iMusic – Bintang pop Belgia,Max Colombie,
alias Oscar and the Wolf mengumumkan album baru “The Shimmer”,
yang akan dirilis pada 22 Oktober di [PIAS] Recordings. Bersamaan dengan cover
art dan daftar lagu 11 lagu dari album ketiganya yang sangat dinanti, Max
juga mengungkap single baru ‘Oliver’ dan video yang menyertainya, yang
juga ia sutradarai.
Single baru ini menunjukkan Max di puncak permainannya.
Ketukan tropis menyambut suara sensual Colombie sementara gitar yang memikat
membawa kita lebih jauh ke dalam dunia mimpinya. Oliver adalah matahari terbenam
pasca-gelombang panas yang diatur untuk synth yang berkilauan dengan Colombie
bertindak sebagai pawang ular yang menggoda.
Mengomentari lagu barunya, penyanyi itu menjawab dengan
beberapa puisi beat off-kilter: “Riviera Prancis melankolis. Saya berada di
dunia mimpi fantasi, hampir fiksi. kabut ungu starweed. Kita memanfaatkan hari
itu, mengetahui bahwa kita tidak bisa tinggal di sini selamanya. jatuh cinta di
pertengahan musim panas. cinta dirajam. anak laki-laki yang cantik.
Berenang di sungai kristal sedalam langit. keringat di kulitnya
memantul seperti berlian di bawah sinar matahari. terbawa dalam hantu tak
berujung. rumput tinggi dan bunga lili di atas meja makan. anak itu terlihat
seperti dinamit. airnya hangat. ladang bunga dan kebun mawar. buah yang kaya.
aliran serotonin. tidak pernah ingin pergi, tidak pernah ingin berubah,
mengetahui suatu hari, semua ini tidak akan tersisa.”
Video tersebut, disutradarai sendiri dan dibintangi oleh
karakter yang sama seperti dalam video untuk single James sebelumnya,
mengatur gambar yang cocok dengan arus kesadaran di atas.
Masuki dunia Colombie, dan Anda akan menemukan perpaduan unik
dan berkilau dari R&B kontemporer dan sensibilitas elektro-popEropa, menyatukan melodi yang menggigil, ketukan yang berubah-ubah, dan
vokal yang sarat dengan drama, sensualitas, dan kerinduan. Colombie mendengar,
“zona senja di mana tidak terdengar gelap atau bahagia. Ini seperti nama Oscar
and the Wolf; ini adalah keseimbangan antara terang dan gelap, kombinasi
sempurna antara matahari dan bulan. Itu indah dan menakutkan pada saat yang
bersamaan.”
Debut resmi Oscar and the Wolf, EP “Summer Skin”
yang dirilis pada 2012, menunjukkan bahwa hadiah ini datang hampir dalam bentuk
penuh, tetapi ia benar-benar dewasa pada tahun 2014 dengan album debutnya “Entity”.
Seimbang antara lagu dancefloor dan slow jams, “Entity”
meraih 4 kali platinum di negara asalnya Belgia dan dengan cepat mencampakkan
Colombie ke status superstar. Dia menjual habis tiket pertunjukannya di arena Belgia
dan Belanda, mengambil slot headlining setelah Muse di festival Lowlands
2016 dan pada festival Pukkelpop di Belgia ia menjadi headlining
serta berbagi panggung dengan Rihanna dan LCD Sound system.
Dirilis pada tahun 2017, album kedua Oscar and the Wolf,
“Infinity” meraih platinum di negeri sendiri, sambil mengumpulkan basis
penggemar Timur Tengah yang besar di seluruh Turki (tempat tur 2018-nya terjual
habis dalam hitungan menit), Mesir, Israel, dan Iran. Di atas panggung,
Colombie menampilkan sosok yang berwibawa dan luwes, sering kali mengenakan
pakaian berkilauan yang berinteraksi dengan pencahayaan dinamis.
Album baru Oscar and the Wolf, “The Shimmer”, menyaring
esensi suara dan visi Colombie dalam judulnya dan citra Colombie di sampul
album, bermandikan cahaya berbintang. Album ini menjadi tolok ukur
transformasinya dalam rekaman; sedangkan “Entity” direkam di sebuah gudang,
“sangat lo-fi tanpa akses ke peralatan,” kenangnya, dinamika “The
Shimmer” yang berani, kaya, dan berlapis ditangkap di ICP Studios di Brussels,
rumah bagi, “salah satu ruang live terbaik di Eropa, dengan semua
perlengkapan antik ini.” Momen yang lebih intim ditambahkan di rumah Colombie
di luar kota, “keputusan ajaib yang kami buat tepat setelah kami menulis sesuatu,
yang sangat sulit untuk ditangkap lagi.”
