iMusic.id – AFE Sinema bersama Telkomsel melalui MAXStream Studios dengan bangga menghadirkan serial drama terbaru bertajuk Leiden, sebuah kisah mendalam yang mengangkat isu-isu remaja dan diadaptasi dari novel populer karya Dwi Nur Rahmawati. Novel yang telah mencetak lebih dari 17,9 juta pembaca di Wattpad ini kini dihidupkan ke layar kaca dengan penggarapan yang penuh emosional dan visual yang memukau.
Dalam gala premiere eksklusif yang digelar di XXI Epicentrum (21/1), para penggemar dan media dimanjakan dengan penampilan perdana dari para bintang muda berbakat seperti Saskia Chadwick, Michael Olindo, Antonio Blanco, Echa Japasal, Ferdy Tahier, dan Mieke Amalia yang berperan sebagai tokoh-tokoh sentral dalam serial ini.
Serial Leiden berfokus pada perjalanan kehidupan Rhea yang diperankan oleh Saskia Chadwick, seorang siswi SMA cerdas yang harus menghadapi cobaan berat dalam hidupnya.
Kehilangan ibu, tekanan dari keluarga yang dingin, dan perundungan di sekolah membuat Rhea berada di titik terendah.
Namun, kisah ini tidak hanya menampilkan kesedihan; Leiden juga memperlihatkan kekuatan Rhea dalam menghadapi berbagai tantangan.
Kehadiran karakter lain, seperti Skala (Michael Olindo) yang menjadi sumber perundungan, Atlas (Antonio Blanco) sebagai sosok yang memberikan harapan baru, hingga Karina (Echa Japasal) yang menjadi sahabat sejati Rhea, membuat cerita ini semakin kompleks dan penuh emosi.
Produser Eksekutif AFE Sinema, Pulung Agustanto dan Hendy Ahmad, mengungkapkan, “Kami sangat antusias dapat bekerjasama dengan MAXStream Studios untuk menghadirkan Leiden sebagai tontonan yang bermakna bagi semua kalangan. Dengan adaptasi dari novel yang memiliki basis penggemar besar, kami ingin memberikan pengalaman sinematik yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan pesan yang mendalam tentang kekuatan dan harapan.”
Sementara Vice President Digital Lifestyle Telkomsel, Lesley Simpson, menambahkan, “Melalui Leiden, kami ingin merefleksikan visi Telkomsel untuk memberdayakan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, dengan menyajikan konten yang relevan dan inspiratif.
Serial ini bukan hanya hiburan, tetapi juga sebuah kisah yang menggugah untuk menghadapi tantangan hidup dengan penuh keberanian dan semangat positif. Dengan kehadiran Leiden di MAXStream, kami semakin memperkuat komitmen kami untuk menyediakan layanan digital yang berkualitas dan membuka lebih banyak peluang bagi pelanggan.”
Dengan kombinasi alur cerita yang kuat, akting para pemain berbakat, dan penggarapan visual yang apik, Leiden diharapkan dapat menjadi salah satu serial drama yang paling berkesan bagi penonton.
Isu-isu seperti perundungan, kehilangan, dan perjuangan dalam menemukan jati diri disajikan dengan pendekatan yang menyentuh hati, menjadikan serial ini relevan bagi generasi muda maupun dewasa.
Serial “Leiden” akan segera tayang secara eksklusif di platform MAXStream dan MyTelkomsel pada tanggal 24 Januari 2025, memberikan kesempatan bagi para penonton untuk mengikuti kisah inspiratif Rhea. Saksikan perjalanan emosional yang membuktikan bahwa di balik setiap rintangan, selalu ada kekuatan untuk bangkit dan menemukan kebahagiaan.
MAXStream Studios adalah content producer yang telah melahirkan film dan serial dengan platform penayangan utama pada MAXStream, AllPlay Entertainmenta, AllPlay Sports, Fun Planet, dan MyTelkomsel. MAXStream Studios telah memproduksi sebanyak 130 judul konten film dan series MAXStream Originals yang dapat dinikmati di berbagai kanal penayangan, mulai dari bioskop, platform Over-the-Top (OTT), hingga Free-to-Air (FTA). Informasi lebih lanjut terkait serial “Leiden” dan berbagai konten MAXStream Studios lainnya dapat diakses pada akun media sosial @MAXStream.tv. (FE)
iMusic.id – Rumah produksi Rollink Action secara resmi mengumumkan penayangan film horor terbaru mereka yang paling dinantikan tahun ini, “Aku Harus Mati”. Mengangkat isu sosial yang sangat dekat dengan realita masyarakat urban saat ini, film ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 2 April 2026.
