus team kreatif saya seperti mas Seno M Harjo”, terang Ikaputri.

“Saya awalnya kepikiran untuk melepaskan seluruh emosi dan cara bernyanyi yang full power untuk membawakan lagu ini, namun team produser saya punya cara pandang lain, saya justru di minta untuk banyak nge-rem pas nyanyi lagu ini”, tambah Ikaputri.

​Di ciptakan oleh Bebi Romeo dan diaransemen oleh Irwan Simanjuntak, lagu “Sadis” ini terasa memang di buat lebih simple dari sudut musiknya. Nampaknya dari awal team produksi single ini punya tujuan untuk meng-eksplore vokal Ikaputri sehingga mengorbankan aransemen musiknya, padahal hampir si setiap remake lagu, versi daur ulangnya kebanyakan di aransemen lebih grande dan mewah dari versi aslinya.

Namun begitu, walaupun tidak terlalu signifikan, eksplorasi vokal Ikaputri memang terjadi dan Ikaputri sanggup menjawab tantangan tersebut dengan baik. Hanya saja terdengar agak aneh saja ketika aransemen musiknya di buat simple dan sederhana, tapi eksplorasi vokal Ikaputri juga agak di rem.

Lewat single terbaru ini, ternyata Ikaputri cukup update juga dengan perkembangan bisnis digital musik saat ini. Ikaputri menyikapi fenomena TikTok dan Spotify dengan cukup bijak. Alih-alih meratapi hilangnya era fisik (CD/Kaset), ia justru melakukan pemetaan audiens secara taktis. Ia paham bahwa “Viral” adalah bonus, namun “Data” adalah fondasi.

​Hasilnya terukur secara empiris: lebih dari 115.000 streams dalam waktu singkat dan keberhasilan menembus empat Official Playlist bergengsi Spotify termasuk “Woman of Indonesia” dan “Fresh Find Indonesia” bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah hasil dari sinergi antara BHS Productions agregator Trinity Optima serta dukungan strategis dari Seno M. Hardjo & Team.

​Tingginya jam terbang Ikaputri di dunia tarik suara membuat Ika berhasil menyelesaikan tantangan menyanyikan lagu “Sadis” ini dengan baik. Ikaputri yang terdidik sejak era festival internasional (Shanghai Music Festival) memiliki koleksi nyaris 300 piala kejuaraan menyanyi sepanjang karirnya.

​Single “Ikaputri – Sadis” sudah bisa disimak di seluruh Digital Store Platform. Ke depannya Ikaputri akan mencoba merilis lagu – lagu terbarunya lagi. Congrats Ikaputri!

Continue Reading

iMusic

WUSS bercerita tentang anak kedua di single “Born In February”

Published

on

iMusic.id – Setelah merilis “Where It Begins” pada 2025, WUSS kembali memperkenalkan “Born in February”, sebuah karya yang lahir dari ruang di antara sorak dan kekacauan, di antara yang diagungkan dan yang sering terlewatkan. Ditulis oleh Brilyan Prathama Putra dan Sabiella Maris, lagu ini menjadi pengakuan personal tentang tumbuh sebagai “anak kedua”: bukan bayangan, bukan pengganti, namun kerap diperlakukan sebagai jeda yang mudah dilupakan.

Melalui lagu ini, Sabiella Maris (vokal, gitar), Brilyan Prathama Putra (vokal, gitar), Rara Harumi (bass), dan Rufa Hidayat (drum) yang tergabung di WUSS menolak anggapan bahwa urutan adalah identitas, dan menegaskan bahwa bertahan seringkali membutuhkan tenaga yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi yang pertama. Single “Born in February” telah rilis di semua DSP pada 06 Februari 2026.

“Anak kedua lahir di tengah dua dunia satu riuh penuh sorak, satu lagi kacau dan nggak pernah benar-benar rapi. Sering kali posisinya cuma dianggap lewat. Bagi anak kedua, ‘second’ itu cuma urutan, bukan identitas,” kata Brilyan dari WUSS.

Single “Born in February” menghadirkan sudut pandang tentang posisi kedua yang hidup di bawah perbandingan tanpa akhir, ketika suara kerap tenggelam oleh yang dianggap lebih utama dan mudah diterima. Alih-alih meminta maaf karena berbeda, WUSS justru merayakan keganjilan itu, liar, lentur, dan sulit dipatok sebagai sumber nyawa lagu ini, yang bertumpu pada keberanian untuk terus bergerak meski dunia sesekali memalingkan muka.

Bagi WUSS, “kedua” bukan cerita tentang kalah cepat, melainkan tentang bertahan lebih lama: tumbuh tanpa tepuk tangan, tetap berani menatap langit, dan menemukan ruang paling jujur untuk menjadi diri sendiri. Lewat lagu ini, WUSS menegaskan sikap untuk tidak menjadi salinan atau berjalan di jalur aman demi diterima, seraya mengingatkan bahwa “kedua” hanyalah angka, bukan identitas, sekaligus penanda baru tentang ketahanan dan keberanian untuk terus bermimpi, bahkan ketika dunia memilih untuk tidak melihat.