Dengan ‘We’, Colombie menyertakan produser Jeroen De
Pessemier dan multi-instrumentalis Ozan Bozdag, yang keduanya bekerja di
Infinity (dan Bozdag di Entity juga). “Ini trio ajaib,” kata Colombie. “Setiap
orang diperbolehkan menjadi dirinya sendiri, dan mengeksplorasi dirinya
sendiri. Saya sangat senang dengan The Shimmer karena saya mendengar versi diri
saya yang lebih dewasa. Saya selalu ingin hal-hal berkembang, dan saya bangga
bahwa saya membiarkan diri saya untuk tidak mengikuti harapan orang dan
mereproduksi apa yang telah sukses sebelumnya. Tidak ada lagu pop clubby empat lantai
kali ini.”
Sebaliknya, “The Shimmer” lebih akurat mencerminkan
kepribadian Colombie. “Emosi saya berubah dari super bahagia menjadi super
melankolis dalam sepersekian detik,” katanya. “Bagi saya, The Shimmer terasa
seperti soundtrack film blockbuster, dengan banyak jenis trek dan tema. Itu
selalu berubah.”
Daftar lagu “The Shimmer”:
1. James
2. Ghost Of You
3. Crystalline
4. Your Choice
5. Ocean City
6. Transfixions
7. Nostalgic Bitch
8. Livestream
9. Oliver
10. The P.I.C.
11. The Shimmer
“The Shimmer” akan dirilis pada 22 Oktober di vinyl berwarna
2LP deluxe, vinyl hitam 1LP standar, CD dan pada platform digital. (FE)
iMusic.id – Unit thrash metal asal Malang, Inheritors, kembali melanjutkan fase comeback mereka di 2026 lewat single baru berjudul “Cheating Death”. Lagu ini lahir dari refleksi personal para personelnya yang pernah berada di ambang kematian, sekaligus kegemaran kolektif mereka terhadap tema horor dan thriller seperti film Final Destination. “Cheating Death” berbicara tentang ilusi manusia yang merasa bisa mengakali kematian, padahal kematian selalu menemukan jalannya sendiri.
“Cheating Death” menandai sisi Inheritors yang paling gelap dan buas sejauh ini. Riff thrash cepat dengan nuansa old school proto-death thrash metal akhir 80-an dipadukan dengan komposisi yang lebih padat, groove yang lebih kejam, serta breakdown dan solo gitar yang agresif. Referensi era Kill ’Em All (Metallica) hingga Pleasure to Kill (Kreator) terasa kuat, dan juga spirit Sepultura era awal menjadi benang merah utama, namun diramu tanpa terjebak nostalgia mentah.
Single ini juga menjadi debut resmi Galih sebagai gitaris baru Inheritors, menjadikan formasi ini untuk pertama kalinya menggunakan dua gitaris. Meski datang dari latar non-thrash, Galih justru membawa pendekatan yang lebih eksploratif dan segar, memperkaya karakter riff dan solo tanpa mengaburkan identitas gelap Inheritors. Kehadirannya membuat sound band terasa lebih padat, heavier, dan terbuka ke materi-materi yang lebih luas.
Saat ini Inheritors di perkuat oleh : Dion (Lead Vocals), Patrick (Lead Guitars), Galih (Rhythm Guitars), Obed (Bass Guitars, Backing Vocals) dan Rufa (Drums, Percussion).
“Cheating Death” merupakan bagian dari strategi rilis single bertahap menuju album penuh perdana Inheritors. Album tersebut direncanakan menjadi kolase perkembangan thrash metal, dari era 80-an hingga 2000-an, dengan tiap lagu membawa karakter dan pendekatan yang berbeda. Setelah delapan tahun hiatus, Inheritors menegaskan bahwa musik kini menjadi medium katarsis, penyaluran energi negatif, sekaligus warisan yang ingin mereka tinggalkan.
