Uncategorized
Kahitsna Menjadi Line Up Phase Ketiga Konser LAFFestival
Setelah sukses menggelar perayaan 30 tahun Kahitna pada tahun 2016 dengan nama “LOVE FESTIVAL”, konser ini akan kembali hadir dengan konsep terbaru yaitu “LOVE and FABULOUS” atau disebut “LAFFestival”.
LAFFestival membawa konsep yang unik dan baru pertama kali diadakan di Indonesia, dimana akan menghadirkan 11 Spesial Konser dalam semalam yang akan di meriahkan oleh musisi lokal & International.
Mereka adalah :
- RAISA Handmade Experience.
- ANDIEN Metamorfosa 2.0.
- Yura dan Tuan Tuan (RAN, Reza Rahadian, Teza Sumendra)
- D’Essentials Of Groove (Maliq & D’Essentials & The Groove)
- NEV+ Dea & Sophia Latjuba.
- Thorn & Roses (Jevin Julian x Random Brothers feat. Neonomora, RamenGvrl, dan Andini)
- Hening Taifun oleh Barasuara
- Anne Marie
- The Brand New Heavies
- Kahitsna
- Nomer ke-11 ini akan diumumkan segera
Dalam fase ketiga kali ini Berlian Entertainment & Hype Festival mengumumkan kejutan show lainnya untuk menyemarakkan LAFFestival, mempersembahkan Kahitsna (Kahitna Female Version) dan pengumuman LIVE Movie Reality.
Sekilas seperti mendengar Kahitna, Kahitsna adalah ‘Kahitna versi cewek (kahitna female version)’ dan hanya ada di LAFFestival. Kahitsna di pilih dari penyanyi berbakat perempuan cantik, mereka adalah Ava Victoria, Radhini, Lala Karmela dan Mikha Tambayong.
Managing Director Berlian Entertainment, Dino Hamid, menjelaskan bahwa konsep tahun 2018 ini adalah mengedepankan musisi wanita.
“Jadi temanya tahun ini itu adalah semua performernya adalah perempuan sebagai frontliner, tetapi di support oleh laki-laki. Seperti Sophia Latjuba bersama Nev+. Tidak menutup kemungkinan tahun depan bisa jadi frontlinernya laki-laki”ungkap Dino.
“Seneng banget pas dapat tawaran untuk menjadi bagian dari konser LAFF ini. Kita semua cewek-cewek, aku bakal nyanyi bareng Radhini dan Mikha Tambayong, dan akan di direct oleh Ava yang juga perempuan. Maybe Kahitsna will be more hits than Kahitna”ujar Lala Karmela.
“Tantangan terbesar main di festival ini adalah merubah aransemen yang biasanya Barasuara selalu bermain jingkrak-jingkrak, tetapi di LAFF ini kami ingin menyuguhkan aransemen yang lebih menegangkan dan “membunuh” pelan-pelan. Kita akan tampil akustik, kita juga akan ajak violin, perkusi dan piano. Kalau lagu baru di album baru sudah selesai, kemungkinan akan kita bawain di konser LAFF nanti kalau di rasa sudah layak dengar”kata Iga Massardi, vokalis Barasuara.
“Nantinya akan ada kolaborasi dengan Sophia Latjuba, kita gak cuma nyanyi sendiri-sendiri bersama NEV+”terang Dea Lalila.
“Para performer akan tampil dengan durasi 45 menit hingga satu jam dan nati segera akan kami umumkan performer ke-11 yang akan turut meramaikan konser ini”tambah Dino sebagai penutup press conference LAFFestival.
Konser LAFFestival rencananya akan di gelar pada 10 Februari mendatang bertempat di Jakarta Convention Center (JCC) yang di banderol dengan harga 850 ribu untuk kelas festival dan 1.750.000 untuk harga kelas vip, yang dapat di beli melalui www.laffestival.com . Harga tiket ini jauh lebih murah dibandingkan kita menonton konser satu musisi, dengan harga tersebut kita dapat menonton 11 performer.
