Connect with us

iMusic

Rilis single remake “Karmila”, Kadri berharap respon positif generasi milenial

Published

on

iMusic.idKadri, vokalis Makara dan Kadri Jimmo yang mendapat julukan “The Singing Lawyer” ini akhirnya memulai debut karir solonya dengan merilis salah satu legendaris ciptaan Farid Hardja yang berjudul “Karmila’.

Lagu yang di ciptakan dan di populerkan mendiang Farid Hardja di tahun 1977 ini merupakan  lagu klasik yang bercerita tentang kisah cinta imajiner masa muda Farid Hardja dengan belia Karmila di jaman itu dan Kadri mencoba mengangkatnya di masa sekarang.

LiLo, gitaris KLa Project yang menjadi eksekutif produser dan produser music dari single “Karmila” dari Kadri mengungkapkan awal mula dari kerjasamanya bersama Kadri untuk menggarap dan merilis single tersebut,

“Sebenarnya proses produksi lagu bersama Kadri ini sudah dimulai sejak 11 tahun lalu, namun entah kenapa gak pernah tuntas atau selesai produksinya karena kesibukan kita masing – masing”, jelas LiLo yang memiliki brand produk musik bernama ‘LiLo The Producer’.

Sejak awal LiLo sangat suka dengan karakter vokal Kadri dan yakin vokal Kadri ini bakal jadi sesuatu di lagu “Karmila” ini,

“Vokal Kadri yang berciri kuat dengan vibrato membuat signature yang tidak biasa, membuktikan musikalitas penyanyi yang berbeda dalam single klasik ini. Kadri tidak meniru Farid Hardja namun karakter kuat tersebut merupakan anugerah alam”, ujar LiLo.

LiLo, memang piawai mencari kekuatan suara vibrato Kadri dan merubahnya dari zona nyaman ke zona baru yang menjadikan tantangan bagi seorang Kadri. Aransemen musik yang LiLo buat pun sangat unik karena memadukan unsur pengaruh musik rock ‘n’ roll modern dengan balutan choir dari band Beach Boy yang membuat “Karmila” menjadi suatu produk retro yang meruang dan elegan.

“Aransemen seperti ini akan membuat lagu ini mudah masuk dalam telinnga pendengar musik saat ini, Saya menerjemahkan aransemen “Karmila” lewat bahasa jelajah masa lalu dan pendekatan musik modern. Kadri menjadi artis pertama untuk program dan album LiLo The Producer yang saya sedang garap. “Ujar LiLo.

Sementara itu Kadri yang sebelumnya bersama band the Kadri Jimmo berhasil melahirkan album Indonesia Hebat (2009), Tanah Sang Pemberani EP (2015), single “Seandainya Aku Bisa Terbang” (Yovie Widianto / Kahitna), single “Ingin Punya Pacar Lagi”(2019) dan “Lamar” (2019), mengaku sangat senang bisa memulai debut karir solonya bekerjasama dengan LiLo The Producer dan juga Nagaswara yang mendistribusikan digital single “karmila” tersebut.

“Single ini merupakan single pertama saya setelah bertahun-tahun bernyanyi dengan band, awalnya saat menyanyikan lagu ini malah menjadi bahan bercandaan teman-teman, saya disebut meniru-niru karakter vokal Farid Hardja. Tapi kemudian setelah diproses dan diolah sangat apik lewat aransemen musik oleh LiLo The Producer, hasilnya pun menjadi sesuatu yang beda dan jadi sesuatu yang baru, Saya merasa bisa melakukan eksplorasi power pop yang kuat bersama LiLo “Jelas Kadri.

Setelah LiLo dan Kadri selesai menggarap single “Karmila” ini, kedua musisi tersebut langsung mendatangi CEO Nagaswara, bapak Rahayu Kertawiguna dan langsung mendapat respon yang baik dari pak Rahayu.

Kadri, mengenal sosok Rahayu Kertawiguna CEO Nagaswara, sudah lama. Perkenalan itu dari beberapa kegiatan ekosistem musik.

