Connect with us

iMovies

Trio Rigen, Rispo dan Hifdzi lucu abis di teaser trailer film GJLS : Ibuku Ibu Ibu

Published

on

iMusic.id – Grup komedi GJLS resmi melebarkan sayapnya ke layar lebar melalui film perdana mereka yang berjudul “GJLS : Ibuku Ibu-Ibu”. Film produksi Amadeus Sinemagna bekerja sama dengan Legacy Pictures ini disutradarai oleh Monty Tiwa dan telah merilis teaser trailer yang langsung mencuri perhatian netizen lewat komentar-komentar yang tak kalah lucu dari isi cuplikannya.

Dibintangi oleh trio GJLS: Rigen Rakelna, Ananta Rispo dan Hifdzi Khoir, film ini juga menghadirkan akting dari Nadya Arina, Luna Maya dan Bucek yang memberi warna berbeda pada dinamika cerita. Mengangkat logline yang absurd sekaligus menggelitik, “Ibuku Ibu-Ibu” bercerita tentang tiga bersaudara egois yang ingin menggagalkan rencana ayah mereka untuk menikah lagi, tak lama setelah ibu mereka meninggal dunia.

Namun alih-alih berhasil, mereka malah menjodohkan sang ayah dengan seorang wanita penipu yang justru menguras harta keluarga. Teaser trailer yang baru saja dirilis menampilkan kekompakan khas trio GJLS dengan gaya humor segar mereka yang langsung mencuri perhatian.

Meski hanya cuplikan singkat, teaser “GJLS : Ibuku Ibu-Ibu”. ini sudah memamerkan kekonyolan dan chemistry natural antar tokoh, lengkap dengan jokes ringan yang terasa sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini. Respons netizen pun penuh tawa dan antusiasme, membanjiri kolom komentar dengan kalimat – kalimat mendukung.

Tak cuma menuai komentar lucu, namun banyak juga berharap film ini bisa meraih jutaan penonton. Mereka bahkan sudah siap membawa pasukan untuk menonton film ini.

Bukan cuma komedi khas GJLS yang bikin menarik, namun kehadiran aktor senior Bucek juga patut dinantikan. Bucek yang berperan sebagai bapak dari Hifdzi, Rigen dan Rispo ini tampil berbeda dari biasanya. Jika banyak yang sudah menonton karya-karya Bucek berperan sebagai karakter yang serius, di sini Bucek tampil tak kalah menghibur dari para anggota GJLS.

“Film ini adalah representasi kondisi Indonesia. Absurd, tapi tetap menghibur dan penuh hati,” ujar Monty Tiwa selaku sutradara.

Sementara itu, Rigen Rakelna menambahkan, “Film ini dibuat dengan senang hati, untuk para GJLS dan tentunya untuk menghibur penonton di Indonesia.”

GJLS: Ibuku Ibu-Ibu juga menandai langkah baru bagi GJLS Entertainment sebagai rumah produksi kreatif milik trio komedian ini. Ini menjadi debut layar lebar mereka sekaligus bukti bahwa GJLS bukan hanya jago di panggung dan podcast, tapi juga siap mengguncang bioskop Indonesia. Tandai kalendermu! “GJLS: Ibuku Ibu-Ibu” akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 12 Juni 2025.

iMovies

Olla Ramlan tampil spesial di series Viu Original “Walid : Heaven’s Reign:

Published

on

iMusic.id – Viu Original “Walid: Heaven’s Reign”, yang merupakan kelanjutan dari serial “Bidaah” yang viral tahun lalu, resmi tayang perdana mulai kemarin (26/2/2026) di Viu. Episode perdana langsung dibuka dengan situasi genting, yaitu Walid berada dalam pelarian dari aparat kepolisian!

Di gambarkan di tayangan favorit Viu tersebut Ia tidak sendirian. Ada pihak yang membantu Walid keluar dari penangkapan sebelum akhirnya dibawa menuju wilayah pedalaman. Tempat tersebut diyakini para pengikutnya sebagai lokasi aman yang sulit dijangkau aparat dan dianggap sebagai perlindungan terakhir bagi sang pemimpin.