(dyk)
Uncategorized
Dari Edane ke Gerimis: Bayu Randu Satukan Ego Musisi Senior dalam 2 Bulan
Jakarta, April 2026 — Bayu Randu kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai produser musik melalui proyek terbarunya bersama band rock Gerimis. Mengusung konsep “band baru muka lama”, proyek ini mempertemukan musisi-musisi berpengalaman dengan karakter kuat dalam satu formasi yang solid. Bayu menyebut tantangan terbesar dalam proyek ini adalah menyatukan identitas musikal para personel yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
“Tantangannya justru di situ—mereka semua sudah punya karakter masing-masing yang nggak bisa diubah. Jadi fokusnya bagaimana bikin semuanya bisa ngeblend dalam satu orkestrasi musik yang tetap modern,” ujarnya.
Gerimis sendiri terbentuk pada Februari 2026 dan bergerak cepat. Dalam waktu dua bulan, band ini telah merilis single perdana “So Lonely” pada 22 April 2026 melalui Musicblast.id dan berbagai platform digital. Band ini dihuni oleh deretan musisi senior dengan rekam jejak panjang di skena musik Indonesia. Di lini vokal, Amirzidane (Muhammad Amirudin) dikenal pernah terlibat dengan Slank (sebagai kru dan proyek Jaddah Slank), serta menjadi vokalis Keraton dan solois.
Di sektor gitar, Luciano (Bule) merupakan sound engineer sejak tahun 2000 sekaligus gitaris The Sign, didampingi Ary. Sementara itu, lini ritme diisi oleh Jaka Jackers (Jaka Hidayat), mantan drummer Wahh Band, Power Slaves, dan BIP, berpadu dengan Obin, bassist dari Steven Jam. Menambah kekuatan musikal, Gerimis juga melibatkan Adrian Sidharta sebagai featuring—figur penting dalam sejarah awal Slank yang dikenal sebagai kibordis pada formasi awal (formasi ke-3 hingga ke-5). Kehadirannya menghadirkan warna keyboard bernuansa vintage yang memperkuat karakter lagu.
Dalam proyek ini, Bayu tidak hanya bertindak sebagai produser, tetapi juga menjalankan hampir seluruh proses produksi secara mandiri—mulai dari recording, mixing, mastering, hingga produksi video klip sebagai kameraman dan editor. “Ini semuanya gue yang kerjain—recording, mixing, mastering, video klip, sampai press release. Waktunya sangat mepet, jadi memang harus jalan sendiri,” tambahnya. Pendekatan ini bukan hal baru. Sebelumnya, Bayu juga dikenal terlibat dalam berbagai proyek band rock Indonesia seperti Edane, Funky Kopral, dan Voodoo.

Single “So Lonely” menjadi representasi arah musikal Gerimis—perpaduan nuansa rock klasik dengan sentuhan produksi modern. Untuk strategi promosi, Bayu mengandalkan pendekatan berbasis data digital. “Kita lihat dulu dari data dan algoritma—lagu ini bergeraknya ke mana, siapa yang dengerin. Setelah kelihatan pasarnya, baru kita gas lebih jauh,” jelasnya.Melalui proyek ini, Bayu Randu kembali menegaskan pendekatannya sebagai produser—menggabungkan pengalaman musisi senior dengan arah sound yang relevan bagi pendengar masa kini.
Informasi Rilis Singkat
- Judul: So Lonely (Feat. Adrian Sidharta)
- Tanggal Rilis: 22 April 2026
- Label: Musicblast.id
- Produser: Bayu Randu
- Platform: Seluruh digital streaming platform
Kontak & Media Sosial
- Instagram: @gerimisbandjkt
- TikTok: @gerimis_official
- YouTube: @GerimisbandJakarta
- Email: gerimisbandjakarta@gmail.com
- Contact: Dyka – +62 896-3230-3222
Uncategorized
Clownsuffer Rilis “Drag Me Out”
Clownsuffer resmi memperkenalkan single debut mereka bertajuk “Drag Me Out”, menandai langkah awal di ranah modern metalcore dengan pendekatan yang intens dan konseptual. Lagu ini bukan sekadar rilisan pembuka, melainkan bagian dari rangkaian karya yang telah mereka siapkan sejak terbentuk pada 2023.