“Dan syukurlah, kita sign kontrak untuk lagu pertama ini. Tapi nyanyi sendiri sebagai penyanyi solo, baru kali ini, sama Nagaswara. Kebetulan karakter vokal saya dianggap cocok membawakan lagu dari mendiang Farid Hardja, ini. “Ungkap Kadri.

Kadri berharap single “Karmila” dapat menarik perhatian pencinta musik Indonesia. Menjadi narasi dan tafsir musik power pop dan mudah diterima dengan baik di musik Indonesia

“Saya mau generasi sekarang bisa merespon dengan mudah lagu ini. Sebuah anthem cinta beda usia yang unik menjadi salah satu karya terbaik dari Farid Hardja”, tutup Kadri.

iMusic

Putri Sashi dan Janita Gabriela luncurkan Kolaborasi seru lintas label

Published

on

iMusic.id – Putri Sashi (Musica Studios) berkolaborasi dengan Janita Gabriela (Sony Music) dalam menghadirkan interpretasi baru dari lagu legendaris “Merindukanmu”. Lagu yang sebelumnya dipopulerkan oleh band D’MASIV ini menjadi proyek kolaborasi spesial antara Musica Studios dan Sony Music, mempertemukan dua penyanyi perempuan dengan karakter vokal lembut dalam satu karya fenomenal.

Ide awal perilisan lagu ini berangkat dari pertemuan antara Musica Studios dan Sony Music yang membahas peluang menghadirkan kembali lagu-lagu hits Indonesia dengan pendekatan baru. Dari diskusi tersebut, muncul gagasan untuk menghidupkan kembali lagu “Merindukanmu”. Mereka kemudian mengusulkan lagu ini sebagai project yang dinilai sudah sangat melekat di hati para pendengar.

Bagi Janita Gabriela, lagu ini memiliki makna yang personal. Ia mengungkapkan bahwa “Merindukanmu” sudah menjadi salah satu lagu favoritnya sejak kecil. Tidak hanya tentang kisah cinta, bagi Janita lagu ini juga menggambarkan kerinduan terhadap orang-orang terdekat yang memiliki arti penting dalam hidupnya, termasuk kenangan terhadap sosok nenek tercinta.

Sementara itu, Putri Sashi menilai lagu ini memiliki lirik yang begitu menyayat hati dan sangat dekat dengan pengalaman banyak orang. “Lagu ini tentang kisah percintaan yang dalam dan sangat relate dengan banyak orang. Lewat versi ini, kami ingin kembali mewakilkan perasaan para pendengar yang pernah merasakan kerinduan seperti yang diceritakan di lagu ini,” ungkap Putri.

Kolaborasi ini sekaligus menjadi duet pertama bagi Putri Sashi dan Janita Gabriela. Proses mempertemukan keduanya dimulai ketika masing-masing menerima materi lagu beserta aransemen terbaru. Setelah mendengarkan konsep yang disiapkan, keduanya kemudian memulai proses produksi di studio rekaman Sony Music.

Untuk sesi rekaman vokal, prosesnya dilakukan secara intens. Putri juga mengungkapkan bahwa ia langsung terkesan dengan kemampuan vokal Janita sejak pertama kali mendengarnya. “Aku suka banget sama suaranya. Setelah ngobrol, ternyata orangnya juga sangat menyenangkan, sehingga chemistry kami cepat terbentuk,” kata Putri.

Janita pun merasakan pengalaman yang menyenangkan selama proses kolaborasi ini. Menurutnya, menyatukan karakter vokal dengan Putri terasa cukup nyaman karena warna suara Putri yang lembut sehingga harmoni keduanya bisa menyatu dengan baik.

Membawakan lagu yang sudah sangat populer tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Lagu “Merindukanmu” telah begitu melekat dengan versi aslinya dari D’MASIV, sehingga keduanya merasa perlu memberikan sentuhan baru tanpa menghilangkan esensinya.

Dalam versi ini, “Merindukanmu” dikemas dengan aransemen akustik yang lebih segar dan modern, lengkap dengan berbagai improvisasi nada yang memperkaya dinamika lagu. Perpaduan karakter vokal keduanya yang lembut juga menghadirkan nuansa berbeda dibandingkan versi aslinya.