Ketidakhadiran Walid di tengah Jemaah Jihad Ummah segera memunculkan pertanyaan besar. Sosok yang selama ini menjadi pusat keputusan tidak lagi berada di garis depan. Siapa yang akan mengendalikan kelompok ketika pemimpinnya berada dalam pelarian? Check langsung nanti di Viu ya.

Dalam acara Premiere Screening di Jakarta kemarin (26/2/2026), Connie Agustin, Deputy Manager Content Acquisition, Viu, mengungkapkan, “Di season pertama, fokus cerita memang banyak berada pada Walid dan kelompoknya. Namun melihat respons luar biasa dari penonton, tim Viu Malaysia merasa ada ruang untuk memperluas perspektif dan membawa konflik ke tingkat yang lebih dalam. Di season kedua, tim menghadirkan sosok baru yang bahkan lebih manipulatif dan lebih berbahaya, sehingga dinamika kekuasaan berkembang ke arah yang tak terduga.”

Connie berharap karya fiksi ini menghibur dan menjadi refleksi tentang bagaimana kekuasaan tanpa kendali dapat membawa konsekuensi yang serius dan berbahaya. Ia menambahkan, 

“Series ini juga mengajak penonton untuk berpikir kritis dan tidak mudah terbuai oleh klaim atau figur otoritas apa pun. Kami berharap kehadirannya dapat menjadi medium diskusi yang sehat, sekaligus pengingat pentingnya melindungi masyarakat dari segala bentuk eksploitasi yang berkedok spiritualitas.”

Viu Original “Walid: Heaven’s Reign” pun semakin spesial karena penampilan Olla Ramlan yang dipercaya memerankan karakter sangat penting. Olla mengaku sangat antusias saat menerima tawaran dari Viu. “Aku baru saja selesai dengan drama dari Viu, Secret High School, lalu aku ditawari series ini. Tapi waktu itu tidak langsung diberi tahu, apakah aku akan jadi istrinya Walid yang ke berapa atau sebagai karakter lain, aku pun masih bertanya-tanya. Tapi aku antusias karena tahu respon masyarakat yang luar biasa terhadap Bidaah,” ujar Olla dalam acara yang sama.

Berperan sebagai Raras Kartika, Olla menjalani proses syuting selama 20 hari dengan perasaan campur aduk. “Ada lokasi syuting di kawasan Perak, Malaysia, yang berada di tengah hutan, dan aku harus menempuh jalan kaki sekitar 70 meter untuk ke kamar mandi yang dipakai bersama kru lain. Tidak ada VIP, jadi semua antre. Kami syuting selalu pagi hari dan di sana dingin banget. Tanpa air panas di kamar mandi. Bahkan aku ada adegan mandi di air terjun dalam waktu cukup lama dan harus tetap berdialog sekaligus memastikan kualitas audio dengan kru,” tambahnya.

Kondisi pondok tempat ia menginap pun berdinding kayu dengan sela-sela yang bisa dimasuki serangga sekitar. “Nyamuk luar biasa dan serangga di sana juga membuat aku takut dan tidak bisa tidur. Jadi aku sempat tertekan dan menangis,” pungkas Olla.

Namun ia mengakui bangga dapat terlibat dalam proyek ini. “Terima kasih untuk Viu Indonesia, Viu Malaysia untuk kesempatan yang luar biasa banget,” ujarnya. 

Pekan pertama penayangan “Walid: Heaven’s Reign” juga menunjukkan Walid di bawah bayang-bayang figur yang lebih besar dan lebih berpengaruh. Ketegangan pun semakin terasa ketika lingkaran terdekatnya mulai retak, sementara para pengikutnya sendiri menunjukkan tanda-tanda perpecahan. Season ini dipastikan akan membongkar sisi rapuh di balik sosok yang selama ini terlihat tak tergoyahkan.

Seperti apa nasib Walid, istri-istri dan pengikutnya? Saksikan drama “Walid Heaven’s Reign” yang tayang setiap Kamis dan Jumat di Viu. 