Band ini digawangi oleh Iyas (vokal), Kittink (lead guitar), Agam (guitar), Toro (bass), dan Hendra (drum). Sejak awal, Clownsuffer merancang materi mereka sebagai satu kesatuan naratif, di mana setiap lagu saling terhubung dalam alur musikal dan emosional yang berkelanjutan.
“Drag Me Out” lahir dari fase personal yang tidak mudah. Dalam proses penulisan hingga produksi, para personel menghadapi dinamika hidup yang kompleks. Alih-alih dihindari, tekanan tersebut justru diolah menjadi energi kreatif yang membentuk karakter kuat dalam lagu ini.
Secara musikal, Clownsuffer menghadirkan intensitas yang konsisten dari awal hingga akhir. Struktur yang padat dengan minim jeda, riff agresif, serta dinamika rapat menciptakan sensasi terdesak yang selaras dengan tema lirik—tentang konflik internal, keterjebakan, dan dorongan untuk merebut kembali kendali atas diri sendiri.
Menariknya, lagu ini tidak diposisikan sebagai permintaan untuk diselamatkan, melainkan sebagai pernyataan untuk keluar dari tekanan dengan kesadaran dan keberanian. Pendekatan ini memperkuat identitas Clownsuffer sebagai band yang tidak hanya mengedepankan intensitas musikal, tetapi juga kedalaman naratif.
Dalam strategi rilisnya, Clownsuffer memilih untuk tidak langsung merilis album penuh. Mereka akan memperkenalkan karya secara bertahap, menjadikan setiap rilisan sebagai bagian dari cerita yang terus berkembang.
Dari sisi visual, artwork “Drag Me Out” turut memperkuat konsep yang diusung. Digarap oleh ilustrator @lime_hystrixx, visualnya memadukan simbol seperti mata, tangan, ular, dan rantai—merepresentasikan tekanan sekaligus pembebasan.
Saat ini, “Drag Me Out” sudah tersedia di berbagai platform streaming digital. Clownsuffer juga tengah menyiapkan video klip resmi serta lini merchandise sebagai bagian dari pengembangan identitas mereka ke depan.
Dengan rilisan ini, Clownsuffer menegaskan posisinya sebagai salah satu nama baru di skena modern metalcore yang patut diperhitungkan—menggabungkan intensitas, konsep, dan visi jangka panjang dalam satu paket yang solid.
Uncategorized
Di Usia ke 48, Teater Koma gelar pertunjukan “Mencari Semar”
iMusic.id – Di usianya yang ke-48 tahun, Teater Koma berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation menghadirkan pementasan teater terbaru bertajuk “Mencari Semar”, sebuah lakon fantasi yang menggabungkan mitologi Jawa dengan narasi futuristik. Pementasan ini akan berlangsung pada 13 – 17 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur dan akan memadukan kekuatan cerita, kekayaan visual, musik, tarian dan teknologi panggung dalam satu pengalaman teatrikal yang imersif.

“Kami percaya bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyentuh, menginspirasi, dan menjembatani generasi dalam mengenal kekayaan budaya bangsa. Komitmen kami untuk membangun ekosistem seni pertunjukan di Indonesia terwujud melalui berbagai dukungan, salah satunya kepada Teater Koma yang selama puluhan tahun konsisten menghadirkan karya-karya berkualitas yang merefleksikan kehidupan dan kebudayaan bangsa, dan kami bangga menjadi bagian dari perjalanan ini. Kami berharap seni pertunjukan Indonesia dapat terus tumbuh dan menjadi tuan rumah yang sejati di negeri sendiri,” ujar Billy Gamaliel, Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation.