Melalui single ini, Putri Sashi dan Janita Gabriela berharap “Merindukanmu” tetap mampu menyampaikan emosi yang sama kuatnya seperti lagu aslinya.

“Kami berharap lagu ini tetap sampai kepada para pendengarnya dan bisa menyentuh hati banyak orang,” ujar Putri.

Janita pun berharap versi terbaru ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat dan menjadi favorit bagi para penikmat musik Indonesia.

Dengan kolaborasi antara Musica Studios dan Sony Music, serta sentuhan aransemen yang lebih modern, “Merindukanmu” versi Putri Sashi dan Janita Gabriela diharapkan mampu menghadirkan kembali rasa rindu yang sama, namun dengan nuansa yang lebih segar.

“Merindukanmu” dari Putri Sashi dan Janita Gabriela sudah dapat dinikmati di seluruh platform musik digital di Maret 2026.

Continue Reading

iMusic

Mahakarya Pictures tunjuk Dimas Senopati nyanyikan lagu “Come Back To Me” sebagai OST Film “Pelangi Di Mars”

Published

on

iMusic.id – Menjelang penayangannya yang sangat dinanti pada momen Lebaran 2026, film sci-fi keluarga “Pelangi di Mars” resmi merilis Music Video (MV) untuk original soundtrack utamanya yang berjudul “Come Back to Me”.

Dibawakan oleh penyanyi dengan vokal kuat, Dimas Senopati, MV ini dirilis oleh Mahakarya Pictures sebagai “bocoran” keindahan visual dan kedalaman cerita yang akan tersaji dalam film dengan cerita petualangan anak tersebut.

MV “Come Back to Me” menampilkan Dimas Senopati menyanyikan lagu yang megah dan menginspirasi dengan latar belakang kemegahan Planet Mars. Diambil sepenuhnya di Doss Guava XR Studio, MV ini memberikan gambaran nyata teknologi Virtual Production yang digunakan dalam film, sekaligus mempertegas pesan utama: bahwa anak Indonesia mampu melakukan apa saja, bahkan memimpin misi di luar angkasa.

Representasi Kegigihan dan Spirit Pelangi Lagu “Come Back to Me” bukan sekadar pelengkap, melainkan nyawa dari perjalanan Pelangi dalam mencari jalan pulang ke Bumi. Produser “Pelangi di Mars”, Dendi Reynando, menekankan pentingnya kualitas musik yang setara dengan kualitas visual filmnya.

“Untuk Pelangi di Mars, kami ingin membawakan original soundtrack yang tidak kalah megah dan indah dari filmnya. ‘Come Back to Me’ membawakan spirit yang dimiliki cerita ini, menunjukkan kegigihan Pelangi untuk kembali ke Bumi demi menyelamatkan hari,” ungkap Dendi Reynando.

Karya yang Lahir dari passion dan Ketulusan Bagi Dimas Senopati, terlibat dalam proyek ini adalah sebuah kebanggaan besar. Ia merasa energi dari ratusan kru yang membangun film ini selama lebih dari lima tahun tersalurkan lewat nada-nada yang ia nyanyikan.

“Saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari proyek yang dibangun dari passion dan ketulusan para kreator serta ratusan orang yang bekerja di balik layar. Saya berharap ‘Come Back to Me’ bisa menggambarkan kegigihan sosok Pelangi yang sangat menginspirasi bagi siapa saja yang mendengarnya,” ujar Dimas Senopati.

Sinema Keluarga yang akan tayang di Lebaran 2026 ini dibintangi oleh jajaran aktor papan atas seperti Messi Gusti, Lutesha, Myesha Lin, Rio Dewanto, hingga Livy Renata. Selain itu, keseruan petualangan Pelangi bersama teman-teman robotnya akan dihidupkan oleh pengisi suara Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Bimo Kusumo, Vanya Rivani, dan Dimitri Arditya.

Lewat film ini, penonton diajak mengikuti kisah Pelangi, manusia pertama yang lahir di Mars, karena ia terdampar bersama ibunya, Pratiwi. Bersama teman-teman robotnya, Pelangi melanjutkan misi ibu Pratiwi untuk menemukan mineral bernama Zeolith Omega yang dapat menjadi solusi untuk krisis air bersih di Bumi dan bertemu dengan ayah Pelangi.