Continue Reading

iMovies

Film “Laut Bercerita” perkenalkan para cast nya

Published

on

iMusic.id – Rumah produksi Pal8 Pictures mengumumkan pemeran Film “Laut Bercerita” yang lebih lengkap. Setelah mengungkap para pemeran utama, yakni Reza Rahadian sebagai Biru Laut, Yunita Siregar sebagai Asmara Jati, Christine Hakim sebagai ibu, Arswendi Bening Swara sebagai ayah, Dian Sastrowardoyo (Kasih Kinanti) dan Eva Celia sebagai Ratih Anjani di ajang JAFF Market tahun lalu, Pal8 Pictures mengumumkan pemain lain diumumkan di Jakarta pada 24 Februari 2026.

Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, berdasarkan novel bestseller karya Leila S.Chudori, para pemain lainnya adalah Kevin Julio sebagai Daniel Tumbuan, Ben Nugroho (Alex Perazon), Dewa Dayana (Sunu Dyantoro), Yoga Pratama (Arifin Bramantyo), Nagra Kautsar (Naratama), Natalius Chendana (Julius), dan Afrian Arisandy (Gala Pranaya). Nama-nama ini memerankan bagian penting dari kehidupan Biru Laut, yakni kelompok diskusi mahasiswa Winatra.

Skenario film ini ditulis oleh Leila S.Chudori dan Yosep Anggi Noen dan diproduksi oleh Gita Fara, Budi Setyarso, dan Leila S.Chudori. Pal8 Pictures juga bekerja sama dengan VMS Studio, Jagartha, Lynx Films dan Brandlink.

Di dalam film “Laut Bercerita”, Biru Laut tak bergerak sendiri. Pada 1991, mahasiswa jurusan sastra Inggris ini bertemu salah satu pimpinan Winatra: Kasih Kinanti. Sejak itulah Laut bersama Daniel, Alex dan Sunu bergabung ke dalamnya. Mereka memahami bahwa membaca dan menulis adalah bentuk perlawanan. Namun, bergerak adalah langkah selanjutnya untuk melawan kelaliman.

Reza Rahadian yang mengaku memerankan Biru Laut di dalam film panjang ini cukup sulit secara emosional, tetapi dia mengungkapkan harapannya film ini bisa menumbuhkan kepekaan bagi penontonnya.

“Semoga film ini bisa membuka ruang berefleksi terhadap permasalahan sosial saat ini.” Reza mengaku yang menyenangkan adalah Reza dan ketiga pemain lain dalam Winatra berakhir menjadi kawan dekat dalam kehidupan nyata.

Dian Sastrowardoyo dan Eva Celia yang membaca novel “Laut Bercerita” beberapa tahun silam mempunyai tokoh favorit masing-masing.

“Waktu pertama kali membacanya, saya membayangkan kalau ada film panjangnya, saya ingin menjadi Anjani. Impian saya menjadi kenyataan,” kata Eva.

Adapun Dian mengaku dia mengidolakan tokoh Kinan. “Saya merasa bahagia ketika ditawari peran ini,” katanya.

Sutradara Yosep Anggi Noen mengarahkan para pemain selama 37 hari syuting di Semarang, Salatiga, Jakarta, dan Sukabumi. Anggi mengungkapkan proses penggarapan Laut Bercerita cukup sulit dan penuh tantangan.

“Selain menyajikan cerita yang sudah dipahami oleh pembaca novelnya, di film ini saya harus menghadirkan penceritaan yang bisa diikuti oleh penonton secara umum,” kata Anggi.

“Kami bersyukur film panjang perdana kami ini didukung oleh para pemain berbakat,” ujar Direktur Pal8 Pictures, Budi Setyarso.

“Kami berharap film Laut Bercerita bisa memberikan inspirasi untuk banyak orang,” Budi menambahkan. “Semangat persahabatan dan persaudaraan anggota Winatra itulah yang kami ingin tularkan kepada penonton film ini.”

Gita Fara yang juga menjadi produser film pendek dengan judul sama pada 2017 mengungkapkan, pada film panjang, penonton akan dapat menikmati cerita yang lebih utuh tentang perjalanan Biru Laut.

“Kami merasa cerita ini semakin relevan untuk saat ini. Kami ingin menekankan aspek keluarga, kehilangan, dan harapan,” ujar Gita Fara.

Film ini terpilih dalam program Work-in-Progress (WIP) di Hong Kong – Asia Film Financing Forum (HAF) 2026, dan akan berjejaring dengan calon mitra kolaborator di Hong Kong Filmart pada 17–19 Maret 2026. 