Diproduseri oleh Eksekutif Produser Irsan Yapto dan Nadya Yapto, serta diarahkan oleh sutradara bertangan dingin Hestu Saputra, “Aku Harus Mati” menawarkan kengerian yang bukan sekadar teror kasat mata, melainkan gelapnya ambisi manusia demi validasi sosial.
“Aku Harus Mati” adalah film Horor yang ceritanya paling dekat dengan kehidupan manusia modern jaman sekarang fenomena Jual Jiwa Demi Harta, banyak masyarakat modern sekarang rela mengorbankan diri dan jiwa demi validasi dan harta sampai terlilit hutang pinjol, paylater, dan lain-lain,” ujar Irsan Yapto, Eksekutif Produser.
Sinopsis:
Cerita yang ditulis oleh Aroe Ama ini mengikuti perjalanan Mala (Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terjebak dalam gaya hidup hedonistik. Demi mengejar kemewahan semu, Mala terjerumus dalam lingkaran setan hutang pinjaman online (pinjol) dan paylater yang melilit hidupnya.
Dalam keputusasaan untuk menemukan kembali jati dirinya, Mala memutuskan pulang ke panti asuhan tempat ia dibesarkan. Di sana, ia kembali bertemu dengan sahabat masa kecilnya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta Ki Jago (Bambang Paningron), pemilik panti yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri.
Namun, ketenangan yang dicari Mala justru menjadi awal dari petaka. Setelah mata batinnya terbuka secara misterius, Mala terlempar ke dalam serangkaian pengalaman mistis yang mengerikan. Ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tentang asal-usulnya dan rahasia kelam keluarganya: sebuah perjanjian iblis yang menjadikan nyawa orang-orang terdekat sebagai tumbal kesuksesan.
“Aku Harus Mati” membawa penonton pada klimaks yang menyesakkan dada. Mala harus menghadapi pilihan mustahil yang tidak bisa ia tolak, karena ada nyawa yang harus dibayar.
“Film ini adalah refleksi dari fenomena ‘jual jiwa demi harta’ yang marak di sekitar kita. Kami ingin memperlihatkan bahwa teror sesungguhnya dimulai ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri demi memuaskan gaya hidup dan validasi diri oleh lingkungan sekitar,” ujar Hestu Saputra, Sutradara.
Daftar Pemeran & Produksi
Produksi: Rollink Action
Eksekutif Produser: Irsan Yapto & Nadya Yapto
Sutradara: Hestu Saputra
Penulis Naskah: Aroe Ama
Pemeran Utama:
Hana Saraswati sebagai Mala
Amara Sophie sebagai Tiwi
Prasetya Agni sebagai Nugra
Mila Rosinta sebagai Nilam
Bambang Paningron sebagai Ki Jago
Siapakah yang akhirnya akan dikorbankan? Siapa sebenarnya pemegang perjanjian iblis tersebut? Temukan jawabannya dalam “Aku Harus Mati”, hanya di bioskop mulai 2 April 2026.
iMusic.id – Setelah sukses mendapat sambutan positif dan hangat saat world premiere (penayangan perdana) di Sundance Film Festival 2026, film terbaru Wregas Bhanuteja, “Para Perasuk” kini merilis official trailer yang mengejutkan! Menampilkan kepiawaian terbaru dari penulis dan sutradara Wregas Bhanuteja, dengan penampilan tak terduga dari para pemeran bintang Angga Yunanda, Anggun, Maudy Ayunda, Bryan Domani dan Chicco Kurniawan. Selain mereka, film ini juga dibintangi Ganindra Bimo dan Indra Birowo.
Official trailer “Para Perasuk” menampilkan dunia yang lebih luas yang berlatar di Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota yang dikenal dengan pesta kerasukannya. Angga Yunanda, Bryan Domani, dan Chicco Kurniawan berperan sebagai murid dari Anggun. Mereka bertiga bercita-cita menjadi ‘Perasuk’, orang yang memiliki kemampuan memimpin orang lain bisa merasakan kerasukan.
Di trailer, juga diperlihatkan yang menjadi permasalahan para warga di Desa Latas. Keberlangsungan hidup mereka terancam, saat mata air keramat tempat para Perasuk mencari roh terancam digusur. Trailer menampilkan perlawanan kolektif warga dalam menjaga mata air tersebut.
“Pesta sambetan dan kerasukan di sini merefleksikan pengalaman komunal yang kita temui sehari-hari di Indonesia. Mereka melepaskan tekanan dan saling terkoneksi satu sama lain. Di sisi lain, kami juga ingin memperlihatkan adanya ketegangan yang berasal dari luar, yang berusaha merebut Desa Latas dari para warganya, dan bagaimana para warga di Desa Latas mempertahankannya,” ujar penulis dan sutradara Wregas Bhanuteja.