Dengan bagian-bagian yang dirancang untuk memicu moshpit sejak intro hingga akhir lagu, “Cheating Death” adalah pernyataan bahwa Inheritors belum selesai. Mereka mungkin tidak bisa mencurangi takdir, tapi mereka bisa menantangnya dengan distorsi, kecepatan, dan kegelapan.
Link Spotify : https://open.spotify.com/album/1iwSwkPPkHTyi56F15tFXu?si=wxiVRct8T6SP4brKaSv5jQ
iMusic.id – Band metalcore asal Indonesia, REVIND, resmi merilis single terbaru mereka berjudul “Forever Still” pada 26 Februari 2026 lalu. Lagu ini menjadi karya paling emosional yang pernah mereka rilis, sebuah elegi tentang kehilangan, cinta, dan kenangan yang tetap hidup meski seseorang telah tiada.
“Forever Still”menceritakan tentang seseorang yang harus menghadapi kenyataan pahit ditinggalkan untuk selamanya oleh orang yang paling ia cintai. Melalui lirik seperti “Still I see Your face every time I close my eyes” dan “You’re forever still in my heart”, REVIND menggambarkan bagaimana duka tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya berubah bentuk, hidup dalam ingatan dan perasaan.
Secara musikal, lagu ini memadukan riff berat khas metalcore dengan atmosfer melankolis dan dinamika emosional yang kuat. Breakdown yang intens berpadu dengan bagian melodik yang sendu, menciptakan ruang bagi pendengar untuk merasakan kesedihan, kemarahan, hingga penerimaan dalam satu perjalanan yang utuh dari REVIND.
Vokal yang penuh tekanan emosional memperkuat pesan tentang kehampaan, keterpurukan, dan cinta yang tak pernah padam. Kalimat seperti “Flowers laid out to You, heaven is waiting for You” menjadi simbol perpisahan terakhir yang pahit namun penuh keikhlasan.
Dengan “Forever Still”, REVIND menunjukkan kedewasaan dalam penulisan lagu dan produksi. Lagu ini bukan hanya tentang kehilangan, tetapi tentang bagaimana seseorang tetap hidup dalam hati orang yang mencintainya. Tema universal ini membuat “Forever Still” relevan bagi siapa pun yang pernah merasakan duka mendalam.
Single ini telah tersedia di seluruh platform digital streaming.
iMusic.id – Berawal dari hobi bernyanyi dan keisengan mengikuti lomba karaoke antar jurnalis, langkah seorang penyanyi pendatang baru, Kintan, justru menemukan jalannya ke industri musik. Tak disangka, keberanian mencoba hal baru membawanya pada pengalaman rekaman profesional dan perilisan lagu bernuansa upbeat yang sarat pesan kebahagiaan berjudul “Lets Dance”.
Awalnya, Kintan hanya ingin menyalurkan kegemarannya bernyanyi. Namun setelah berhasil meraih juara dua dalam ajang karaoke antar jurnalis, kesempatan pun datang. Tawaran membawakan sebuah lagu dari Fransiscus Eko menjadi titik awal perjalanan musiknya.
“Awalnya iseng ikut lomba karaoke antar jurnalis, alhamdulillah juara dua. Lalu ditawari mas Eko untuk membawakan salah satu lagu. Dari situ akhirnya aku mencoba serius menjalaninya,” ungkap Kintan.
Dikenal kerap membawakan lagu-lagu ballad, kali ini Kintan justru mendapat tantangan berbeda. Lagu upbeat dengan tempo cepat menjadi pengalaman baru yang cukup menantang.
“Ini benar-benar di luar zona nyaman. Biasanya ballad, malah disuruh nyanyi lagu upbeat karena aku suka dance. Kata mas Eko, tantangan wajib dicoba supaya bisa berkembang,” katanya sambil tertawa.
Proses rekaman pun berjalan relatif cepat, sekitar tiga jam. Tantangan terbesar justru terletak pada penguasaan lirik dengan pelafalan cepat yang kerap membuatnya keliru. Meski begitu, dukungan penuh dari tim produksi membuat proses tersebut terasa menyenangkan.
Kintan juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Cadazz Pustaka Musik, label yang menaunginya saat ini.
“Mas Eko dari CPM berani memberikan kesempatan kepada aku yang masih belajar. Di sini bukan cuma soal uang, tapi soal saling mendukung, mendengarkan, dan tumbuh bersama. Nggak semua label punya suasana seperti itu,” jelasnya.