Sambil menunggu filmnya tayang di bioskop, saksikan MV “Come Back to Me” di kanal YouTube resmi Mahakarya Pictures. Bersiaplah mengikuti petualangan “Pelangi di Mars” di seluruh bioskop Indonesia mulai Lebaran, 18 Maret 2026.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan ikuti akun media sosial resmi kami di @pelangidimars dan @mahakaryapictures.

Continue Reading

iMusic

Agrikulture luncurkan single “Terang Di Gelap Cahaya”

Published

on

iMusic.id – Setelah menyapa pendengar lewat “Cerah Hari Ini”, unit dance-punk veteran asal Jakarta, Agrikulture, kembali melanjutkan perjalanan musikalnya dengan merilis single terbaru bertajuk “Terang Di Gelap Cahaya”. Lagu ini menjadi penegasan identitas mereka sebagai band yang konsisten meramu groove, ironi, dan refleksi hidup urban ke dalam komposisi yang memicu gerak tubuh sekaligus kerja pikiran.

Terinspirasi oleh semangat dance-punk dan post-punk ala Talking Heads hingga The Rapture, Agrikulture tetap menjadikan bass dan ritme sebagai fondasi utama. Namun, sebagai entitas yang lahir dari latar belakang DJ, mereka tidak membatasi diri pada satu pakem. Dalam “Terang Di Gelap Cahaya”, elemen funk, disco, dan new wave melebur menjadi sebuah arsitektur musik yang repetitif namun kaya akan lapisan emosi subtil.

Jika “Cerah Hari Ini” menangkap optimisme spontan, “Terang Di Gelap Cahaya” hadir dengan perspektif yang lebih matang. Lagu ini lahir dari kegelisahan yang sangat personal, sebuah curahan rasa tentang pencarian jawaban, ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan, tanpa benar-benar tahu harus memulai dari mana. Alih-alih berteriak, keresahan itu “menyapa lewat nada”, menjadikan musik sebagai medium paling jujur untuk berbicara ketika kata-kata terasa tidak cukup.

Ada semangat seperti pesan yang dilepaskan ke ruang luas, serupa metafora message in a bottle ala The Police, sebuah harapan sederhana bahwa setidaknya ada yang mendengar. Karena di era digital, lagu memiliki kesempatan menjangkau penjuru dunia, menyebarkan suara kecil yang mungkin terasa tak berarti, namun tetap ingin didengar. “Dengarkan kami sebar suara ke seluruh penjuru dunia” bukan sekadar lirik, melainkan refleksi dari kebutuhan dasar manusia untuk terhubung.

Secara liris, Agrikulture tetap setia pada gaya observasional mereka: lugas, ironis, dan bebas dari romantisasi emosi berlebihan. Pilihan kata yang minimalis bukan tanpa alasan—kadang ketika seseorang terlalu resah, justru ia menjadi hampir tak bersuara. Speechless. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Dan bukankah dalam kebisingan hari ini, panjang lebar pun belum tentu benar-benar didengar?

“Lagu ini adalah pengingat tentang bertahan dan menemukan makna terang versi masing-masing, bahkan ketika cahaya terasa samar,” ungkap Agrikulture.

Pada akhirnya, “Terang Di Gelap Cahaya” tidak menawarkan solusi besar atau janji muluk. Ia hanya menyuarakan harapan yang sangat manusiawi: setidaknya menemukan sedikit terang di ruang yang terasa gelap tanpa cahaya.

Sejak kemunculannya di awal 2000-an,Agrikulture telah mengukuhkan posisi mereka lewat album “Dawai Damai” (2007) dan “Terang Benderang (2011). Melalui single terbaru ini, mereka kembali membuktikan relevansinya di skena musik independen Indonesia, memilih jalur berbeda dengan menghadirkan musik yang danceable namun tetap artistik, reflektif, dan kontekstual dengan denyut kehidupan urban hari ini “Terang Di Gelap Cahaya” tersedia di seluruh platform streaming digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music .

Continue Reading