iMusic.id – Fakhri Violin, Bretya Adhi, dan Matalino Marquez Siraj telah mengumumkan single terbaru mereka yang berjudul “Goosebumps.” Berasal dari latar belakang musik yang berbeda—Fakhri Violin (klasik dan pop elektronik), Bretya Adhi (pop radio), dan Matalino Marquez Siraj (jazz & disko)—trio ini menyatukan visi mereka untuk menciptakan gaya musik baru yang belum umum di Indonesia.
“Goosebumps” adalah lagu bergenre elektro-funk yang menceritakan pengalaman umum di kalangan remaja saat mereka jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seseorang yang baru, setelah sekian lama tidak merasakan cinta. Emosi yang dirasakan adalah perasaan yang mendebarkan, canggung, dan luar biasa.
Sebagai produser utama dan komposer, Fakhri Violin sangat fokus untuk menangkap emosi dari ide awal dalam aransemen lagu ini. Fakhri bertujuan menggambarkan peningkatan emosi yang dialami saat ‘cinta pada pandangan pertama,’ mulai dari sekedar tatapan hingga detak jantung yang tak terkendali saat sang remaja berbicara langsung dengan orang yang mereka cintai. Semua emosi ini disampaikan melalui suara perkusi dan synthesizer yang semakin intens dan mengangkat suasana dari tengah hingga akhir lagu.
Dengan gaya musik ‘elektro–funk‘ ini, Fakhri, Bretya, dan Matalino yakin bahwa mereka akan memperkenalkan variasi baru ke industri musik Indonesia, terutama dalam lagu-lagu bertema cinta. Mereka berusaha untuk menciptakan variasi baru di pasar musik yang saat ini didominasi oleh pop-ballad. “Goosebumps” dirilis di bawah label “Passion Vibes,” yang juga mewakili artis-artis seperti Kaleb J, Belanegara Abe, Gbrand, dan Bennet AK.
Biografi:
Fakhri Violin – Produser Utama, Komposer, Penulis, Musisi Fakhri adalah seorang pemain biola, produser musik & komposer dari Indonesia. Dalam karir musiknya, ia telah tampil di banyak kota di Indonesia, lebih dari 13 negara (Eropa & Asia), bekerja sebagai penata musik film di 6 film bioskop Indonesia, dan menjadi produser musik untuk banyak artis papan atas Indonesia seperti Vina Panduwinata, Ahmad Dhani, Dwiki Dharmawan, Ikmal Tobing, dan lain-lain. Pada
tahun 2019, ia berhasil mencapai posisi ke-4 di antara 600 kiriman di seluruh dunia dalam kompetisi remix “Inside Out” oleh Zedd.
Bretya Adhi – Penyanyi, Penulis, Komposer Bretya Adhi adalah seorang penyanyi dari Indonesia, dia adalah frontman dan vokalis dari “Hatchbackz”, tetapi dia juga memiliki proyek solo dengan namanya sendiri. Gaya musik dan bernyanyinya dipengaruhi oleh genre RnB dan Pop. Dia telah bernyanyi, menulis lagu, dan bermain instrumen sejak kecil dan mulai memproduksi musik sejak sekolah menengah.
Matalino Marquez Siraj – Musisi Matalino Marquez Siraj adalah seorang pemain keyboard, pianis, dan produser musik dari Indonesia. Sejak kecil, hidupnya dipenuhi dengan kegembiraan bermain musik jazz, disko, funk, dan elektronik. Ia telah tampil bersama berbagai artis, seperti Arsy Widianto, KIM, Warna, dan merupakan anggota band disko funk yang sedang naik daun, We Are Neurotic. (FE)
iMusic.id – Band jazz Indonesia Societeit de Harmonie membuka tahun 2026 dengan merilis single terbaru berjudul “Syakara”, sebuah lagu reflektif yang mengajak pendengarnya untuk berhenti sejenak dari keluhan, kecemasan, dan tuntutan hidup modern, lalu kembali pada satu hal mendasar : rasa syukur.
Judul “Syakara” berasal dari bahasa Arab yang berarti syukur. Lagu ini dirilis menjelang bulan Ramadhan dan sekaligus menjadi single pertama Societeit de Harmonie di tahun 2026, menandai fase baru perjalanan band setelah dua tahun berkarya secara konsisten. Bagi Societeit, momen ini menjadi pengingat untuk memulai tahun dengan kesadaran akan hal-hal baik yang sudah dan masih dimiliki, alih-alih terus terjebak pada kekurangan.
Secara lirik, “Syakara” berbicara tentang kecenderungan manusia untuk terjebak dalam fantasi, harapan, dan penyesalan, memikirkan masa depan yang belum terjadi atau masa lalu yang tak bisa diubah. Padahal, tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Meskipun hidup sering kali terasa berat, cara kita meresponsnya tetap bisa dipilih. Bersyukur, sekecil apa pun alasannya, menjadi titik awal untuk melihat hidup dengan lebih jernih.
Pendekatan musikal “Syakara” terasa ringan namun berlapis. Aransemen horns yang digarap Dave Rimba memanfaatkan permainan horn yang saling bertabrakan namun tetap harmonis, merepresentasikan kompleksitas pikiran manusia yang kerap kalut. Kekalutan ini tidak digambarkan dalam nada muram, namun justru hadir dengan nuansa hangat dan gembira, sebuah kontras yang disengaja untuk menegaskan bahwa refleksi dan penerimaan tidak selalu harus dibalut kesedihan.
