iMusic.id – Solois sekaligus lady rocker, Tia Veres kembali membuka cabang usaha kulinernya yang diberinama “Farstan Food And Drink”. Berlokasi di Pusat Grosir Cililitan (PGC) lantai Ground BG 85, usaha kuliner dari Tia Veres ini merupakan cabang ke empat yang dia buka setelah tiga cabang sebelumnya berjalan dengan sukses.
Outlet ke empat dari “Farstan Food And Drink” milik Tia Veres ini tampak di tata dengan sangat elegan dan menarik. Dengan tampilan segar dan menu beragam, outlet milik Tia Veres ini udah membuat pelanggan jatuh hati sejak cabang pertama.
“PGC ini memang saya pilih karena dekat dengan rumah, jadi lebih mudah buat saya kontrol. Apalagi konsepnya baru, logonya juga baru, lebih fresh dengan warna putih, hitam dan oranye”, terang Tia Veres.
Sejak berdirinya usaha kuliner yang namanya terinspirasi dari kedua anak Tia ini, Tia sudah berusaha manghadirkan menu – menu makanan yang variative, mulai dari Chicken Katsu, Chicken Teriyaki, Brulee Bomb Mozzarella, hingga menu tradisional seperti Ayam Kremes Langkuas dan Nasi Goreng.
Di cabang terbaru ini, pengunjung bisa menemukan menu dengan harga ramah di kantong seperti : Menu Spesial : Ayam Iris Crispy, Chicken Katsu, Chicken Teriyaki (Rp15.000–Rp30.000), Menu Tradisional: Ayam Kremes Langkuas, Nasi Goreng (Rp7.000–Rp25.000), Menu Pasta: Spaghetti, Ramen, Indomie Spesial (Rp15.000–Rp25.000), Camilan: Brulee Bomb Mozzarella, Mpek-Mpek Palembang, Dimsum (Rp12.000–Rp20.000) dan Minuman: Thai Tea, Taro Latte, Lychee Tea, Pink Lava (Rp5.000–Rp18.000).
“Favorit konsumen tetap Chicken Katsu, Chicken Teriyaki, dan Brulee Bomb Mozzarella, itu menu yang selalu laris di setiap cabang”, tutur Tia Veres.
Meski sibuk mengurus cabang kuliner, Tia Veres tidak meninggalkan panggung musik, tahun ini Tia tengah menyiapkan single baru lengkap dengan video klip, yang masih ia rahasiakan judulnya.
“Sahabat Tia Veres tungguin ya, kali ini video klipnya seru banget. Nanti kalau sudah tayang di YouTube, jangan lupa ditonton sampai selesai”, ujarnya bersemangat.
Membuka cabang di PGC bukan keputusan kecil. Tia Veres mengaku menggelontorkan modal di atas 100 juta untuk outlet keempat ini. Meski begitu, ia masih ingin fokus mengembangkan empat cabang yang ada sebelum membuka cabang kelima.
“Kalau nanti berkembang bagus seperti di Kalibata City, saya pasti lanjut buka cabang kelima. Tapi untuk saat ini, fokus dulu di empat cabang ini”, kata Tia Veres menutup percakapan.
Lewat usaha kulinernya ini, Tia Veres membuktikan dirinya bisa hadir di dua panggung sekaligus, dapur kuliner yang ramai pengunjung, dan panggung musik yang selalu dinanti penggemarnya.
iMusic.id – Menjelang peringatan Hari Musik Nasional yang jatuh pada 9 Maret, sejumlah pelaku industri musik lintas generasi berkumpul dalam forum diskusi bertajuk “Beda Masa Satu Rasa” di CC Cafe at Nancy’s Place, Kamis (5/3).
Forum ini menghadirkan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha sebagai keynote speaker bersama musisi dan produser Harry Koko Santoso.
Acara tersebut menjadi ruang diskusi hangat bagi para musisi, produser, hingga pegiat industri kreatif untuk membahas dinamika industri musik Indonesia yang terus berubah seiring perkembangan teknologi digital.
