iMusic – JogjaROCKarta menjadi moment yang ditunggu Rocker tanah air, selain menampilkan Dream Theater, acara ini juga menampilkan band-band rock tahun 90an, salah satunya Roxx. Band yang saat ini digawangi oleh Trison Manurung (vokal), Iwan Achtandi (gitar), DD Crow (gitar), Toni Monot (bass) dan Raiden Soe (drum) berkesempatan membuka konser Dream Theater dalam rangkaian tour mereka yang berjudul Image, Words and Beyond.
Tim iMusic saat wawancara eksklusif dengan Roxx
Ditemui di hotel tempat mereka menginap, tepat sebelum melakukan sesi check sound, Roxx mengungkapkan persiapan dan menu lagu yang akan disajikan saat perform. “Malam ini kita akan membawakan 8 lagu, pinginya sih 12 lagu tapi udah kebanyakan, hehe” ungkap Trison Manurung. Persiapan untuk konser ini juga sedikit menyita banyak konsentrasi, dikarenakan Raiden Soe drummer Roxx tidak bisa ikut tampil, dan sebagai gantinya Roxx menggaet drummer muda Rian Dani dari band Death Distortion. “Kami harus lebih sering latihan karena Raiden masih Honey Moon di Eropa bersama istrinya, jadinya kita minta tolong Rian Dani untuk menggantikan dia. Untungnya Rian Dani sudah terbiasa dengan musik Roxx, jadi ya tepat lah kita minta dia gantiin Raiden” ujar sang vokalis sambil menyeruput kopi hitam di dalam hotel.
Tim iMusic mendapat kesempatan untuk menyaksikan sesi check Sound Roxx pagi itu di Stadion Kridosono. Tepat pukul 08.00 alat musik mulai loading ke atas panggung. Mendapatkan jatah check Sound 1 jam, tim produksi Roxx dituntut untuk kerja keras, dibantu dengan 2 kru dan 1 sound engineer ahirnya pukul 9.00 sound mulai menyala dan lagu Black Status pun didaulat menjadi lagu untuk check sound. Tiada kendala yang berarti ahirnya check sound selesai pada pukul 10.00, dan personil Roxx meninggalkan venue kembali ke hotel.
Roxx cek sound sebelum tampil menghibur warga Jogja (Doni)
Roxx mendapatkan kesempatan main pada pukul 17.45 setelah adzan mahgrib waktu setempat, sebelum PAS band dan Dream Theater main. Dengan lagu pembuka 5CM, Roxx langsung memacu adrenalin penonton yang sudah menunggu dari sore. Lagu demi lagu di selesaikan sangat gahar, sebelum lagu setengah manusia, Trison menceritakan tentang lagu tersebut, “Lagu ini menceritakan tentang basist kita yang mendapatkan mujizat setelah mengalami kecelakaan parah dan menderita amnesia yang sangat berat, namun berkat doa dan mujizat tuhan dia (Toni Monot) masih bisa bermain bersama kita di tengah-tengah kita, tepuk tangan…” kata Trison lantang. Ada sedikit insiden di ahir perform Roxx, saat panitia naik ke panggung dan menyampaikan sedikit informasi ke pada Trison, Trison langsung memberikan kode kepada teman-teman untuk langsung menuju lagu terakhir karena waktu sudah tidak memungkinkan. Lagu terakhir langsung bisa ditebak yaitu Rock Bergema, “ini lagu gue sebenernya ga terlalu suka, habisnya lagu ini lebih terkenal daripada bandnya, tau gitu gue ga ciptain ini lagu” kata Trison dengan nada becanda disambut tepuk tangan dan teriakan penonton. Roxx berhasil membuat penonton bernyanyi bersama sepanjang lagu. Ahirnya Roxx menutup konser itu dengan foto bersama penggemar.
Roxx tampil sebagai band pembuka Dream Theater dalam acara JogjaROCKarta (Tito)
Penampilan Roxx menuai pujian dari pada metalhead yang menyaksikan, seperti yang diungkapkan Adhi ( 20 tahun ) mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Semarang, “saya cuma tau dan ngefans sama Roxx dari lagunya saja, paling banter saya simak di Youtube, sekarang saya semakin yakin ini band emang patut saya banggakan”. Hal yang sama diungkapkan oleh Bangkit (42 Tahun) asal Jogjakarta “Wah gila, saya sempat nonton Roxx di Jakarta tahun 97-98 kalau ga salah, dan sekarang energinya masih sama”. Roxx yang kini di gandeng label rekaman Putra Mandala Production ini juga tidak lupa mempromosikan album barunya yang berjudul Anthem yang dirilis beberapa waktu lalu.