Proses produksi “Born in February” berlangsung kurang lebih selama satu bulan, dimulai sejak pertengahan Desember 2025 hingga awal Januari 2026. Lagu ini ditulis oleh Brilyan Prathama Putra dan Sabiella Maris, dengan lirik yang digarap oleh Sabiella Maris. Proses komposisi melibatkan seluruh personel, Sabiella Maris, Brilyan Prathama Putra, Rara Harumi, dan Rufa Hidayat yang bersama-sama merangkai dinamika emosional lagu ini menjadi satu kesatuan utuh.

Saat ini, WUSS juga tengah mempersiapkan album penuh yang akan menjadi kelanjutan dari rilisan single mereka. Album tersebut direncanakan berisi 12 lagu, dengan satu single terakhir yang akan dirilis sebagai pengantar sebelum album resmi diluncurkan. Menariknya, single penutup menuju album ini akan melibatkan kolaborasi dengan musisi di luar Jawa Timur. WUSS berharap seluruh prosesnya dapat berjalan lancar dan album ini bisa segera diperkenalkan ke publik.

“WUSS saat ini tengah menyiapkan album penuh berisi 12 lagu, dengan satu single terakhir sebagai pengantar menuju perilisan album, termasuk kolaborasi dengan musisi di luar Jawa Timur. Doakan kelancaran proyek kami ini ya,” ujar Sabiella.

Single “Born in February” sudah dapat didengarkan di seluruh platform digital (DSP) mulai 6 Februari 2026. Jangan lewatkan dan dengarkan pernyataan terbaru dari WUSS di platform streaming musik pilihan anda.

Continue Reading

iMusic

Iqbal Aria rilis single “Home” di label milik Afgan

Published

on

iMusic.id – Musisi muda Iqbal Aria memperkenalkan single pertamanya yang berjudul Home. Lagu yang ia produseri sendiri ini dirilis di bawah naungan label Better Days Production milik Afgan.

Bernuansa melankolis, Iqbal Aria menjelaskan bahwa Home adalah sebuah lagu tentang penyesalan. Karya yang didominasi alunan gitar dan strings ini mengisahkan tentang rasa sesal karena menyakiti perasaan seseorang yang kita kasihi. Semua dilakukan tanpa pikir panjang, melupakan fakta kalau mereka adalah ‘rumah’ untuk kita.

“Aku suka lagu yang simpel, dan aku menerapkannya di lagu Home. Aku ingin emosi di lagu Home bisa dirasakan dari semua sisi. Aku terinspirasi beberapa band di era 60’s dan 70’s yang lirik lagunya puitis dan mudah didengar. Selain itu, aku juga suka menggunakan analogi untuk mempertegas esensi lirik yang aku tulis. Dari situ, lahirlah Homeyang didasari atas pengalaman pribadiku,” jelas Iqbal Aria.

Bermusik, terutama menyanyi dan bermain gitar adalah kegemaran Iqbal Aria sejak kecil. Ia banyak menyelami berbagai genre, mulai dari jazz yang menjadi main root-nya, pop, hingga vintage rock dan metal. Pada tahun 2015, ia mulai serius menekuni musik dan kerap tampil di berbagai panggung. Tahun 2019, Iqbal Aria dikenal sebagai vokalis/gitaris heavy rock band bernama MAUT. Kini, ia melebarkan sayapnya menjadi seorang solois. Hingga kini, ia aktif bermusik sebagai anggota band indie.

Talenta yang dimiliki Iqbal Aria pun mempertemukannya dengan Afgan di tahun 2024. Kala itu, mereka bertemu di sebuah acara karaoke dan Iqbal diminta bernyanyi.

“Aku amaze mendengar suara Iqbal. Karakter suaranya kuat, timbrenya soulful dan aku bisa merasakan soul-nya ketika ia bernyanyi. Iqbal sendiri adalah sosok yang very humble, eager to learn, very grounded, dan sangat autentik. Menurutku, seorang artist itu tidak cukup punya talenta saja, tapi humility dan attitude yang baik. Hal itulah yang membuat karier mereka panjang,” jelas Afgan.

Iqbal Aria pun menjadi artis pertama label Better Days Production milik Afgan. Menurut Afgan, suara dan bakat bermusik Iqbal Aria sangat sesuai dengan karakter musisi yang ia cari selama ini dan selaras dengan prinsip Better Days Production. Soal Home, Afgan merasa lagu tersebut sangat merepresentasikan musikalisasi Iqbal Aria.

Home is beautifully written, maknanya dalam dan semua orang bisa relate. Home isn’t literally ‘rumah’, tapi seseorang juga bisa disebut ‘home’. Our loved ones, our partners, sangat universal. Notasi dan chord progression-nya memiliki sesuatu yang nostalgic dan dan aku harap “Home” bisa resonate ke banyak orang,” kata Afgan.

“Aku super excited dan happy karena selama ini aku enggak pernah work hard under my own name. Setelah melewati banyak pertimbangan, aku pun mantap untuk bergabung dengan Better Days Production bulan Maret 2025 sebagai seorang solois. Aku percaya aku bisa semakin berkembang dan menghadirkan banyak karya untuk ke depannya bersama Better Days Production,” tutup Iqbal Aria.

Continue Reading