Musisi Sekarang Harus Jadi Brand
Dalam paparannya, Giring Ganesha menyoroti perubahan besar dalam industri musik saat ini. Menurutnya, musisi tidak lagi hanya fokus menciptakan lagu, tetapi juga harus memahami strategi promosi hingga bisnis musik.
“Sekarang musik tidak hanya bicara siapa penciptanya atau siapa penyanyinya. Artis atau band harus memahami banyak hal, mulai dari bisnis musik, storytelling karya, sampai memaksimalkan media sosial,” ujar Giring Ganesha di acara Diskusi “Beda Masa Satu Rasa” di CC Cafe at Nancy’s Place, Kamis (5/3).
Ia juga menegaskan bahwa musisi masa kini harus mampu membangun identitas sebagai sebuah merek.
“Musisi juga harus bisa mengelola brand-nya sendiri, mempromosikan karya, bahkan menjual merchandise,” tambahnya.
Musik Daerah Justru Meledak di Era Digital
Menariknya, Giring juga menyoroti fenomena musik daerah yang justru semakin populer di berbagai platform digital.
Menurutnya, banyak lagu berbahasa daerah yang kini mampu meraih puluhan hingga ratusan juta penonton.
“Di era sekarang musik berbahasa daerah memiliki peminat yang sangat besar. Banyak karya dari berbagai daerah yang jumlah penontonnya mencapai ratusan juta,” kata Giring.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keberagaman budaya Indonesia bisa menjadi kekuatan besar di industri musik global.
Banyak Musisi Senior Ikut Diskusi
Forum diskusi ini juga dihadiri sejumlah tokoh industri musik, di antaranya Connie Constantia, Tony TSA, Oleg Sanchabakhtiar, Gideon Momongan, Firdaus Fadlil, Jimmy Turangan, Liza Maria, dan Erby Dwitoro.
Komposer dan konduktor ternama Addie MS juga terlihat hadir dalam diskusi tersebut.
Acara yang dimoderatori oleh Lodewyk Ticoalu ini semakin meriah dengan penampilan musik dari Connie Constantia.
Sekaligus Perkenalkan Komunitas Musik Baru
Forum ini juga menjadi momen perkenalan komunitas Cita Svara Indonesia (CSI) kepada publik.
Organisasi ini didirikan oleh Harry Koko Santoso, Peter F. Momor, dan Connie Constantia yang telah lama berkecimpung di dunia musik sejak era 1980–1990-an.
CSI hadir sebagai wadah kolaborasi bagi para pelaku industri musik untuk memperkuat ekosistem musik nasional sekaligus menjaga identitas budaya Indonesia.
Forum “Beda Masa Satu Rasa” ini diharapkan bisa menjadi ruang dialog penting bagi generasi lama dan baru untuk saling berbagi pengalaman serta melahirkan ide segar demi kemajuan industri musik Tanah Air menjelang Hari Musik Nasional. (EH)
iMusic.id – Kabar Duka datang dari dunia musik tanah air, Lucky Widja salah satu Vokalis Element Meninggal dunia pada Minggu malam (25/1) di Rumah Sakit Halim.
Sahabat yang sekaligus menjadi partner bernyanyinya, Ferdy Tahier mengungkap rasa duka yang mendalam.
“Selamat jalan sahabat gw, ade gw, partner gw di panggung, lo udah tenang, gak sakit lagi, ga butuh cuci darah lagi, gak perlu oxygen lagi,” tulis Ferdy Tahier dalam postingan di Instagram pribadinya @ferdy_tahier, Minggu (25/1).
“Lo happy sekarang udah muda lagi, tenang di sana ya ki. Gw sendirian di panggung nyanyinya sekarang. Semoga gw bisa ya nyanyi sendiri. Semoga lo husnul khatimah. Sampai ketemu lagi kita ya brader,” lanjut dia.
Rencananya, jenazah Lucky Widja akan dimakamkan di TPU Jeruk Purut pada Senin 26 Januari 2026 siang.