Film “Laut Bercerita” akan tayang dibioskop di seluruh Indonesia tahun 2026 ini.

Continue Reading

iMovies

Sukses premiere di Berlin, film “Ghost In The Cell” rilis official teaser.

Published

on

iMusic.id – Setelah mendapat sambutan dan antusiasme tinggi dari penonton internasional di ketika world premiere di Berlin International Film Festival 2026, film terbaru Joko Anwar persembahan Come and See Pictures, “Ghost in the Cell” merilis official trailer yang menjanjikan tontonan yang sangat menghibur dan berisi! Menampilkan kengerian yang ada di penjara, saat para napi dalam ruang terbatas dihantui oleh kekacauan yang meneror.

Menampilkan deretan aktor terbaik Indonesia, film ke-12 penulis dan sutradara Joko Anwar ini menggabungkan aspek horor supranatural, satir tentang politik dan situasi sosial yang terjadi di Indonesia, dikemas dengan cara yang memanjakan penonton secara visual dan audio. 

“Ghost in the Cell” karya Joko Anwar ini dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Danang Suryonegoro, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Almanzo Konoralma, Haydar Salishz, Arswendy Bening Swara, Dewa Dayana, Faiz Vishal, Jaisal Tanjung, dan Ho Yuhang serta memperkenalkan Magistus Miftah.

Penulis dan sutradara Joko Anwar mengungkapkan cerita di film Ghost in the Cell adalah miniatur kehidupan rakyat, yang saat ini seperti sedang hidup di dalam penjara.

“Penjara adalah cerminan hidup secara sosial dan politik. Ada pejabat lapas sebagai pemerintah, dan ada napi sebagai rakyat. Ada dinamika kuasa, dan dinamika antar napi yang mencerminkan masyarakat kita,” ujar Joko Anwar.

“Film ini didesain buat penonton tertawa lepas karena ngeliat kehidupan kita sendiri,” tambah Joko.

Produser Tia Hasibuan menambahkan, desain produksi film “Ghost in the Cell” menerapkan pendekatan yang efektif dan efisien. Proses produksi yang hanya membutuhkan waktu 22 hari, yang hanya menggunakan setengah hari di setiap harinya, membuat seluruh jajaran kru dan pemeran pun merasa nyaman.

“Kami mengambil gambar dari pagi dan berakhir saat jam makan siang. Jadi meskipun waktu produksi kami 22 hari, itu bisa dibilang terasa seperti 11 hari waktu produksi. Di film ini, kami juga menggunakan pendekatan yang hampir seluruhnya menggunakan one shot take. Jadi sejak pra-produksi juga sudah dipersiapkan secara matang,” ujar produser Tia Hasibuan. 

Di film ini, Joko juga menggunakan pendekatan yang berbeda. Dalam pengambilan gambar, “Ghost in the Cell” pun didesain layaknya pertunjukan teater, dengan total hanya 43 scene (film biasanya berisi sekitar 120 scene), dengan setiap adegan bisa berdurasi panjang. Sebab itu, jajaran ansambel di film ini adalah para aktor terbaik Indonesia, untuk mewujudkan hasil yang maksimal.

Abimana, yang memerankan karakter Anggoro dan menjadi pemeran utama di film ini menuturkan, Joko memberinya kebebasan artistik dalam menerjemahkan karakternya saat berakting. Baginya, film ini akan membuka mata dan pikiran banyak orang Indonesia untuk berefleksi terhadap apa yang terjadi saat ini.

“Meski latarnya adalah penjara dan para karakternya adalah para napi, bagi saya ini seperti gambaran yang jelas tentang situasi kekacauan yang terjadi di Indonesia sekarang. Justru, dari para napi ini kita juga bisa belajar semangat kolektivisme untuk melakukan sebuah tindakan, saat kita tidak bisa bergantung dan mengandalkan institusi resmi,” ujar Abimana.

Film “Ghost in The Cell” diproduksi oleh Come and See Pictures, bekerja sama dengan RAPI Films dan Legacy Pictures. Barunson E&A juga menjadi sales agent untuk perilisan worldwide film ini.  Tonton film Ghost in The Cell di bioskop mulai 16 April 2026!

Continue Reading