Ditulis dan disutradarai oleh Rangga Riantiarno (Teater Koma), “Mencari Semar”mengisahkan tentang Semar, sang punakawan bijak yang menyimpan pusaka sakti bernama Jimat Kalimasada dalam tubuhnya di masa pensiunnya. Seiring berjalannya waktu, Kekaisaran Nimacha, sebuah peradaban futuristik yang hidup berdasarkan Perintah Utama menghadapi ancaman kepunahan akibat Perintah yang telah berkali-kali ditulis ulang, lima Agen diutus untuk mencari jalan keluar. Mereka menemukan catatan sejarah tentang Kalimasada dan meyakini bahwa jimat itu mampu menulis ulang Perintah Utama. Demi menguasainya, para Agen ditugaskan untuk mencari Semar dan membawanya ke Ruang Putih, ruang ilusi yang dirancang untuk menarik keluar Kalimasada.
“Lakon ini mencoba menggambarkan dunia masa depan yang kehilangan arah, lalu mencari kembali kebijaksanaan yang berasal dari masa lampau. Semar bukan sekadar tokoh pewayangan, ia adalah simbol suara rakyat, penjaga keseimbangan, dan cerminan nilai-nilai luhur yang hari ini makin dibutuhkan,” terang Rangga Riantiarno, penulis naskah dan sutradara dari Teater Koma.

Pementasan yang merupakan produksi Teater Koma ke 235 ini menjadi proyek kolaboratif lintas disiplin yang menghadirkan tata panggung modern serta visual yang kaya akan imajinasi. Di bawah arahan Deden Bulqini sebagai Skenografer, pementasan “Mencari Semar”menggabungkan set panggung futuristik, tata cahaya dinamis, elemen multimedia, hingga proyeksi visual interaktif yang memungkinkan suasana berubah drastis seiring pergerakan waktu dan ruang dalam cerita. Unsur-unsur tersebut dihadirkan bukan hanya sebagai latar, tetapi sebagai bagian dalam menciptakan pengalaman panggung yang imersif dan komunikatif dengan penonton.
“Dalam “Mencari Semar”, kami mencoba mendekatkan konsep skenografi ke arah pengalaman visual yang responsif. Artinya, set tidak hanya memperkuat suasana, tetapi juga menjadi bagian dari dramaturgi. Dengan bantuan teknologi proyeksi, elemen suara, dan tata cahaya yang dirancang menyatu, kami menghadirkan dimensi waktu yang tidak statis, sejalan dengan cerita tentang Semar yang terjebak dalam putaran waktu. Ini adalah upaya kami untuk membawa penonton tidak hanya melihat, tapi ikut merasa terperangkap dalam dunia Semar,” ujar Deden Bulqini, Skenografer “Mencari Semar”
Di saat bersamaan, elemen khas Teater Koma tetap hadir kuat, mulai dari kostum penuh warna, nyanyian jenaka, hingga tarian teatrikal dan humor cerdas yang relevan dengan keadaan saat ini. Dengan pendekatan visual yang sinematik dan struktur panggung yang fleksibel, pementasan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman teater yang segar, relevan, dan memikat lintas generasi.

“Melalui “Mencari Semar”, kami ingin terus merayakan panggung sebagai ruang kebebasan berekspresi. Ini adalah kolaborasi antara imajinasi, kecintaan pada budaya, dan keberanian untuk menghadapi masa depan dengan berpegang dengan nilai-nilai budaya lokal. Kami mengajak penonton untuk ikut dalam perjalanan fantastis ini, dan semoga pesan-pesan yang kami sampaikan bisa menggugah hati dan pikiran,” ujar Ratna Riantiarno, produser pementasan ini.
Pementasan Mencari Semar akan berlangsung setiap hari mulai 13 hingga 17 Agustus 2025, pukul 19.30 WIB, dengan dua pertunjukan khusus di hari Sabtu (16 Agustus) pada pukul 13.30 dan 19.30, serta Minggu (17 Agustus) pukul 13.30 WIB. Tiket pertunjukan sudah tersedia dan dapat diperoleh melalui situs resmi Teater Koma dan melalui platform pembelian tiket. Harga tiket bervariasi mulai dari Rp100.000 hingga Rp850.000.