Lucky Widjatmoko atau Lucky Element adalah aktor, penyanyi, penulis lagu, dan produser musik Indonesia. Ia merupakan personel dari grup musik Element. Lucky meninggal pada 25 Januari 2026 dalam usia 49 tahun. Selamat Jalan Lucky..
iMusic.id – Band Base Jam berkolaborasi dengan penulis Ramzy Has, meluncurkan buku biografi berjudul “Dari Band Sepele Hingga Tiga Dekade” pada 15 Januari 2026, bertepatan dengan hari ulang tahun band ke-32 tahun.
Buku ini ber-isi-kan cerita pasang surut perjalanan band dari awal terbentuk di 1994, hingga mampu terus eksis hingga kini. Base Jam sendiri pada era 90an mengalami masa keemasan dengan melahirkan banyak lagu popular seperti “Bermimpi”, “Jatuh Cinta”, “Takkan Berpaling Cinta”, dan tentu saja lagu evergreen “Bukan Pujangga”.
Di usianya 32 tahun saat ini, Base Jam masih terus eksis dan berkarya dengan formasi terakhir Sita Citrasari (Bass), Sigit Wardana (Vokal), Oni Fathoni (Gitar), Alvin Kurniawan (Vokal), dan Jeane Phialsa (Drum).
Cerita di buku biografi ini tak hanya dari sudut pandang para member saat ini, namun juga dari para personil yang pernah bergabung dan para profesional yang pernah berkolaborasi dengan Base Jam seperti mantan vokalis Adon (mantan vokalis), Anya (mantan pemain keyboard), Indrawati Widjaja (Musica Studios, label rekaman Base Jam di era 90an), hingga Dody Is (pemain bas Kahitna yang pernah menjadi music director beberapa album Base Jam).
Dalam bab-bab awal buku ini misalnya, Anya mengungkapkan bahwa pada awalnya ia menolak ajakan Aris (mantan gitaris) untuk membuat lirik yang Anya tulis di buku catatan pribadinya menjadi sebuah lagu. “Ah, gak mau! Gue gak pede (percaya diri)!“ kenang Anya.
Lirik yang dimaksud adalah kumpulan kata dari lagu “Bermimpi”, lagu yang pada cerita perjalanan Base Jam selanjutnya, menjadi lagu perdana yang mempopulerkan Base Jam kepada publik Tanah Air.
Sementara Sigit mengenang betapa terkejutnya dia untuk pertama kalinya mendengar lagu “Bermimpi” yang menjadi single pertama band, diputar di radio. Saat itu ia masih setengah tertidur, dan samar-samar mendengar lagu ini di radio yang berada tak jauh dari tempat tidurnya.
Sementara dalam bab “Base “Bukan Pujangga” Jam”, para personil saat itu, hingga Dody Is, saling melengkapi cerita tentang proses pembuatan lagu “Bukan Pujangga” yang ternyata diciptakan dalam keadaan kepepet, dan aransemen lagunya yang mengalami perdebatan.
Sita, pemain bass Base Jam yang setia menggawangi band ini dari lahir hingga kini mengatakan bahwa buku biografi merupakan salah satu bentuk legacy dari Base Jam. “Melihat ke belakang 32 tahun itu tidak sebentar. Banyak sekali cerita yang sudah dilalui dan semoga pembelajaran ini bisa diambil hikmahnya oleh banyak orang, dari berbagai latar belakang. Betapa perjalanan itu ada pasang surut, ada kompromi dan tentu ada keberhasilan”, ujar Sita.
Sementara Ramzy Has selaku penulis mengaku proses penulisan buku cukup menantang karena perlu mendapatkan cerita dengan banyak pihak untuk mendapatkan ragam perspektif sehingga isi buku bisa semakin kaya.
“Menulis buku ini perlu waktu dua tahun!” ungkapnya. Buku “Dari Band Sepele Hingga Tiga Dekade” sudah beredar dan dapat dibeli dengan mengunjungi link pembelian yang ada pada halaman profil akun Instagram @basejamofficial.