Fransiscus Eko sendiri melihat pertemanan dan kesamaan profesi di bidang jurnalistik nya dengan Kintan merupakan salah satu hal yang memantik munculnya ide untuk menantang Kintan untuk memproduksi single berjudul “Lets Dance” tersebut.
“Kintan itu multi-tasking, dia itu jurnalis, penyiar radio, host dan MC yang juga bisa nyanyi dan nge-dance, tantangan yang saya berikan itu juga bisa dianggap penghargaan saya kepada dia. Saya sengaja kasi lagu upbeat karena saya yakin dia pasti bisa mengeksekusi lagu tersebut. Lagu “Lets Dance” itu ciptaan sahabat saya, Yanda Bebeh, yang juga jadi produser musiknya”, terang Fransiscus Eko selaku executive produser dan produser single tersebut.
“Lagu “Lets Dance” tercipta dalam waktu yang cukup singkat. Proses penulisan lagunya selesai hanya dalam satu hari, sementara tahap aransemen musik dikerjakan selama kurang lebih dua hingga tiga hari untuk mendapatkan warna dan energi yang benar-benar maksimal’, jelas Yanda Bebeh selaku song writer dan aranjer di single “Lets Dance” ini.
“Inspirasi lagu ini hadir dari fenomena musik K-pop yang sedang begitu mendominasi dan digemari di Indonesia. Nuansa K-pop yang catchy, enerjik, dan easy listening menjadi pondasi utama dalam membangun karakter “Lets Dance”, sebuah lagu yang enak untuk bergoyang dan lepas di lantai dansa”, tambah Yanda Bebeh.
Lagu “Lets Dance” yang dibawakannya Kintan mengusung pesan sederhana namun kuat : keberanian mengekspresikan kebahagiaan lewat gerak tubuh.
“Lagu ini tentang semangat. Jangan ragu mengekspresikan kebahagiaan lewat gerakan badan. Sekaku apa pun, dance itu bikin happy. Banyak orang tanpa sadar menari saat bahagia, jadi jangan ragu buat Bahagia, gerakkan badanmu, and let’s dance!” ujar Kintan.
“Dari sisi produksi, aransemen diarahkan ke sentuhan EDM modern dengan elemen techno, synth, dan beat elektronik yang kuat. Perpaduan tersebut membuat lagu ini terasa lebih hidup, penuh energi, dan siap menghidupkan suasana di berbagai kesempatan. Dengan semangat fun, fresh, dan penuh vibe positif, “Lets Dance” hadir sebagai anthem untuk siapa saja yang ingin bergerak bebas tanpa beban”, ungkap Yanda.
Ke depan, Kintan berharap bisa terus berkarya dan menghadirkan lagu-lagu yang lebih dalam secara emosional.
“Bismillah, semoga bisa menghasilkan karya lagi. Ingin membawakan lagu yang benar-benar ngena di hati. Kalau bisa sih balik ke ballad. Sekarang lagi pelan-pelan cari ide, temanya tentang melepaskan. Semoga terwujud. Aamiin.”
“Setelah merilis single ini pastinya Kintan harus terus berkarya, bisa jadi single berikutnya dia akan menyanyikan lagu ballad atau malah makin eksis di dance music, tapi yang pasti setelah single “Lets Dance” ini live di seluruh DSP, kita akan coba bikin video musiknya supaya pecinta musik tanah air bisa melihat sosok Kintan sepenuhnya”, ungkap Fransiscus Eko.
Dengan semangat belajar dan keberanian keluar dari zona nyaman, penyanyi ini membuktikan bahwa perjalanan musik bisa berawal dari mana saja, bahkan dari sebuah lomba karaoke yang awalnya hanya untuk bersenang-senang.
Single debut Kintan yang bertajuk “Lets Dance” ini sudah bisa disimak di seluruh Digital Store Platform kesayangan kita semua.
Credit Title :
Single : Lets Dance
Vocals : Kintan
Song & Lyric : Yanda Bebeh
Production by Cadaazz Pustaka Musik
Executive Producer : Fransiscus Eko
Producer : Fransiscus Eko
Music Producer : Yanda Bebeh
Vocals Recorded at LB4 Studio Recording by Eko Bunglon
Music Recorded by Yanda Bebeh
Guitar. Bass, Keys, Drums played & recorded by Yanda Bebeh