Kolaborasi dengan Natasya Elvira menjadi elemen penting dalam lagu ini. Selain sebagai vokalis, Natasya juga bertindak sebagai penulis lagu dan project manager, terlibat sejak tahap paling awal. Sosoknya yang masih terbilang muda cocok untuk menyampaikan pesan pendewasaan hidup dengan cara yang terasa dekat dan relevan bagi generasinya, lebih sebagai obrolan antar teman, bukan nasihat yang menggurui. Vokal vintage-nya memperkuat karakter kontemplatif lagu ini.
“Syakara” bukan lagu religi, melainkan lagu reflektif yang inklusif. Lagu ini ditujukan untuk didengarkan dalam keseharian : saat menyetir, berjalan kaki, naik transportasi umum, atau melakukan rutinitas. Dengan nada yang cerah dan lirik yang lugas, “Syakara” mengajak pendengarnya untuk sing away their problems alias melepaskan keresahan melalui nyanyian.
Artwork lagu ini menampilkan figur yang tertawa, sebuah visual yang merepresentasikan gagasan utama “Syakara” : di balik senyum, setiap orang mungkin sedang memikul masalahnya masing-masing. Namun dengan bersyukur dan menerima, beban itu bisa terasa lebih ringan, karena badai pasti berlalu.
“Syakara” juga menjadi bagian dari rangkaian menuju EP “Ulangan”, yang dijadwalkan rilis dua bulan setelahnya. Melalui “Syakara”, Societeit de Harmonie menyampaikan doa sederhana : agar pendengarnya terbebas dari pikiran-pikiran negatif yang membebani hari-hari, dan bisa menjalani hidup dengan lebih ringan bukan karena masalah hilang, tetapi karena rasa syukur kembali menemukan tempatnya.
iMusic.id – Amanda Mutia merilis single terbarunya berjudul “Peluk”, sebuah lagu pop ballad yang mengangkat tema kehangatan emosional dan kebutuhan akan kehadiran seseorang di saat perasaan sedang lelah dan rindu. Lagu ini menjadi rilisan perdana dari Project Alfa, sebuah program kolaborasi antara Alfa Pustaka Nada sebagai penerbit musik (music publishing) dan AlfaRecords sebagai label musik.
“Peluk” dari Amanda Mutia merepresentasikan momen ketika seseorang tidak selalu membutuhkan solusi, melainkan pengertian dan rasa aman. Lagu ini hadir sebagai refleksi tentang rindu, kehilangan, dan keinginan untuk tetap merasa ditemani.
Sebagai penyanyi yang dikenal mengekspresikan cerita personal melalui musik, Amanda Mutia menghadirkan “Peluk” dengan pendekatan yang jujur dan intim. Aransemen yang sederhana memberi ruang pada karakter vokalnya yang lembut dan ekspresif, sehingga emosi lagu terasa dekat dengan pengalaman banyak pendengar.
Project Alfa merupakan program kolaborasi antara Alfa Pustaka Nada dan AlfaRecords yang berfokus pada kurasi dan perilisan karya musik, dengan penekanan pada sistem rilis yang jelas serta perlindungan hak cipta bagi para musisi.
Single “Peluk” kini telah tersedia di berbagai platform musik digital dan menjadi langkah awal perjalanan Project Alfa dalam menghadirkan karya-karya baru dari talenta terpilih.
iMusic.id – Trio indie-folk asal Jakarta, ‘Rangkai’, resmi merilis single terbaru berjudul “Menuai Terurai” pada Jumat, 20 Februari 2026. Dirilis bertepatan dengan momen awal Ramadan, lagu ini hadir sebagai ruang refleksi atas kehilangan, perpisahan, dan upaya menerima hidup apa adanya.
Di tengah berbagai kabar duka yang hadir belakangan ini. Mulai dari bencana alam hingga kehilangan yang dirasakan secara kolektif. “Menuai Terurai” dari ‘Rangkai’ mencoba berbicara dengan nada yang tenang. Lagu ini tidak berfokus pada kepergian secara fisik, melainkan pada nilai, pesan, dan jiwa yang tetap hidup setelahnya.
“Ramadan sering menghadirkan kebersamaan, dan di saat yang sama mengingatkan kita dengan halus akan mereka yang pernah hadir, namun kini tinggal dalam doa dan ingatan.” ujar Bimo, vokalis Rangkai.
Melalui pendekatan lirik yang metaforis, ‘Rangkai’ memilih untuk membingkai kesedihan sebagai pengalaman bersama. Cerita personal tidak disajikan secara gamblang, melainkan disamarkan dalam narasi kehilangan yang lebih luas, sesuatu yang mungkin pernah atau sedang dialami banyak orang.
Pendekatan metaforis ini juga tercermin dalam artwork single, yang kembali dipercayakan kepada Khalid Albakaziy, di mana ia menerjemahkan tema kehilangan dan keteruraian ke dalam visual yang samar, tenang, dan penuh ruang.
Dengan aransemen folk-pop yang intim dan minimal, “Menuai Terurai” diharapkan dapat menemani pendengar di masa Ramadan : sebagai lagu untuk berhenti sejenak, menerima duka, dan mengubahnya menjadi energi positif untuk melangkah ke depan.
“Menuai Terurai” ditulis dan diproduksi oleh Mirza, Bimo, Rai, dan Kibar MuhammadPembela dengan proses mixing oleh Rendi Kopay dan mastering oleh Rhesa Aditya.
Single “Menuai Terurai” kini sudah dapat didengarkan di seluruh platform musik digital di bawah naungan Setengah Lima Records.