Diproduseri oleh Siera Tamihardja, Iman Usman dan Amalia Rusdi, “Para Perasuk” diproduksi oleh Rekata Studio. Film ini menjadi ko-produksi Indonesia bersama Singapura, Prancis, dan Taiwan.
Angga Yunanda, yang memerankan karakter utama bernama Bayu menjelaskan karakternya memiliki ambisi yang sangat besar.
“Bayu berusaha sekuat tenaga dengan apa yang dia bisa untuk mencapai level sempurna, dan selalu merasa tidak pernah cukup. Tantangan-tantangan dari Wregas dengan imajinasinya yang luar biasa, membuat karakterku di “Para Perasuk” menjadi sangat berkesan. Kompleksitasnya luar biasa,” kata Angga Yunanda.
Ikuti terus perkembangan terbaru tentang film “Para Perasuk” melalui akun Instagram resmi @filmparaperasuk dan @rekatastudio. Tonton film Para Perasuk di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026!
iMusic.id – Pasca dirilisnya Official Trailer “Pelangi di Mars”, film ini langsung mendapat respons yang positif dari pecinta film Tanah Air. Film terbaru produksi Mahakarya Pictures garapan sutradara kondang Upie Guava ini berhasil memikat warganet lewat visual yang memukau dan teknis yang dianggap revolusioner bagi industri film Indonesia.
Namun, di balik durasi trailer “Pelangi di Mars” yang singkat tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang melelahkan sekaligus membanggakan. Menghadirkan film anak-anak berkualitas yang dijadwalkan tayang Lebaran 18 Maret 2026 ini ternyata memakan waktu produksi lebih dari lima tahun.
Sutradara Upie Guava tidak main-main dalam merajut visi film ini. Tumbuh besar dengan asupan film-film sci-fi ikonik Hollywood seperti Jurassic Park dan Star Wars, Upie memiliki kerinduan mendalam agar anak-anak Indonesia memiliki pahlawan dan mimpi serupa dari negeri sendiri lewat film “Pelangi di Mars”.
“Saya ingin dari menonton “Pelangi di Mars”, anak-anak Indonesia bisa berpikir kalau mereka boleh bermimpi setinggi langit, dan mereka mampu menggapainya,” ujar Upie Guava.
Visi besar inilah yang melahirkan karakter Pelangi, sosok anak pertama yang lahir di Planet Mars. Lewat Pelangi, Upie ingin menceritakan kegigihan anak Indonesia dalam upaya menyelamatkan dunia, sebuah pesan moral yang kuat dibalut dengan kemasan teknologi mutakhir.
Menggarap film sci-fi di Indonesia bukanlah perkara mudah, terutama ketika Upie Guava bersikeras menggunakan teknologi Extended Reality (XR) atau virtual production. Pada tahun 2020, teknologi ini hampir tidak terdengar di industri perfilman tanah air.
Dendi Reynando, selaku produser, mengenang betapa beratnya fase pengembangan yang mereka lalui. Mereka tidak hanya menulis skenario, tapi juga “membangun pondasi” teknologi yang belum ada sebelumnya.
“Di saat yang bersamaan kami mengembangkan cerita “Pelangi di Mars”, kami juga memperkenalkan dan mengembangkan teknologi ini di Indonesia. Dari awal kami tahu risikonya, dan kadang kami bahkan mikir kalau membuat film ini hampir mustahil,” ungkap Dendi.
Dendi mengibaratkan proses lima tahun ini seperti tersesat di belantara hutan yang asing. “Perjalanan film ini seakan-akan kami nyasar di dalam hutan, mencari jalan keluarnya. Untungnya di perjalanan kami banyak orang-orang yang ingin ikut nyasar bareng di hutan, dan akhirnya bisa berhasil keluar dengan hasil yang sesuai,” tambahnya sembari tersenyum.
Kerja keras lebih dari setengah dekade ini akhirnya siap dipanen. “Pelangi di Mars” bukan sekadar film anak-anak biasa; ini adalah bukti bahwa sineas Indonesia mampu melampaui batasan teknis demi memberikan tontonan yang edukatif sekaligus sinematik.
Film “Pelangi di Mars” dijadwalkan akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen libur Lebaran. Ini menjadi waktu yang tepat bagi keluarga untuk menyaksikan petualangan lintas planet yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah sinema Indonesia.
Untuk informasi terbaru mengenai proses produksi, behind the scene, dan info tiket, pastikan Anda mengikuti akun media sosial resmi di @pelangidimars dan @mahakaryapictures.