Toni Monot bassist Roxx yang pernah mengalami kecelakaan (Tito)
iMusic.id – Setelah merilis “Where It Begins” pada 2025, WUSS kembali memperkenalkan “Born in February”, sebuah karya yang lahir dari ruang di antara sorak dan kekacauan, di antara yang diagungkan dan yang sering terlewatkan. Ditulis oleh Brilyan Prathama Putra dan Sabiella Maris, lagu ini menjadi pengakuan personal tentang tumbuh sebagai “anak kedua”: bukan bayangan, bukan pengganti, namun kerap diperlakukan sebagai jeda yang mudah dilupakan.
Melalui lagu ini, Sabiella Maris (vokal, gitar), Brilyan Prathama Putra (vokal, gitar), Rara Harumi (bass), dan Rufa Hidayat (drum) yang tergabung di WUSS menolak anggapan bahwa urutan adalah identitas, dan menegaskan bahwa bertahan seringkali membutuhkan tenaga yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi yang pertama. Single “Born in February” telah rilis di semua DSP pada 06 Februari 2026.
“Anak kedua lahir di tengah dua dunia satu riuh penuh sorak, satu lagi kacau dan nggak pernah benar-benar rapi. Sering kali posisinya cuma dianggap lewat. Bagi anak kedua, ‘second’ itu cuma urutan, bukan identitas,” kata Brilyan dari WUSS.
Single “Born in February” menghadirkan sudut pandang tentang posisi kedua yang hidup di bawah perbandingan tanpa akhir, ketika suara kerap tenggelam oleh yang dianggap lebih utama dan mudah diterima. Alih-alih meminta maaf karena berbeda, WUSS justru merayakan keganjilan itu, liar, lentur, dan sulit dipatok sebagai sumber nyawa lagu ini, yang bertumpu pada keberanian untuk terus bergerak meski dunia sesekali memalingkan muka.
Bagi WUSS, “kedua” bukan cerita tentang kalah cepat, melainkan tentang bertahan lebih lama: tumbuh tanpa tepuk tangan, tetap berani menatap langit, dan menemukan ruang paling jujur untuk menjadi diri sendiri. Lewat lagu ini, WUSS menegaskan sikap untuk tidak menjadi salinan atau berjalan di jalur aman demi diterima, seraya mengingatkan bahwa “kedua” hanyalah angka, bukan identitas, sekaligus penanda baru tentang ketahanan dan keberanian untuk terus bermimpi, bahkan ketika dunia memilih untuk tidak melihat.
Proses produksi “Born in February” berlangsung kurang lebih selama satu bulan, dimulai sejak pertengahan Desember 2025 hingga awal Januari 2026. Lagu ini ditulis oleh Brilyan Prathama Putra dan Sabiella Maris, dengan lirik yang digarap oleh Sabiella Maris. Proses komposisi melibatkan seluruh personel, Sabiella Maris, Brilyan Prathama Putra, Rara Harumi, dan Rufa Hidayat yang bersama-sama merangkai dinamika emosional lagu ini menjadi satu kesatuan utuh.
Saat ini, WUSS juga tengah mempersiapkan album penuh yang akan menjadi kelanjutan dari rilisan single mereka. Album tersebut direncanakan berisi 12 lagu, dengan satu single terakhir yang akan dirilis sebagai pengantar sebelum album resmi diluncurkan. Menariknya, single penutup menuju album ini akan melibatkan kolaborasi dengan musisi di luar Jawa Timur. WUSS berharap seluruh prosesnya dapat berjalan lancar dan album ini bisa segera diperkenalkan ke publik.
“WUSS saat ini tengah menyiapkan album penuh berisi 12 lagu, dengan satu single terakhir sebagai pengantar menuju perilisan album, termasuk kolaborasi dengan musisi di luar Jawa Timur. Doakan kelancaran proyek kami ini ya,” ujar Sabiella.
Single “Born in February” sudah dapat didengarkan di seluruh platform digital (DSP) mulai 6 Februari 2026. Jangan lewatkan dan dengarkan pernyataan terbaru dari WUSS di platform streaming musik pilihan anda.
iMusic.id – Musisi muda Iqbal Aria memperkenalkan single pertamanya yang berjudul “Home”. Lagu yang ia produseri sendiri ini dirilis di bawah naungan label Better Days Production milik Afgan.
Bernuansa melankolis, Iqbal Aria menjelaskan bahwa “Home” adalah sebuah lagu tentang penyesalan. Karya yang didominasi alunan gitar dan strings ini mengisahkan tentang rasa sesal karena menyakiti perasaan seseorang yang kita kasihi. Semua dilakukan tanpa pikir panjang, melupakan fakta kalau mereka adalah ‘rumah’ untuk kita.
“Aku suka lagu yang simpel, dan aku menerapkannya di lagu “Home”. Aku ingin emosi di lagu “Home” bisa dirasakan dari semua sisi. Aku terinspirasi beberapa band di era 60’s dan 70’s yang lirik lagunya puitis dan mudah didengar. Selain itu, aku juga suka menggunakan analogi untuk mempertegas esensi lirik yang aku tulis. Dari situ, lahirlah “Home” yang didasari atas pengalaman pribadiku,” jelas Iqbal Aria.
Bermusik, terutama menyanyi dan bermain gitar adalah kegemaran Iqbal Aria sejak kecil. Ia banyak menyelami berbagai genre, mulai dari jazz yang menjadi main root-nya, pop, hingga vintage rock dan metal. Pada tahun 2015, ia mulai serius menekuni musik dan kerap tampil di berbagai panggung. Tahun 2019, Iqbal Aria dikenal sebagai vokalis/gitaris heavy rock band bernama MAUT. Kini, ia melebarkan sayapnya menjadi seorang solois. Hingga kini, ia aktif bermusik sebagai anggota band indie.
Talenta yang dimiliki Iqbal Aria pun mempertemukannya dengan Afgan di tahun 2024. Kala itu, mereka bertemu di sebuah acara karaoke dan Iqbal diminta bernyanyi.
“Aku amaze mendengar suara Iqbal. Karakter suaranya kuat, timbrenya soulful dan aku bisa merasakan soul-nya ketika ia bernyanyi. Iqbal sendiri adalah sosok yang very humble, eager to learn, very grounded, dan sangat autentik. Menurutku, seorang artist itu tidak cukup punya talenta saja, tapi humility dan attitude yang baik. Hal itulah yang membuat karier mereka panjang,” jelas Afgan.
Iqbal Aria pun menjadi artis pertama label Better Days Production milik Afgan. Menurut Afgan, suara dan bakat bermusik Iqbal Aria sangat sesuai dengan karakter musisi yang ia cari selama ini dan selaras dengan prinsip Better Days Production. Soal “Home”, Afgan merasa lagu tersebut sangat merepresentasikan musikalisasi Iqbal Aria.
”Home” is beautifully written, maknanya dalam dan semua orang bisa relate. “Home” isn’t literally ‘rumah’, tapi seseorang juga bisa disebut ‘home’. Our loved ones, our partners, sangat universal. Notasi dan chord progression-nya memiliki sesuatu yang nostalgic dan dan aku harap “Home” bisa resonate ke banyak orang,” kata Afgan.
“Aku super excited dan happy karena selama ini aku enggak pernah work hard under my own name. Setelah melewati banyak pertimbangan, aku pun mantap untuk bergabung dengan Better Days Production bulan Maret 2025 sebagai seorang solois. Aku percaya aku bisa semakin berkembang dan menghadirkan banyak karya untuk ke depannya bersama Better Days Production,” tutup Iqbal Aria.
iMusic.id – Trisouls kembali merilis single terbaru berjudul “Sementara atau Selamanya”, sebuah lagu pop romantis dengan aransemen menyenangkan dan upbeat, dibalut sentuhan nuansa 90-an yang hangat dan nostalgik. Lagu ini menangkap momen paling jujur dalam sebuah hubungan saat perasaan hadir begitu nyata, namun jawabannya belum ingin ditentukan.
Diciptakan oleh Sajiva, single “Sementara atau Selamanya” dari Trisouls bercerita tentang debar hati yang muncul dari hal sederhana, seperti senyuman manis, hingga gejolak asmara yang membuat dunia terasa hanya milik berdua. Dari rasa kagum yang terpendam, kegugupan saat ingin mengungkapkan perasaan, hingga keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan, lagu ini mengalir jujur dan dekat dengan pengalaman banyak orang.
Secara musikal, Trisouls menghadirkan aransemen ceria khas mereka, ringan, optimistis, dan mudah diingat. Nuansa pop romantis era 90-an terasa kuat, namun dikemas dengan sentuhan modern yang relevan dengan pendengar hari ini. Reffrain-nya menggambarkan sensasi melayang, seolah atmosfer tak lagi mampu menahan perasaan yang menguat, mengajak pendengar menikmati keindahan momen tanpa harus terburu-buru menentukan akhir cerita.
Melalui “Sementara atau Selamanya”, Trisouls menegaskan bahwa tidak semua cinta harus segera memiliki jawaban. Terkadang, keberanian terbesar adalah memberi ruang bagi rasa untuk tumbuh, entah itu hanya sementara, atau ternyata bertahan selamanya.
Single “Sementara atau Selamanya” telah tersedia di seluruh platform streaming digital.